drh. Chaidir, MM | PSSI (Partai Sepakbola Seluruh Indonesia) | HAMPIR sempurna kriteria bahwa PSSI sebenarnya adalah sebuah partai politik. Ada wadah yang terorganisir, ada anggota yang memiliki kesamaan tujuan dan militansi karena memperoleh manfaat material dari perkumpulannya. Ada pula pemimpin yang ngotot merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Para pengur
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

PSSI (Partai Sepakbola Seluruh Indonesia)

Oleh : drh.chaidir, MM

HAMPIR sempurna kriteria bahwa PSSI sebenarnya adalah sebuah partai politik. Ada wadah yang terorganisir, ada anggota yang memiliki kesamaan tujuan dan militansi karena memperoleh manfaat material dari perkumpulannya. Ada pula pemimpin yang ngotot merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Para pengurusnya memiliki mentalitas partai, bukan karena sebagian pengurus PSSI memang merangkap sebagai pengurus partai politik, tetapi karena stigma perilaku politik sudah mendarah daging. Mereka sangat menikmati apa yang disebut Harold Laswell bahwa politik itu menyangkut, who gets what, when and how. Siapa mendapatkan apa, bila dan bagaimana. Atau seperti definisi Hoogerwerf, politik adalah pertarungan kekuasaan.

Simaklah pula pengertian parpol menurut Carl J. Friedrich, bahwa partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan pimpinan partainya terhadap pemerintahan dan berdasarkan penguasaan ini, memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil serta materiil.

Kalau pun ada persyaratan lain yang belum dipenuhi adalah PSSI, itu adalah, belum pernah mengikuti pemilihan umum, sehingga kekuasaan politik yang kini digenggam erat, belum memperoleh legitimasi konstitusional. Tapi bagi PSSI itu kaji menurun. Statuta FIFA saja bisa dipelintir. Lihatlah pasal 35 ayat (4) statuta FIFA: The members of the executive committees must not found guilty of criminal offence. Terjemahan wajarnya menurut Djoko Susilo, Dubes Berkuasa Penuh RI di Swiss, Anggota Komite Eksekutif harus tak pernah terbukti melakukan tindakan pidana. Tapi ayat yang mudah dimengerti itu dipelintir dengan adanya tambahan, tidak sedang ditemukan melakukan kejahatan ketika kongres. Tentu saja jauh panggang dari api. Jadi menurut statuta PSSI, asal selama kongres - yang normalnya 2-3 hari - seorang calon tidak sedang diperiksa polisi atau jaksa karena suatu kejahatan, dia bisa jadi calon sekalipun pernah dipenjara dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan." Anehnya, FIFA membiarkan terjemahan yang salah itu.

Hanya partai politiklah yang senantiasa berjuang memperebutkan kekuasaan politik. Parpol memiliki fungsi antara lain sosialisasi politik melalui pertemuan-pertemuan, pendidikan, baliho, poster dan sebagainya. Dan ini juga dilakukan PSSI. Lihatlah beberapa poster dan baliho di sekitar Gelanggang Remaja, Pekanbaru, dimana Kongres PSSI rencananya akan diselenggarakan. Cermati beberapa poster tersebut: "Menerima Apapun Hasil Kongres". "Statuta FIFA Ok Statuta PSSI Juga Ok". "Apapun Hasil Kongres, Bungkus." Masyarakat diminta menerima apapun hasil kongres, persis gaya partai politik.

PSSI juga secara aktif menggalang dukungan dari masyarakat. Padahal PSSI sebenarnya sama dengan induk organisasi olah raga lainnya seperti PERBASI, PBVSI, PBSI, dan sebagainya. Tak perlu ada dukung mendukung. Sebab, organisasi ini adalah milik masyarakat Indonesia. Agar pemiliknya tak dirugikan oleh kepengurusan yang tidak terpercaya, maka pemerintah melakukan pengawasan dan pembinaan.

Namun PSSI telah diklaim oleh pengurus dan pemilik suara, sebagai pemilik organisasi tersebut. Masyarakat dan pemerintah tak boleh ikut campur. Atau seperti peribahasa, biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Perilaku seperti itu, tau mau dicampuri, keras kepala, tak pernah mau mendengar kehendak masyarakat luas, menempatkan PSSI tak ubahnya sebuah partai politik.

Tak ada keraguan, PSSI memang pantas disebut partai politik. Sarat dengan muatan kepentingan dan minim kepercayaan publik. Kita selama ini telah salah sangka, mengira PSSI itu milik masyarakat Indonesia yang berhak atas prestasi tim nasional yang membanggakan. Rupanya salah. Supaya kekuasaan politiknya semakin kokoh, PSSI lebih baik segera mendaftarkan diri ke KPU untuk ikut Pemilu 2014 yang akan datang. Siapa tahu ada yang coblos.

kolom - Opini Tribun Pekanbaru 25 Maret 2011
Tulisan ini sudah di baca 1341 kali
sejak tanggal 25-03-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat