drh. Chaidir, MM | Politik Ayam dan Telur | KETIKA Michael Sessions (18), pelajar Kelas I SMA, pada 21 November 2005 memenangkan pemilihan Walikota Hillsdale, Michigan, Amerika Serikat, mengalahkan walikota incumbent Doug Ingles (51) dengan hanya selisih dua suara, dia hanya menghabiskan dana 700 dolar atau sekitar Rp 7 juta (www.wikipedia.or
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Ayam dan Telur

Oleh : drh.chaidir, MM

KETIKA Michael Sessions (18), pelajar Kelas I SMA, pada 21 November 2005 memenangkan pemilihan Walikota Hillsdale, Michigan, Amerika Serikat, mengalahkan walikota incumbent Doug Ingles (51) dengan hanya selisih dua suara, dia hanya menghabiskan dana 700 dolar atau sekitar Rp 7 juta (www.wikipedia.org, melalui google.com).

Dana tersebut bukan diperoleh dari pengajuan proposal kepada orang tuanya, atau donasi dari sponsor, tetapi hasil dari keringatnya setelah bekerja paruh waktu selama musim panas tahun itu. Sessions kampanye door-to-door melalui selebaran sederhana dan murah yang dibuatnya sendiri. Selebaran itu dibaca oleh warga kota dan kemudian jatuh hati kepadanya. Untuk memenangkan pemilihan Walikota Hillsdale, Sessions tak perlu menghadirkan penyanyi idola remaja sejagad Justin Beiber, atau mengundang Rhoma Irama seperti trend dalam pemilukada di Riau.

Kita boleh percaya boleh tidak. Tapi informasi tentang Michael Sessions dengan mudah bisa diperoleh dari mesin pintar pencari data google. Ketik saja Michael Sessions, dalam tempo kurang dari satu detik, kita akan mendapatkan tidak kurang dari 152 juta hasil. Kemudian tinggal pilih informasi yang diperlukan sesuai kebutuhan.

Dibandingkan dengan pemilihan Walikota Pekanbaru yang sekarang sedang berproses, pengeluaran Sessions tak ada seujung rambut. Di Pekanbaru, bantuan sosial yang diberikan oleh kandidat yang duitnya tak berseri, untuk satu tempat ibadah saja jumlahnya jauh lebih besar, dan itu bertaburan dimana-mana. Kalau bantuan-bantuan itu dijumlah dengan biaya pembuatan baliho, iklan di media massa, pembuatan atribut, sumbangan sukarela kepada parpol pengusung, dana operasional tim sukses, bantuan posko, dana untuk saksi, dan sebagainya. Jumlahnya menjadi sangat besar. Rumor yang beredar di kedai-kedai kopi, ada kandidat yang sudah menyiapkan dana Rp 50 milyar untuk operasi serangan fajar. Dana itu tentulah dana yang berasal dari kekayaan pribadi, sebab sering ditegaskan oleh kubu yang bertanding, dana itu bukan berasal dari bantuan sosial yang tercantum dalam ABPD atau APBN. Anehnya ketika harta kekayaan sang calon diumumkan, seperti tidak ada tanda-tanda bahwa sang calon adalah orang yang kaya raya. Kemudian ada dalih, dana itu sumbangan donatur. Siapa gerangan donatur yang baik hati itu? Tak usah tanya kepada rumput yang bergoyang, kita tanya sajalah kepada auditor independen yang kredibel (telah teruji terpercaya).

Ketua MK, Mahfud MD secara tegas menyebutkan money politics dan pembohongan-pembohongan pemilukada langsung telah merusak moral masyarakat secara masif (www.bataviase.co.id). Entah siapa yang memulai. Para calonkah yang menghalalkan politik uang untuk meraih kemenangan dengan segala macam cara, ataukah masyarakat pemilih yang menjual suaranya? Agaknya inilah politik ayam dan telur, entah mana yang duluan. Politik seperti ini menghasilkan demokrasi dan jiwa yang sakit, calon menyandera pemilih dengan sumpah pegang kitab suci, pemilih menyandera calon dengan ancaman akan mengalihkan suara. Barangkali, perlu ada aturan tegas yang melarang kedua belah pihak saling menyandera. Wallahualam.

kolom - Metro Riau 15 April 2011
Tulisan ini sudah di baca 1506 kali
sejak tanggal 15-04-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat