drh. Chaidir, MM | Pekanbaru Poco Poco | SIAPAPUN yang mencintai Kota Pekanbaru, pasti menginginkan kota ini maju dengan peradaban modern. Tak ada yang menginginkan Kota Bertuah ini hanya berputar-putar di sekitar itu saja, maju mundur seperti tari poco-poco (mengelaborasi pernyataan Megawati Soekarnoputeri): maju satu langkah mundur lagi
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pekanbaru Poco Poco

Oleh : drh.chaidir, MM

SIAPAPUN yang mencintai Kota Pekanbaru, pasti menginginkan kota ini maju dengan peradaban modern. Tak ada yang menginginkan Kota Bertuah ini hanya berputar-putar di sekitar itu saja, maju mundur seperti tari poco-poco (mengelaborasi pernyataan Megawati Soekarnoputeri): maju satu langkah mundur lagi satu langkah. Setiap ganti pemimpin kita kembali ke kilometer nol.

Pekanbaru adalah ibukota Provinsi Riau. Dengan demikian Pekanbaru menjadi barometer bagi kota-kota lain di Riau yang sekarang sedang tumbuh dan berkembang dengan pesat. Pekanbaru juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, dan menjadi muara bagi kawasan hinterland (kawasan pedalaman). Pekanbaru juga menjadi pusat pendidikan dalam skema pengembangan sumber daya manusia, dan menjadi rujukan bagi pelayanan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam skema supply and demand misalnya, Pekanbaru bahkan menjadi target pemasaran sayur mayur dari kawasan Provinsi Sumatera Barat. Pekanbaru terlalu besar sebagai pasar potensial untuk diabaikan oleh daerah produsen di kawasan Bukittinggi dan sekitarnya.

Pekanbaru juga menjadi terminal internasional. Provinsi Riau adalah sebuah provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan juga Singapura. Intensitas hubungan antara Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi dengan kedua wilayah negara maju tersebut cukup tinggi, baik melalui udara maupun melalui laut. Setiap hari ratusan penumpang berangkat dari bandar udara internasional Sultan Syarim Kasim II, Pekanbaru ke bandar udara Batu Berendam, Melaka, dan sebaliknya. Demikian juga ke Singapura. Bahkan juga ada penerbangan reguler langsung Pekanbaru - Kuala Lumpur. Dengan jarak terbang hanya 35 menit, rute ini jelas jauh lebih murah dan mudah daripada Pekanbaru - Jakarta yang memakan waktu satu jam dan 25 menit. Oleh karena itu, di musim libur sekolah, ramai sekali guru-guru membawa anak didiknya berdarmawisata ke Malaysia dan Singapura.

Kuala Lumpur, Melaka, dan Singapura, dengan kemajuan dan pembangunan yang luar biasa, menawarkan kehidupan modern dan gemerlapan, surga bagi para "window shoppers" yang berasal dari jirannya. Fasilitas dan pelayanan pengobatan yang ditawarkan beberapa rumah sakit di Melaka dan Kuala Lumpur, juga menjadi magnit tersendiri. Istilah "wisata berobat" populer di Riau dan di Pekanbaru khususnya, kendati beberapa rumah sakit swasta yang berkualitas sudah hadir di Pekanbaru.

Wisata sungai dan wisata air bila dikemas secara atraktif dan kompetitif bisa memiliki daya tarik bagi Pekanbaru. Istana Kerajaan Melayu di Siak Sri Indrapura, candi Muaratakus, bendungan PLTA Kotopanjang, misalnya, memang bukan berada di Kota Pekanbaru, tetapi bisa dikemas dari Pekanbaru, sehingga obyek-obyek wisata tersebut merupakan bagian dari skema pariwisata Pekanbaru.

Kita tentu tidak ingin memoto kopi Kuala Lumpur, Singapura atau Melaka. Kita ingin Pekanbaru tumbuh menjadi dirinya sendiri dan menjadi simbol kemajuan peradaban bagi kawasan hinterland. Tapi idealnya, demikianlah peran Pekanbaru di era otonomi daerah dewasa ini. Pekanbaru bukan lagi sebuah kota besar yang berwajah desa, tetapi sebuah kota metroploitan. Walikotanya harus merangkul bahu warga, menggandeng tangan warganya mengajak berpartisipasi.

Pekanbaru harus mampu memberikan contoh program pembangunan infrastruktur yang berkualitas dengan standar kelas satu. Sebab hanya dengan demikian masyarakat akan bisa menikmati nilai tambah peningkatan asetnya dan akan memiliki nilai bila dikonversi secara ekonomi. Aset masyarakat yang memiliki nilai tinggi akan menjadi bankable. Adipura perlu sebagai penghargaan atas jerih payah pemerintah dan warga dalam menjaga kebersihan kota, tetapi peningkatan nilai aset masyarakat juga diperlukan. Hal ini kadang-kadang kurang menjadi sebuah kesadaran.

Dalam konteks peningkatan asset value, kota ini perlu dibangun secara terencana dengan melibatkan konsultan terpercaya. Konsultan yang terpercaya akan mampu memandang secara obyektif kekuatan potensi yang dimiliki untuk mengakomodasi kebutuhan baik itu kebutuhan untuk pertumbuhan ekonomi maupun kebutuhan yang menyentuh sisi-sisi kerakyatan. Hanya dengan visi perencanaan dan pembangunan yang baik kota ini akan tumbuh menjadi sebuah kota yang menjanjikan.

Sebenarnya, tidak berlebihan, itulah agaknya harapan (expactation) publik dari visi misi dan program pokok para kandidat Walikota Pekanbaru yang disampaikan kemaren pagi dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Pekanbaru. Sayang, kedua pasang kandidat terperangkap dalam detail program pragmatis dengan bahasa-bahasa normatif sehingga kurang fokus. Tapi kita harus memilih satu diantara mereka. Siapapun.

kolom - Riau Times 2 Mei 2011
Tulisan ini sudah di baca 1512 kali
sejak tanggal 02-05-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat