drh. Chaidir, MM | Cecak Kubin | Penyair Kahlil Gibran, punya cerita menarik. Suatu ketika, tulis Kahlil Gibran,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Cecak Kubin

Oleh : drh.chaidir, MM

Penyair Kahlil Gibran, punya cerita menarik. Suatu ketika, tulis Kahlil Gibran, "Kebaikan" dan "Keburukan" bertemu di tepi pantai. Keduanya sepakat berenang. Lalu mereka menanggalkan pakaian dan berenang bersama. Tak berapa lama, Keburukan selesai lebih cepat, dia ke pantai dan langsung memakai pakaian Kebaikan serta berlalu begitu saja. Beberapa saat kemudian, Kebaikan pun selesai berenang, Namun Kebaikan tak lagi menemukan pakaiannya. Karena malu bertelanjang bulat, Kebaikan terpaksa memakai pakaian Keburukan.

Akibatnya, hari ini kita tak lagi mudah, bahkan tak lagi mampu mengenali mereka satu persatu. Hanya ada beberapa orang yang mengenali Kebaikan walaupun ia memakai pakaian Keburukan. Tapi ada juga yang dapat mengenali Keburukan, karena pakaian yang ia pakai tak mampu menyembunyikan wajahnya yang asli.

Pernahkah Kahlil Gibran melihat atau mendengar sejenis satwa yang disebut cecak kubin alias Draco volans? Kendati terdengar keren, janganlah ambil nama latin cecak kubin ini untuk nama bayi. Khawatir kita sifatnya kelak seperti cecak kubin. Cecak kubin adalah sejenis cecak yang diam di pohon-pohon, pandai terbang - sesungguhnya hanya pandai melayang - antara satu pohon ke pohon lain. Cecak kubin sebenarnya adalah satwa lemah tapi pandai buang badan untuk menyelamatkan diri. Jurus penyelamatan diri ala cecak kubin adalah jurus bunglon. Dia melayang dari dahan ke dahan dan setiap kali hinggap warnanya berubah (mimikri) sesuai lingkungan; hinggap di pohon warnanya seperti pohon, hinggap di dedaunan, warnanya berubah hijau seperti dedaunan. Ini dilakukannya untuk menyelamatkan diri dari predator, seperti elang, ular dan sebagainya.

Deklarasi tiga pasang Capres-Cawapres 2009, menampakkan banyak karakter cecak kubin mulai dari Jakarta sampai ke daerah. Polarisasi pilpres 2009 ini luar biasa serunya. Polarisasi itu memunculkan banyak pesan aneh. Ada pemain dengan karakter tegar bak karang di tengah samudra, ada yang huyung bak tiang listrik kena gempa, ada yang tertiup angin kian kemari ibarat ilalang di tengah padang, ada yang terjungkal ibarat pohon diterjang banjir bandang. Permainan bertambah seru manakala tokoh beserta kelompoknya di Jakarta yang berada dalam pusaran arus polarisasi tersebut masing-masing memiliki gerbong di daerah.

Tarik-menarik kekuatan itu menimbulkan kegamangan dan kecemasan di daerah dan manifestasinya bermacam-macam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Jurus cari selamat tak terhindarkan melalui cara yang beraneka ragam mulai dari cara-cara yang elegan sampai kepada cara-cara yang memalukan seperti jurus cecak kubin. Jurus yang elegan misalnya, bagaimana dengan penuh kehati-hatian para pemain dan penggembira baik di pusat maupun di daerah menaruh telur tidak hanya dalam satu keranjang, sehingga, bila satu atau dua keranjang jatuh tidak semua telur pecah terbuang.

Keseluruhan sepak terjang para pemimpin kita dari A sampai Z ditonton oleh rakyat dan tidak ada yang bisa melarang rakyat agar tidak memberikan penilaian. Semuanya terhidang secara transparan. Rakyat kita yang tidak sekolah sekalipun tetap dibesarkan dalam selimut budaya lokal yang penuh kearifan.
Begitulah. Banyak yang mencoba jurus mimikri cecak kubin. Tapi percayalah kawan, penyamaran, betapa sempurna pun, cepat atau lambat akan tetap terbaca.

kolom - Riau Pos 18 Mei 2009
Tulisan ini sudah di baca 1757 kali
sejak tanggal 18-05-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat