drh. Chaidir, MM | Ibarat Kepompong | DALAM suatu daur hidup, kepompong adalah stadium ketiga. Telur berubah menjadi ulat, ulat berubah bentuk menjadi kepompong dan kepompong berubah bentuk pula menjadi kupu-kupu atau serangga lainnya. Selama masa stadium kepompong, makhluk itu diam terbungkus dan tak bergerak.

Ketika ulat bulu mewab
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Ibarat Kepompong

Oleh : drh.chaidir, MM

DALAM suatu daur hidup, kepompong adalah stadium ketiga. Telur berubah menjadi ulat, ulat berubah bentuk menjadi kepompong dan kepompong berubah bentuk pula menjadi kupu-kupu atau serangga lainnya. Selama masa stadium kepompong, makhluk itu diam terbungkus dan tak bergerak.

Ketika ulat bulu mewabah di beberapa daerah di tanah air, kita memandangnya sebagai fenomena daur hidup alam yang biasa saja. Ada sekian banyak telur serangga yang menetas menjadi ulat dan kemudian berbulu, ulat bulu ini kemudian beramai-ramai bermetamorfosa menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu dan serangga. Lazimnya, sebagian besar dari ulat bulu itu dimangsa oleh predatornya seperti burung, kadal, cecak, laba-laba dan sebagainya. Sebagian kecil dari makhluk hidup tersebut lolos dari ancaman predator untuk kemudian berkembang melanjutkan daur kehidupannya. Oleh karena itu kupu-kupu dan serangga tak pernah sungguh-sungguh punah. Tapi kali ini entah kenapa, predator itu seakan raib. Atau barangkali tak lagi bernafsu memangsa ulat bulu, sehingga ribuan telur serangga itu menetas menjadi ribuan ulat bulu?

Adakah isu Negara Islam Indonesia (NII) yang sekarang sedang menjadi topik super hangat itu ibarat kepompong? Artinya, isu Negara Islam itu tak pernah sungguh-sungguh mati atau punah. Isu itu hanya diam tak bergerak seperti kepompong yang kemudian siap mengalami metamorfosa menjadi kupu-kupu dan kemudian terbang melayang-layang. Atau seperti makhluk yang mengalami hibernasi selama musim salju; tidur panjang untuk kemudian bangkit kembali bila keadaan sudah memungkinkan, bila iklim sudah mulai bersahabat.

Barangkali ya, barangkali tidak. Namun banyak diantara kita yang memahami bahwa isu Negara Islam itu sama tuanya dengan republik ini. Negara Islam Indonesia (disingkat NII; juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI) telah dikenal sejak diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Gerakan politik ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru saja diproklamasikan kemerdekaannya sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinya disebutkan "Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam" (wikipedia.org).

Dalam konteks NKRI yang ber-Pancasila, ber-UUD 1945, dan ber-bhinneka tunggal ika, Gerakan Negara Islam Indonesia (NII) membuat cemas masyarakat karena gerakan politik tersebut sangat berpotensi menimbulkan instabilitas politik. Instabilitas politik, langsung atau tidak langsung akan mengganggu pula sisi kehidupan yang lain. Rasanya kita sudah lama menghanyutkan perdebatan ideologi politik seperti di awal-awal orde baru dulu; agenda pembangunan peradaban bangsa ini ke depan sebenarnya lebih mendesak untuk kita pikirkan bersama. Yang perlu dicari akar masalahnya, kenapa kepompong itu tak terkondisikan saja untuk diam tak bergerak atau hibernasi panjang?

Kita merindukan kekuasaan Negara untuk hadir secara tegas terhadap isu NII ini, dan isu-isu agenda tersembunyi lainnya tanpa perlu ada kekhawatiran yang berlebihan. Namun kekuasaan negara yang digunakan hendaknya bukan kekuasaan yang menakutkan seperti sosok Leviathan karya filsuf Inggeris, Thomas Hobbes itu.

kolom - Riau Pos 2 Mei 2011
Tulisan ini sudah di baca 1582 kali
sejak tanggal 02-05-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat