drh. Chaidir, MM | Liberalisme Malu-malu Kucing | Tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba saja neoliberalisme menjadi pembicaraan hangat dalam dua pekan terakhir ini, menakutkan layaknya flu babi, flu kuda, flu burung flu singapura, flu hongkong, dan entah flu apa lagi. Kita dibuat seperti pengidap paranoid stadium awal. Padahal hanya sedikit yang p
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Liberalisme Malu-malu Kucing

Oleh : drh.chaidir, MM

Tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba saja neoliberalisme menjadi pembicaraan hangat dalam dua pekan terakhir ini, menakutkan layaknya flu babi, flu kuda, flu burung flu singapura, flu hongkong, dan entah flu apa lagi. Kita dibuat seperti pengidap paranoid stadium awal. Padahal hanya sedikit yang paham apa sebenarnya filosofi neoliberalisme itu. Sebagian justru masuk dalam kelompok 'mereka tidak tahu kalau mereka tidak tahu.' Sebagian lainnya cuek bebek, pakai jurus Gus Dur, "gitu aja koq dipikirin."

Neoliberalisme, secara sederhana disebut liberalisme cara baru. Liberalisme itu sendiri dipahami sebagai suatu aliran ketatanegaraan dan ekonomi yang menghendaki demokrasi dan kebebasan pribadi untuk berusaha dan berniaga. Liberalisme juga disebut sebagai filsafat politik yang menekankan pada kebebasan dan kesetaraan kesempatan berusaha setiap individu. Dalam pandangan klasik, ketika paham liberal ini mulai berkembang di Eropa pada abad ke-18, liberalisme sebenarnya merupakan kritik dan bentuk ketidakpercayaan publik kepada kekuasaan Negara (distrust of state power). Namun semenjak 1930-an, berkembanglah pemikiran liberalisme modern, Negara boleh intervensi terhadap ekonomi terutama bila menyangkut isu sosial , hak asasi manusia dan pemerataan kesempatan berusaha.

Lantas apa masalahnya? Semenjak 1980-an ketika pemerintah melaksanakan paket kebijakan deregulasi dan debirokratisasi, ekonomi kita sesungguhnya sudah menganut mahzab liberalisme modern, kendati itu dilakukan dengan malu-malu kucing. Indikasinya semakin jelas ketika kemudian terjadi gelombang privatisasi berbagai usaha yang semula dikelola pemerintah karena dianggap menguasai hajat hidup orang banyak seperti perkereta-apian, listrik, minyak dan gas bumi, dan sebagainya. Berbagai subsidi dicabut dan persaingan dibiarkan terbuka.

Republik Rakyat Cina adalah contoh ekstrim betapa liberalisme ekonomi itu masuk secara sistemik ke dalam pembuluh darah perekonomiannya. Cina adalah sebuah negara komunis, tidak menganut paham demokrasi, tidak ada pemilu, tapi siapapun kini tahu ekonominya dikelola dengan sangat liberal. Hasilnya? Sebuah kemajuan spektakuler. Kota Shen Zen yang dibangun berdampingan dengan Hongkong misalnya, bahkan boleh disebut kejam, karena melarang adanya sepeda motor. Dengan semangat liberalisme modern, Cina membangun Shen Zen seperti Singapura dan membuat orang Jakarta merasa seperti di rumah sendiri karena nomor polisi mobilnya menggunakan huruf "B" seperti Jakarta.

Dulu, ketika Singapura menjadi sebuah negara maju dan modern, alasan pun dicari-cari, Singapura negara kecil, penduduknya hanya sekitar 4 juta jiwa. Tapi Indonesia? Kita berpenduduk 230 juta jiwa. Namun tesis itu dipatahkan Cina. Dengan penduduk satu milyar lebih, Cina bisa maju. Resepnya, biar pemerintahnya komunis, tapi ekonominya liberal. Tak peduli apa kata dunia.

Kampanye Pro-biz (Pro bisnis) yang didengung-dengungkan Riau dalam lima tahun terakhir ini, telah memberi peluang seluas-luasnya bagi tumbuhnya sektor swasta. Sebab hanya dengan cara itu lapangan pekerjaan tersedia. Tapi kita tetap memperhatikan isu sosial seperti kemiskinan dan ketertinggalan. Sesunguhnya Riau sudah masuk ke pusaran liberalisme modern. Tapi masih malu-malu kucing. Malu tapi mau dan perlu.

Seberapa liberal pun ekonomi kita, sila kelima Pancasila tetap tidak berubah. Konteksnya tetap, peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia dan tetap menyediakan ruang keadilan, apatah lagi sebagai bangsa pejuang. Istilah neoliberal hanya isapan jempol, tidak substantif. Yang diperlukan oleh bangsa Indonesia adalah pemerintah yang bersih dan pemimpin yang bijak bestari. SBY-Boediono, JK-Wiranto dan Mega-Prabowo, semua anak-anak bangsa yang memiliki kapasitas. Biarlah mereka maju di lintasan orbitnya sendiri dengan takdirnya masing-masing.

kolom - Riau Pos 25 Mei 2009
Tulisan ini sudah di baca 1269 kali
sejak tanggal 25-05-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat