Dialektika Ciri-ciri Pemimpin Ideal






chaidir

IDEALNYA, pemilihan umum kepala daerah adalah untuk mencari seorang pemimpin yang handal, yang memiliki strong leadership (kepemimpinan yang kuat), yang mampu menjadi nakhoda melayarkan kapalnya dalam topan dan badai.

Seperti apa pemimpin ideal itu? Banyak sekali buku kepemimpinan yang menguraikan ciri-ciri ideal seorang pemimpin. Lee Iacocca misalnya, menyebut seorang pemimpin harus memiliki "9K" (Keingintahuan; Kreatif; Komunikasi; Karakter; Keberanian; Keyakinan; Karisma; Kompeten; Kejernihan pikiran, akal sehat, logika). Lido Anthony "Lee" Iacocca (87) adalah seorang businessman Amerika yang terkenal. Dia sukses menyelamatkan Mustang, Ford dan Chrysler dari kebangkrutan.

Menurut Traits theory, ada 24 ciri-ciri ideal seorang pemimpin, antara lain misalnya, harus memiliki pengetahuan umum yang luas, memiliki sifat inkuisitif (ingin tahu/inovatif), memiliki kapasitas integrative, keterampilan berkomunikasi secara efektif, rasional dan objektivitas. Seorang pemimpin juga harus memiliki kemampuan menentukan skala prioritas dan menentukan mana yang urgent dan mana yang penting. Seorang pemimpin yang ideal juga harus mampu menjadi tauladan, keberanian, ketegasan, dan mampu menjadi pendengar yang baik. Mark Shead seakan menyimpulkan, puluhan ciri-ciri tersebut bisa dimasukkan dalam lima ciri penting kepemimpinan, yaitu honest (kejujuran), inspiring (menyemangati), forward-looking (berpandangan jauh ke depan), competent (memiliki kemampuan) dan intelligent (cerdas).

Bila semua ciri-ciri tersebut ada pada diri seorang pemimpin, maka pemimpin tersebut barangkali hanya beda-beda tipis dengan malaikat. Oleh karena itu janganlah dengan pemilukada yang sarat dengan jurus akal-akalan dan money politics seperti yang sekarang kita saksikan, kita bermimpi menghasilkan seorang pemimpin yang memenuhi standar Traits theory itu. Tak penuh ke atas penuh ke bawah, jadilah. Tetapi beberapa kunci harus ada. Keteladanan, misalnya, terlihat dari apa yg dilakukan oleh seorang, bukan pada apa yg dikatakannya. Keteladanan antara lain berarti melakukan apa yg harus dilakukan dan tidak melakukan hal-hal yg tidak boleh dilakukan, baik karena keterikatan kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku maupun karena limitasi yang ditentukan oleh nilai-nilai moral, etika sosial.

Kriteria harus mampu menjadi pendengar yang baik bagi seorang pemimpin, ternyata bukan suatu pekerjaan yang mudah, karena pada kenyataannya banyak kepala daerah kita otoriter dalam mengendalikan lembaga yang dipimpinnya. Bertelinga tipis dan tak tahan menghadapi kritik. Di permukaan yang bersangkutan nampak demokratis, tetapi sebenarnya demokratis semu (pseudo democratic). Sang penguasa lebih suka berbicara daripada mendengar. Dalam situasi demikian, hampir dapat dipastikan kreativitas bawahan akan mati, demikian pula kreativitas masyarakatnya. Bila keadaan ini berlangsung lama, akan menimbulkan kerusakan sistemik bagi pola pikir masyarakat.

Bagaimana caranya menjadi pendengar yang baik? Prof Sondang P. Siagian memberi 10 langkah. Tapi cukuplah perhatikan langkah pertama dan yang kesepuluh saja: berhentilah bicara. Sila coba Tuan dan Puan.

kolom - Metro Riau 6 Mei 2011
Tulisan ini sudah di baca 3221 kali
sejak tanggal 06-05-2011