drh. Chaidir, MM | Gajah vs Gajah | BAYANG-bayang siapa yang akan menjadi kandidat Walikota Pekanbaru mulai semakin jelas. Setidaknya, sudah ada satu pasangan calon yang mendaftar secara resmi di KPU Kota, yakni pasangan Firdaus, MT dan Ayat Cahyadi. Siapa menyusul?

Dari pemberitaan media massa lokal, nama Septina Primawati Rusli b
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Gajah vs Gajah

Oleh : drh.chaidir, MM

BAYANG-bayang siapa yang akan menjadi kandidat Walikota Pekanbaru mulai semakin jelas. Setidaknya, sudah ada satu pasangan calon yang mendaftar secara resmi di KPU Kota, yakni pasangan Firdaus, MT dan Ayat Cahyadi. Siapa menyusul?

Dari pemberitaan media massa lokal, nama Septina Primawati Rusli banyak disebut. Septina akan didampingi oleh Erizal Muluk pada posisi orang kedua. Namun bisa ya bisa juga tidak. Sebab cerita yang beredar di kedai kopi jauh lebih seru, karena tak pakai bandrol, tak pakai basa-basi. Semua menjadi pengamat, dan semua pantang tak hebat. Artinya, semua mengatakan, informasi yang di peroleh adalah "A1." Informasi "A1" maksudnya, "berita dan sumber berita sangat layak dipercaya."

Konon DPP Partai Golkar sudah mengambil sikap. PG mengusung Septina, pendampingnya adalah Erizal Muluk. Lebih dulu beberapa detik, bahkan sepersekian detik (seperti balapan formula satu saja), DPP Partai Demokrat konon juga telah menjatuhkan pilihannya kepada Septina. Alangkah beruntungnya tokoh perempuan ini. Namun tak seperti Partai Golkar yang menyebut nama Calon Wakil Walikota, Partai Demokrat menurut versi kedai kopi itu, belum menyebut nama Calon Wakil.

Di sinilah persoalannya dan di sinilah menariknya. Kembali menurut versi "A1" kedai kopi itu, juru lobi kubu Septina, yang tak lain adalah RZ, yang nota bene Gubernur Riau dan juga suami Septina, RZ telah bertemu empat mata dengan Anas Urbaningrum, Ketua Umum DPP Partai Demokrat. Dalam pertemuan tersebut, konon, untuk mendapatkan dukungan Partai Demokrat, RZ memberi konsesi Calon Wakil Walikota untuk Partai Demokrat sebagai pendamping Septina. Deal. Dan ini dinilai wajar, sebab Partai Demokrat adalah pemenang Pemilu Legislatif di Kota Pekanbaru.

Mendengar deal itu, sekali lagi menurut info "A1" kedai kopi, Aburizal Bakrie, Ketua Umum DPP Partai Golkar, marah (kemudian dibumbui menjadi marah besar). Bila deal itu benar, berarti Erizal Muluk, Ketua DPD Partai Golkar Kota Pekanbaru, pemenang kedua pemilu legislatif di Kota Pekanbaru, terancam tak memperoleh perahu. Akibatnya, DPP Partai Golkar menggertak akan membalikkan situasi, Erizal Muluk untuk calon nomor satu, Septina sebagai pendamping. Entah buaya entah katak entah iya entah tidak. Cerita tersebut tak bisa dikonfirmasi. Andai cerita kedai kopi itu benar, maka RZ sebagai sang sutradara tentu berada dalam posisi "MKMK" (maju kena mundur kena). Tapi donít worry, bukan RZ namanya kalau tak bisa keluar dari situasi sulit.

Pertarungan pemilihan Walikota Pekanbaru agaknya tak terlalu signifikan untuk perpolitikan nasional. Kebetulan saja berproses seiring dengan sidang paripurna DPR RI yang mengambil keputusan terhadap usul pembentukan Pansus Mafia Pajak yang dimenangkan kubu Partai Demokrat. Bahkan akibat insiden parlemen tersebut, koalisi Partai Demokrat dan Partai Golkar terancam pecah. Oleh karena itu, kongkurensi PD dan PG dalam proses pemilihan Walikota Pekanbaru, mudah diasosiasikan sebagai gajah lawan gajah (Anas vs Ical). Biasanya, kalau gajah vs gajah, maka yang terjepit adalah pelanduk.

Betapapun serunya kompetisi itu, semogalah tetap menyisakan kebaikan seperti disebut Peter Merkl: "Politik dalam bentuk yang paling baik adalah usaha mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan, betapa samar-samar pun kehadirannya. Suai!

kolom - Metro Riau 7 Maret 2011
Tulisan ini sudah di baca 1416 kali
sejak tanggal 07-03-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat