drh. Chaidir, MM | Menang Tanpa Ngasorake | SUASANA pagi dan petang pada hari Kamis 7 April 2011 dua hari lalu, dirasakan sangat berbeda oleh pasangan calon yang ikut bertarung di pemilukada Kabupaten Kuansing, Rohil dan Siak. Di pagi harinya, semua pasangan calon optimis, tapi dalam hati sebenarnya harap-harap cemas. Di petang harinya, pasan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menang Tanpa Ngasorake

Oleh : drh.chaidir, MM

SUASANA pagi dan petang pada hari Kamis 7 April 2011 dua hari lalu, dirasakan sangat berbeda oleh pasangan calon yang ikut bertarung di pemilukada Kabupaten Kuansing, Rohil dan Siak. Di pagi harinya, semua pasangan calon optimis, tapi dalam hati sebenarnya harap-harap cemas. Di petang harinya, pasangan yang unggul dalam perolehan suara, bersorak gembira. Pasangan yang diungguli murung, tak percaya, tapi realita ada di depan mata, angka demi angka berbicara. Apa hendak dikata. Itulah pemilukada, siap kalah siap menang, katanya.

Kamis petang itu, perjuangan panjang para kandidat menampakkan sosoknya. Hanya ada satu pasang calon yang menang, yang lain jadi pecundang. Sepanjang catatan pemilukada di seluruh penjuru dunia, belum pernah hasilnya imbang. Pernah suatu ketika, persisnya 8 November 2005, pada pemilihan Walikota Hillsdale, Pennsylvania, Amerika Serikat, seorang calon "Anak Baru Gede", Michael Sessions (18 tahun, siswa kelas I SMA), bermodal hanya 700 dollar, mengalahkan incumbent, Doug Ingles (51) dengan hanya menang dua suara. Nyaris draw, perbedaannya amat sangat tipis, tapi pemilihan itu berlangsung tertib. Michael Sessions dinyatakan terpilih, mengucapkan sumpah dan memerintah kota kecil Hillsdale periode 2005-2009. Pukul 07.30-14.30 dia masuk kelas sebagai pelajar SMA. Pukul 14.30-18.00 dia ngantor sebagai Walikota.

Nun jauh dari Negeri Obama, di Negeri Lancang Kuning, Riau, sampai kemaren siang, pasangan Annas Maamun-Suyatno di Kabupaten Rohil melejit dengan perolehan suara 54,13 persen, meninggalkan jauh pasangan Herman Sani-Wahyudi 24,88 persen dan Asri Auzar-Yatiman 20,99 persen. Annas Maamun melenggang menghabisi kompetitornya sama seperi Real Madrid dan Barcelona yang melibas lawan-lawannya di Liga Champion. Di Siak, pasangan Syamsuar-Alfedri unggul signifikan dengan perolehan suara 37,57 persen. Kelihatannya akan sulit dikejar oleh pasangan Said M-Rusdaryanto (33,25 persen), pasangan OK Fauzi-T Muhazza (25,03 persen) dan pasangan Yulizar-Said Agus (4,19 persen).

Kejutan muncul dari Negeri Pacu Jalur, Kabupaten Kuansing, ketika pasangan Mursini-Gumpita yang dianggap underdog, memberikan perlawanan sengit terhadap pasangan Sukarmis-Zulkifli yang oleh banyak pengamat diprediksi akan menang mudah. Kenyataannya tidak demikian. Sampai kemaren siang, keduanya masih saling klaim menang (Metro Riau, 8/4/2011 halaman 1). Kita berdebar-debar menanti.

Kalah menang sebetulnya biasa. Itulah adat perlombaan. Masalahnya, deklarasi damai siap kalah siap menang, baru sebatas seremonial belaka dan hanya sekedar penghias bibir. Dalam realitanya, jauh panggang dari api. Kenapa? Karena pemilukada kita tersandera oleh praktik-praktik kecurangan, mafia dan jurus akal-akalan. Padahal bangsa kita memiliki idiom falsafah "menang tanpa ngasorake". Maknanya sangat dalam, menang tanpa mengalahkan atau mempermalukan. Kita yang punya falsafah, Amerika Serikat yang menerapkannya. Please!

kolom - Metro Riau 8 April 2011
Tulisan ini sudah di baca 1361 kali
sejak tanggal 08-04-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat