drh. Chaidir, MM | Tak Seindah Pelangi | SEPERTI diungkapkan peribahasa, dalam dua bulan ke depan, warga Pekanbaru akan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tak Seindah Pelangi

Oleh : drh.chaidir, MM

SEPERTI diungkapkan peribahasa, dalam dua bulan ke depan, warga Pekanbaru akan "dirintang siamang berbuai." Asyik menghabiskan waktu tak tentu arah berbual di kedai kopi, topiknya tentulah pemilihan Walikota Pekanbaru. Apalagi bakal calon yang mencuat ke permukaan sudah mulai semakin mengerucut. Kelihatannya akan terjadi duel head to head antara Firdaus-Ayat vs Septina-Erizal?

Ada beberapa faktor yang membuat pemilihan Walikota Pekanbaru kali ini aktraktif. Pertama, incumbent tak lagi ikut bertarung (karena sudah dua periode); kedua, untuk pertama kalinya muncul calon perempuan; ketiga, calon perempuan tersebut adalah istri Rusli Zainal, Gubernur Riau yang masih berkuasa; keempat, calon Wakil Walikota, Erizal Muluk, pasangan Septina adalah Ketua DPD Partai Golkar Pekanbaru, Wakil Walikota incumbent, yang sebelumnya ngotot untuk menjadi calon Walikota; media pers menyebut pasangan Septina-Erizal "kawin paksa" karena terpaksa patuh pada keputusan DPP Partai Golkar; dan last but not least, alasan kelima, Firdaus, MT memosisikan diri sebagai pihak yang terzolimi. Firdaus, MT (gelar Magister Teknik ini terpaksa terus disebut karena nama Firdaus adalah nama yang sangat digemari di Pekanbaru. Panggillah nama Firdaus, serta merta akan menoleh puluhan orang sekaligus).

Firdaus, MT sebelumnya pernah digadang-gadang sebagai calon unggulan. Namun entah bagaimana ceritanya, Septina Primawati ingin pula maju, dan konon Firdaus, MT enggan menjadi orang nomor dua. Karena sudah terlanjur sosialisasi, Firdaus bertekad tetap maju sebagai orang nomor satu. Namun sikapnya ini terkesan "mbalelo" dan Firdaus, MT pun terpaksa segera angkat kaki dari posisinya sebagai Kadis PU Provinsi Riau. Ayat Cahyadi pula adalah pemain lama yang kembali bertarung. Ayat memiliki pendukung fanatik dari PKS.

Konfigurasi partai pendukung masing-masing pasangan calon menjanjikan pula sebuah kompetisi menarik, ketika Partai Demokrat yang semula santer disebut mendukung Septina Primawati, ternyata secara resmi memberikan dukungan kepada Firdaus, MT. Beralihnya dukungan itu konon disebabkan kubu Septina tidak berkenan memberikan posisi calon Wakil Walikota kepada Partai Demokrat.

Gubernur RZ diperkirakan tidak akan tinggal diam. RZ pasti habis-habisan untuk mendukung Septina. Walikota Herman Abdullah tentu ngotot pula mendukung Firdaus, MT karena Septina telah merenggut kesempatan Evi Mairoza untuk maju mendampingi Erizal Muluk. Pokoknya pemilihan Walikota Pekanbaru kali ini bakal heboh. Kalau dalam istilah pertandingan tinju, pertandingan ini akan "berdarah-darah."

Namun, seberapa atraktif pun, jangan lupa kembali ke pangkal kaji, yakni esensi pemilukada itu sendiri. Partai politik, demokrasi, pemilukada langsung, bahkan jabatan walikota itu sendiri semuanya instrumen. Uji terakhir dari semuanya itu, adalah apakah ia dapat memberikan manfaat dalam peningkatan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat atau tidak. Bila tidak, lambat atau cepat akan timbul delegitimasi dan masyarakat akan kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya.

Sesungguhnya, pada tataran ide, pemilukada langsung yang sekarang kita laksanakan, adalah untuk mendapatkan pemimpin atau kepala daerah yang kredibel, lebih merakyat, dan sesuai kehendak rakyat di daerah itu sendiri. Kepala daerah diharapkan mempunyai akuntabilitas publik di tingkat lokal karena dengan pemilukada langsung partai politik di tingkat pusat tidak seenaknya lagi bisa mengatur daerah dalam proses pencalonan kepala daerah. Dengan pemilukada langsung partisipasi rakyat dalam pembuatan sebuah kebijakan publik juga diharapkan meningkat. Demokratisasi semakin tumbuh. Rakyat dididik untuk berpolitik secara lebih bertanggung jawab.

Namun dalam prakteknya jauh panggang dari api. Semua partai politik menganut sentralisasi dalam penetapan calon kepala daerah. Semuanya harus mendapatkan rekomendasi tertulis dari DPP masing-masing partai. Demokrasi kita baru sampai pada tingkat prosedur dan seremonial. KPU memang independen, jadwal tersusun rapi, kran kebebasan dibuka lebar. Ada upacara pemilu damai. Pernyataan siap kalah siap menang. Dan seterusnya, dan seterusnya. Tapi secara substansial kita sangat lemah dalam memahami dan melaksanakan nilai-nilai demokrasi itu sendiri.

Justru demokrasi kita sarat dengan jurus akal-akalan. Persoalan DPT, surat undangan pencoblosan, manipulasi kertas suara, penggelembungan suara, manipulasi berita acara, dan sebagainya. Aktivitas mobilisasi pemilih juga mengagumkan. Ada pemilih yang diminta menandatangani pernyataan, bahkan disumpah untuk tidak memilih yang lain. Ada pula pemilih yang dikorbankan seperti sinetron. Pemilih ini dibekali beberapa surat suara palsu yang telah dicoblos untuk pihak lawan, pemilih ini kemudian ditangkap. Permainan ini tentu saja merugikan pihak lawan. Saksi dilatih 24 jam melotot nonstop supaya tidak kecolongan, tapi toh kecolongan juga, karena ada saksi dari partai tertentu, bisa tahan lapar menunggu kotak suara, tetapi dia tidak tahan mendengar suara azan, kotak itu ditinggalkannya untuk menunaikan sholat. Dan berbagai trik lainnya yang tidak ditemukan dinegara maju yang telah berdemokrasi secara bermartabat. Demokrasi memang bisa menjadi masalah bagi sebuah negeri yang rata-rata tingkat pendidikan dan kesejahteraannya masih rendah. Dalam masyarakat seperti ini demokrasi itu hanya dimaknai bebas berbeda pendapat dan bebas memilih langsung pemimpinnya sehingga terbuka peluang untuk jual beli suara. Money politic menjadi sebuah keniscayaan. Nilai-nilai kebebasan, kesetaraan, persaudaraan, jujur, saling percaya, berpikir sehat, bersikap dewasa, etika moral, yang menjadi ruh demokrasi, terabaikan. Nilai-nilai itu dianggap makanan para dewa Yunani tempat Socrates, Plato dan Aristoteles dilahirkan. Di sini, demokrasi seakan bersaudara kandung dengan arogansi.

Winston Churchill, agaknya tepat menggambarkan, "It has been said that democracy is the worst form of government except all the others that have been tried." Demokrasi bukan sistem pemerintahan terbaik, tetapi sayangnya belum ada sistem lain yang lebih baik dan teruji. Kita sudah memilih jalan demokrasi, yang disebut Churchil itu. Demokrasi memang tak seindah pelangi, tapi kita harus mulai belajar membuatnya seindah pelangi.

kolom - Riau Times - 20 Maret 2011
Tulisan ini sudah di baca 1704 kali
sejak tanggal 20-03-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat