drh. Chaidir, MM | Dirintang Siamang Berbuai | SETAHUN lalu, tepatnya 21 Juli 2010, Gubernur RZ melakukan pertemuan dengan Forum Legislator Riau (FLR), tempatnya di Hotel Peninsula, Jakarta. Agendanya, menemukan solusi bagaimana merebut dana APBN untuk Riau. Tiga hari lalu, tepatnya hari Jumat 1 April 2011, Gubernur RZ kembali menggelar pertemua
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Dirintang Siamang Berbuai

Oleh : drh.chaidir, MM

SETAHUN lalu, tepatnya 21 Juli 2010, Gubernur RZ melakukan pertemuan dengan Forum Legislator Riau (FLR), tempatnya di Hotel Peninsula, Jakarta. Agendanya, menemukan solusi bagaimana merebut dana APBN untuk Riau. Tiga hari lalu, tepatnya hari Jumat 1 April 2011, Gubernur RZ kembali menggelar pertemuan di tempat yang sama, dengan agenda yang sama, tapi forumnya beda.

Kali ini forum itu bernama Forum Parlemen Riau (FPR). Sebenarnya, hanya jaketnya saja yang beda, badannya itu-itu juga. Artinya, FLR anggotanya adalah Anggota DPR dan DPD asal Riau, FPR anggotanya juga Anggota DPR dan DPD asal Riau. Hanya saja, yang disebut terakhir, pengurusnya merupakan presidium yang terdiri atas dua orang utusan DPR, satu orang utusan DPD, dua orang utusan DPRD Riau dan masing-masing satu orang dari DPRD Kabupaten/Kota. Jadi keanggotaan FPR lebih melebar daripada FLR.

Yang menarik, baik dalam pertemuan tahun lalu, maupun dalam pertemuan tahun ini, Gubernur RZ selalu kecewa. Masalahnya, tingkat kehadiran anggota parlemen (DPR) asal Riau dinilai sangat minim. Tahun lalu misalnya, dari 11 Anggota DPR, hanya dua orang yang hadir, yakni Andi Rahman (Fraksi Partai Golkar), Sutan Sukarnotomo (Fraksi Partai Demokrat). Dalam pertemuan tiga hari lalu, yang hadir tiga orang yakni, Lukman Edi (Fraksi PKB), Ian Siagian (Fraksi PDIP) dan Adi Sukemi Fraksi Partai Golkar). Dari Dewan Perwakilan Daerah, empat orang Anggota, hadir lengkap.

Riau setiap tahun memang selalu menghadapi masalah dalam hal perolehan alokasi dana APBN. Tidak sebagaimana diharapkan. Tahun 2008 Riau memperoleh DIPA Rp 5,7 triliun, tahun 2009 Rp 6,7 triliun, tahun 2010 Rp 6,2 triliun, tahun 2011 malah turun menjadi Rp 4,2 triliun (riaunews.com). Ironisnya, provinsi tetangga kita, Sumatera Barat, pada 2008 memperoleh DIPA Rp 12 triliun, 2009 Rp 12,9 triliun, 2010 Rp 13,4 triliun dan pada 2011 melejit menjadi Rp 16,4 triliun (padangmedia.com).

Tentu tak ada perasaan iri dengki, ini semata-mata hanya masalah pilihan strategi dan barangkali masalah pencitraan. Riau agaknya bak ibarat pepatah, selalu "dirintang siamang berbuai", asyik menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang relevan secara langsung dengan kebutuhan mendasar rakyat, sementara APBN itu harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Mungkin beda persepsi.

Kita agaknya perlu bicara dari hati ke hati dengan Anggota DPR kita dengan membuang ego yang berlebihan. Kita perlu membangun rasa saling percaya (trust). Dengan demikian secara bersama-sama kita bisa menyiasati akar permasalahannya. Pembentukan FPR akan memberi kesan tandingan bagi forum sejenis yang sudah ada, sehingga justru akan menimbulkan masalah pada cohesiveness kita. Apalagi kemudian FPR akan melakukan serangkaian rapat-rapat untuk membahas Tata tertib, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, sementara waktu berjalan terus.

Seperti ujian multuiple choice, kepemimpinan sering dihadapkan pada banyak pilihan jawaban yang benar, tetapi ada satu yang paling sesuai dengan soalnya. Hanya masalah pilihan.

kolom - Riau Pos 4 April 2011
Tulisan ini sudah di baca 1469 kali
sejak tanggal 04-04-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat