drh. Chaidir, MM | Debat Kusir | KONON pada suatu hari, Menteri Penerangan Harmoko (seorang Menteri pada masa Orde Baru yang sangat loyal kepada Presiden Soeharto), melakukan perjalanan dengan menggunakan delman. Tanpa direncanakan, Harmoko terlibat perdebatan dengan kusir delman.

Perdebatan berawal ketika Harmoko mendengar sepe
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Debat Kusir

Oleh : drh.chaidir, MM

KONON pada suatu hari, Menteri Penerangan Harmoko (seorang Menteri pada masa Orde Baru yang sangat loyal kepada Presiden Soeharto), melakukan perjalanan dengan menggunakan delman. Tanpa direncanakan, Harmoko terlibat perdebatan dengan kusir delman.

Perdebatan berawal ketika Harmoko mendengar seperti ada suara gunung meletus dari arah depan dan kemudian mencium bau yang kurang sedap. "Maaf Pak Menteri, kudanya kentut!" ujar sang kusir merasa kurang enak. Pak Harmoko menimpali, "Kudanya masuk angin ya," Sang kusir membantah, "Bukan masuk angin pak, tapi keluar angin". Merasa didebat, Harmoko mencoba meyakinkan sang kusir, "Ya itu namanya masuk angin Pak!" Namun sang kusir tak mau kalah. Jangankan kalah, draw pun dia tak mau. "Paaak Pak, yang namanya kentut itu bukan memasukkan angin tapi mengeluarkan angin, jadi namanya keluar angin! Bapak ini gimana sich?" Tangkis sang kusir. Mendengar sang kusir yang lancang, Harmoko mengeluarkan jurus ampuhnya, "Menurut petunjuk bapak presiden,...kuda itu masuk angin!"

Sang Menteri dan kusir masing-masing tetap bersikukuh dengan pendiriannya, tak ada yang mau kalah apalagi mengalah. Konon, semenjak itulah segala macam debat yang tak bermutu atau tak jelas ujung pangkalnya disebut debat kusir. Versi lain, asal muasal debat kusir itu bermula ketika orang memperdebatkan mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur. Ada yang ngotot bilang telur lebih dulu ada, karena ayam berasal dari telur. Tapi mahzab lain menyebut, ayam betina dulu, karena telur berasal dari ayam betina. Kesimpulan sementara: telur tidak berasal dari ayam jantan.

Debat sebenarnya adalah adu pendapat antara dua orang atau lebih, bisa juga antar kelompok, dengan menggunakan logika dan seni berbahasa. Empat abad Sebelum Masehi, di zaman Yunani Kuno, ilmu bersilat lidah ini sudah dipelajari dan dikenal dengan retorika. Di zaman itu, untuk mendapatkan hak tanahnya kembali, pemilik tanah harus meyakinkan dewan juri di pengadilan. Sering terjadi, seseorang tidak berhasil memperoleh tanahnya kembali, hanya karena ia tak pandai bicara. Demosthenes dan Socrates adalah dua ahli retorika pada masa itu. Demosthenes mengembangkan retorika berbasis akting atau olah tubuh. Sementara Socrates berbasis keindahan bahasa.

Debat bersejarah yang selalu dikenang adalah debat televisi pertama Calon Presiden AS pada Senin 26 September 1960 antara Senator Partai Demokrat John F. Kennedy dan Wakil Presiden AS Richard M. Nixon dari Partai Republik. Dampak dari debat tersebut sangat besar, Nixon yang semula diunggulkan akhirnya dikalahkan oleh Kennedy. Banyak pengamat memuji, debat bersejarah tersebut telah mengubah lansekap politik Amerika Serikat ke arah yang lebih baik. Setengah abad kemudian Barack H. Obama (Partai Demokrat) dan John McCain (Partai Republik) seakan mengulangi kembali sejarah perdebatan Kennedy dan Nixon. Dan kita sudah tahu hasilnya.

Sebuah debat yang mampu menjawab beberapa pertanyaan dasar, apa (what), mengapa (why) dan bagaimana (how), tentulah bukan debat kusir. Sebuah debat yang kritis argumentatif merupakan cerminan kapasitas. Debat sekurang-kurangnya (diharapkan) diakhiri dengan sebuah delta, so what gitu lho...

kolom - Riau Pos 18 April 2011
Tulisan ini sudah di baca 1909 kali
sejak tanggal 18-04-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat