drh. Chaidir, MM | Festival Trotoar  | NAMANYA aneh, Festival Trotoar. Tapi festival itu memang diselenggarakan di atas trotoar Jalan Ahmad Yani, Pekanbaru, pada tanggal 22 - 24 April kemaren. Sekelompok anak muda kreatif, menggagas festival tersebut. Kedengarannya seperti sebuah acara main-main dan tidak serius.

Tapi tema yang diusun
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Festival Trotoar

Oleh : drh.chaidir, MM

NAMANYA aneh, Festival Trotoar. Tapi festival itu memang diselenggarakan di atas trotoar Jalan Ahmad Yani, Pekanbaru, pada tanggal 22 - 24 April kemaren. Sekelompok anak muda kreatif, menggagas festival tersebut. Kedengarannya seperti sebuah acara main-main dan tidak serius.

Tapi tema yang diusung sesungguhnya tidak main-main: Satu Hati Untuk Bumi. Diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Bumi ke-41 yang jatuh pada tanggal 22 April. Di berbagai belahan tanah air bahkan di belahan lain planet bumi ini, Hari Bumi diperingati dengan berbagai macam aksi. Ada yang sekadar membersihkan lingkungan, ada yang menyelenggarakan aksi teaterikal, dan ada pula yang mendemonstrasikan daur ulang sampah, atau bahkan menggelar unjuk rasa.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar, melakukan aksi teaterikal dengan membuat bola bumi. Bola itu lalu diarak sejauh satu kilometer, dan kemudian dihancurkan di laut. Itu sebagai tanda bumi dihancurkan karena ulah manusia. Komunitas Mahasiswa Pinggiran Makassar menggelar aksi nyata membersihkan sampah yang berada di bibir Pantai Losari. Di Banyuwangi, sejumlah anak muda pecinta alam menggelar peragaan busana yang terbuat dari sampah yang di-daur ulang (metrotvnews.com).

Di Pekanbaru, Riau, diadakan Festival Trotoar, diisi dengan beberapa agenda dan diikuti berbagai komunitas masyarakat, seperti komunitas sepeda ontel, komunitas pelukis, dan komunitas kreatif lainnya yang peduli terhadap pelestarian lingkungan. Anak-anak dan pelajar diajak untuk adu kreativitas melukis tong sampah drum-drum kecil yang disumbangkan warga. Di samping itu juga ada orasi tentang penyelamatan planet bumi. Festival Trotoar tersebut memang jauh dari kesan glamor sebagaimana layaknya sebuah festival yang sering diadakan, bahkan luput dari perhatian pemerintah. Festival itu memang dikemas dalam format sederhana dan bersahaja. Namun tetap mencuri perhatian masyarakat yang lalu-lalang di Jalan Ahmad Yani.

Bumi kita hanya satu, belum ada planet lain seperti bumi, mau pindah kenana? Dalam perspektif geologis, planet bumi kita ini sudah berumur 4,5 milyar tahun, sudah sangat renta, tetapi anehnya semakin tua planet ini semakin seksi, sehingga tak henti-hentinya digerayangi oleh manusia dengan ilmu dan teknologi yang dikuasainya.

"...Manusia itu lebih harimau daripada harimau yang sebenarnya; karena ímanusia harimauí tak puas memakan daging saja, melainkan juga hasil tumbuh-tumbuhan, ya buah, daun, bunga, kayu, minyak, logam, plastik, semen, beton dan lain-lain lagi. Untuk memenuhi kebutuhan lima milyar ímanusia harimauí itu, betapa banyak makhluk bumi yang harus diburu, ditembak, dijerat, dijaring, dipancing, dibabat, digergaji. Perut bumi pun dibor dan diledakkan. Dan pengotorannya tidak tanggung-tanggung mencemari tanah, sungai, laut, udara bahkan menyebabkan hujan asam, merusak lapisan ozon di udara dan meningkatkan suhu bumi (Harian KOMPAS, 29 April 1990).

Rasanya manusia harus berlaku lebih bersahabat dan santun terhadap bumi. Tanamlah pohon, hemat listrik, kurangi limbah, jangan buang sampah sembarangan, terutama sampah plastik. Ditunggu Festival Trotoar tahun depan, walau tak dapat bantuan.

kolom - Riau Pos 25 April 2011
Tulisan ini sudah di baca 1392 kali
sejak tanggal 25-04-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat