drh. Chaidir, MM | Perang Sosoh Pemilukada | PERNAH dengar perang sosoh? Kalau pasukan artileri sekutu AS jadi turun ke darat dan bertempur berhadap-hadapan, satu lawan satu dengan pasukan Muammar Qaddafi di Libya, saling terkam, saling pancung, itu namanya perang sosoh. Perang sosoh itu perang konvensional yang brutal, melukai nilai-nilai kem
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Perang Sosoh Pemilukada

Oleh : drh.chaidir, MM

PERNAH dengar perang sosoh? Kalau pasukan artileri sekutu AS jadi turun ke darat dan bertempur berhadap-hadapan, satu lawan satu dengan pasukan Muammar Qaddafi di Libya, saling terkam, saling pancung, itu namanya perang sosoh. Perang sosoh itu perang konvensional yang brutal, melukai nilai-nilai kemanusiaan, to kill or to be killed - membunuh atau dibunuh.

Riau pernah mengalami perang sosoh ketika mempertahan kemerdekaan RI. Tepatnya di Bengkalis, pada Januari 1949. Syafril Naldi menulis dalam website pribadinya www.syafrilnaldi.com. Ketika itu pasukan kita berhadapan dengan pasukan Belanda di jalan Kelapapati-Pedekik, Bengkalis. Pasukan kita dipimpin oleh Letnan II Masnur (terakhir pernah menjabat Ketua DPRD Provinsi Riau) dan Letnan II Subrantas (terakhir pernah menjabat Gubernur Riau dengan pangkat Brigadir Jenderal). Mereka terlibat dalam pertempuran satu lawan satu. Belanda pada malam itu dipukul mundur, tapi korban berjatuhan di kedua belah pihak.

Di zaman Riau modern ini tak ada lagi perang sosoh. Tetapi pemahaman kita yang masih sangat mentah terhadap demokrasi, membuat suasana pemilukada kita seperti perang sosoh. Siap kalah siap menang hanya konsumsi seremonial. Pada kenyataannya jauh panggang dari api. Sejauh ini, amat banyak catatan negatif terungkap dan lebih banyak lagi yang tak terungkap dari penyelenggaraan pemilukada kita. Praktik menghalalkan segala cara, tetap berlangsung. Praktik akal-akalan, pemanfaatan kekuasaan dan money politics, masih tercium menyengat. Pihak yang kalah menganggap dunia sudah kiamat. Pihak yang menang nmenganggap jabatan kepala daerah itu adalah tahta raja-raja, dari sinilah lawan-lawan politik dihabisi sampai ke akar-akarnya. Nilai asasi demokrasi seperti kebebasan, kesetaraan, kebersamaan, persaudaraan, sportivitas, dibuang jauh.

Para pemimpin kita terkesan sangat kurang dalam integritas dan keteladanan. Padahal sejarah sesungguhnya banyak memberi kearifan. Bagaimana misalnya, Sholahuddin al-Ayuti, Panglima Perang Salib Islam yang pada akhirnya merebut Palestina (Baitul Maqdis). Sholahuddin mengalahkan Panglima Richard (Panglima 13 Kerajaan Eropa). Suatu kali dalam peperangan tersebut, Richard jatuh sakit. Sholahuddin menunjukkan sportivitas tinggi, dia tidak mau bertempur melawan Richard yang sedang sakit. Dia bahkan ikut merawat Richard supaya sembuh dan kembali berperang dengannya. Nabi Yusuf AS, dimusuhi saudara-saudaranya, diperjual belikan, dimasukkan sumur, tetapi ketika kemudian dia menjadi pemimpin, dimaafkannya saudara-saudaranya bahkan saudara-saudaranya itu diberi infak. Nabi Muhammad SAW ketika pertama kali merebut Mekkah dari pasukan Quraisy setelah berperang 40 tahun lebih, membebaskan ribuan tawanan perangnya. Daerah ini agaknya memerlukan pemimpin yang rendah hati dan tak kemaruk kekuasaan.

kolom - Metro Riau 24 Maret 2011
Tulisan ini sudah di baca 1767 kali
sejak tanggal 24-03-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat