drh. Chaidir, MM | Roda Pedati | HIDUP ini kata orang, seperti roda pedati. Senantiasa berputar, tempo-tempo berada di atas tempo-tempo di bawah. Skenario kehidupan tak selamanya sebuah perjalanan dari bukan siapa-siapa menjadi siapa, tetapi juga dari siapa menjadi bukan siapa-siapa. Semula somebody, tapi kemudian, demikian saja be
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Roda Pedati

Oleh : drh.chaidir, MM

HIDUP ini kata orang, seperti roda pedati. Senantiasa berputar, tempo-tempo berada di atas tempo-tempo di bawah. Skenario kehidupan tak selamanya sebuah perjalanan dari bukan siapa-siapa menjadi siapa, tetapi juga dari siapa menjadi bukan siapa-siapa. Semula somebody, tapi kemudian, demikian saja berubah menjadi nobody.

"Life is a roller coaster, kata Ronan Keating. "From Zero to Hero" dan "from Hero to Zero again". Hidup itu seperti sebuah roller coaster, berputar kencang sekali. Dari orang biasa menjadi pahlawan dan dari pahlawan menjadi orang biasa kembali. Biasa-biasa saja. Kenapa demikian? Karena hari-hari akan terus berputar. Dunia ini diciptakan sebagai tempat bertemunya dua hal yang berlawanan. Sudah menjadi kodrat alam. Ada langit ada bumi, ada siang ada malam, ada kebaikan ada keburukan, ada kebahagiaan ada kesedihan.

Masih segar dalam ingatan kita, betapa kita bisa merasakan aroma kebahagiaan saat Syamsul Arifin terpilih sebagai Gubernur Sumatera Utara. Walaupun tak ada hubungan sanak famili dan kenal mengenal, kita ikut terharu gembira menyambut selebrasi Symasul Arifin. Dengan kebanggaan seorang anak laki-laki, dia memberitakan kepada ibundanya tentang kemenangannya itu. Syamsul Arifin dijulang bak pahlawan. Kasus Syamsul Arifin agaknya adalah contoh ekstrim from zero to hero dan from hero to zero again. Dia menjadi seorang gubernur yang fenomenal, dengan sikapnya yang bersahaja dan jenaka selalu mampu memeriahkan suasana, bahkan mampu membuat Presiden SBY ketawa terpingkal-pingkal. Kedekatannya secara pribadi dengan Presiden SBY membuat Gubernur Syamsul Arifin, dengan tidak bermaksud merendahkan, konon satu-satunya gubernur yang berani panggil Boss pada Presiden. Dan Presiden SBY konon pula tak keberatan atas kebersahajaan Syamsul Arifin. Namun siapa sangka, dalam waktu yang tak terlalu lama sang hero harus melepaskan jabatannya karena tersandung masalah hukum. Dia ibarat kembali ke titik nol.

Dari pahlawan kembali ke titik nol, tak hanya dialami Syamsul Arifin. Jumat (25/3) beberapa hari lalu, Bupati Siak, Arwin AS yang sedang menjabat, juga berada dalam skenario from hero to zero itu. Seorang tokoh yang dihormati oleh masyarakatnya, terpaksa harus berurusan dengan proses hukum. Paradigma otonomi daerah yang memberikan kekuasaan besar kepada penguasa di daerah telah memangsa anak-anak negeri, satu persatu.

Iktibar. Pelajaran. Itulah yang tercecer dari musibah tersebut. Mengelola kekuasaan rupanya tidak sederhana. Manfaat dan mudarat dari sebuah kekuasaan hanya dipisahkan sehelai rambut dibelah tujuh.

Kita tentu menghormati proses hukum. Fiat iustitia et ruat coelum (Keadilan harus ditegakkan meskipun langit harus runtuh). Sesungguhnya kita semua sepantun bak roda pedati. Seorang intelektual Arab, Aid al-Qarni menulis dalam La Tahzan, telusurilah, di setiap rumah pasti ada orang yang merintih, dan setiap pipi pasti pernah basah oleh air mata. Betapa banyak penderitaan, dan betapa banyak orang-orang yang sabar menghadapinya. Selama dunia terbentang roda pedati akan setia berputar. La Tahzan.

kolom - Riau Pos 28 Maret 2011
Tulisan ini sudah di baca 1511 kali
sejak tanggal 28-03-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat