drh. Chaidir, MM | Biduk Pasti Berlalu | BIDUK lalu kiambang bertaut. Pepatah Melayu ini sangat tepat menggambarkan suasana ikatan batin yang terbentuk antara orang-orang bersaudara kandung. Rasa persaudaraan lebih kuat dari biang perselisihan. Nilai-nilai ikatan persaudaraan dalam sanubari yang bersifat given itu bahkan digendong untuk ke
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Biduk Pasti Berlalu

Oleh : drh.chaidir, MM

BIDUK lalu kiambang bertaut. Pepatah Melayu ini sangat tepat menggambarkan suasana ikatan batin yang terbentuk antara orang-orang bersaudara kandung. Rasa persaudaraan lebih kuat dari biang perselisihan. Nilai-nilai ikatan persaudaraan dalam sanubari yang bersifat given itu bahkan digendong untuk kepentingan yang lebih luas menjadi hubungan persaudaraan dalam masyarakat pada umumnya.

Hubungan persaudaraan mengandung makna toleransi atau tenggang rasa, dan itu universal. Tidak hanya di timur, di barat pun toleransi tetap tumbuh dalam masyarakat, hanya saja barat seringkali membungkusnya dalam kemasan Hak Asasi Manusia. Sesama saudara atau anggota masyarakat tak boleh saling ganggu. Masing-masing punya privacy, sebuah wilayah pribadi yang tak boleh dimasuki orang lain. Seseorang dengan kesadaran sendiri akan berhenti bila langkahnya menyentuh wilayah orang lain. Tapi pemaknaan yang berlebihan terhadap hak asasi itu membentuk stigma lain, keluarga barat adalah keluarga kecil. Keluarga inti hanya terdiri dari orang tua dan anak. Anak-anak pun kalau sudah besar akan berkeluarga sendiri dan mereka akan mengurus rumah tangga mereka sendiri, tidak mau diganggu dan tidak pula mau mengganggu saudaranya yang lain. Masing-masing jalan sendiri. Barat memandang hubungan persaudaraan itu lebih lugas.

Beda dengan masyarakat Melayu atau masyarakat Timur pada umumnya. Di sini, hubungan kekerabatan antara sanak saudara tetap terpelihara cengan baik, kebersamaan dijaga. Maka ada pepatah, ke bukit sama mendaki ke lurah sama menurun, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Dalam masyarakat kita dikenal istilah keluarga besar, saudara sesusuan, saudara sesuku, saudara semarga, saudara sekampung, dan seterusnya. Hubungan persaudaraan itu lengkap dengan segala konsekuensi inheren, dan sayangnya tidak semuanya segi-segi positif terutama bila bersentuhan dengan tahta dan harta. Jangan heran, misalnya, saudara sekampung pun akan ikut menjadi camat, atau bupati atau walikota, atau bahkan gubernur, bila orang kampungnya menduduki posisi tersebut. Seorang pegawai rendahan pun merasa berkuasa bila orang kampungnya yang jadi pimpinan. Sang atasan pun memberi tempat istimewa bagi orang-orang sekampung. Tak ada tepuk sebelah tangan.

Mungkin karena itu Obama mempersingkat kunjungannya di Indonesia beberapa waktu lalu. Dia memang bilang kunjungan ke Indonesia, pulang kampung. Kebiasaan kita kalau sudah mengaku orang sekampung, lagu permintaannya banyak sekali. Minta dicarikan pekerjaan, minta dicarikan jodoh, minta tolong anak masuk sekolah, istri melahirkan, minta jabatan ini itu dan sebagainya. Maka sebelum lagu permintaan masuk, dan bikin pusing, Obama buruan cabut.

Ikatan hubungan hubungan persaudaraan yang kuat di tengah masyarakat kita dan sudah terbangun turun temurun, kini terus menerus diuji. Penyelenggaraan pemilukada di berbagai daerah seringkali menakutkan dan seakan hendak menggoyahkan sendi-sendi persaudaraan. Untunglah sampai sejauh ini pepatah biduk lalu kiambang bertaut masih hidup di tengah masyarakat kita yang berbilang kaum ini. Perselisihan atau pertengkaran hanyalah bersifat sementara. Inilah yang harus menjadi kesadaran bersama. Biduk yang membawa perselisihan pasti berlalu, dan kiambang kembali bertaut. Persaudaraan tak ada habisnya. Air dicincang putus tiada.

kolom - Riau Pos 9 Mei 2011
Tulisan ini sudah di baca 1504 kali
sejak tanggal 09-05-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat