drh. Chaidir, MM | Kura-kura Tak Pernah Menangis | Kura-kura tak pernah menangis, tak peduli apa kata dunia. Tapi kura-kura juga tak pernah tersenyum. Bagi makhluk ini sedih dan gembira sama saja. Kura-kura boleh disebut satwa tak terduga. Mimpi pun mereka tak punya. Mereka tak pernah bermimpi ingin kaya raya, punya apartemen mewah di Jakarta tapi t
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kura-kura Tak Pernah Menangis

Oleh : drh.chaidir, MM

Kura-kura tak pernah menangis, tak peduli apa kata dunia. Tapi kura-kura juga tak pernah tersenyum. Bagi makhluk ini sedih dan gembira sama saja. Kura-kura boleh disebut satwa tak terduga. Mimpi pun mereka tak punya. Mereka tak pernah bermimpi ingin kaya raya, punya apartemen mewah di Jakarta tapi tak tercium KPK, sekolah anak S-dua atau S-tiga, punya mobil sekurang-kurangnya innova, punya istri dua atau tiga, bila sakit berobat ke Melaka, kalau mati masuk syurga.

Barangkali itu berlebihan, tetapi silent majority alias mayoritas diam yang tergambar dari pemungutan suara dalam pemilu 9 April lalu, sama misteriusnya dengan kura-kura. Lebih dari separuh pemilih tak menggunakan hak pilihnya. Alasannya rupa-rupa. Tapi yang jelas kita tak tahu bagaimana sikap mereka terhadap program yang ditawarkan, menganggukkah atau menggelengkah. Pokoknya tak terbaca. Repotnya, kelompok silent majority ini justru yang terbesar, mengalahkan Koalisi Besar sekalipun bergabung dengan Koalisi Kecil (Koalisi Kecil ini karena ada sebutan Koalisi Besar).

Yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir ini adalah politisasi yang amat sangat berlebihan mulai dari akar sampai ke pucuk. Kontroversi rekapitulasi penghitungan suara terjadi hampir di semua daerah. Suara yang diberikan secara bebas oleh pemilih seakan menjadi komoditi dalam rekapitulasi. KPU beserta seluruh jajarannya dibenci dan disayang. Pada bagian lain polarisasi capres dan cawapres terhela kian-kemari, berbondong layaknya gerombolan anak ikan terbawa arus. Ada sesuatu yang terasa lain, sepertinya masyarakat kita sedang dilanda sebuah kemerosotan aneh: kemerosotan berpikir dan perilaku. Sementara sang kura-kura harus rela mulai terlupakan.

Realitas inilah yang lamat-lamat sering kita dengar. Ada nada pesimis, ada nada putus asa dan pasrah. "Siapa pun yang menang, kita tetap juga seperti ini." Makna di balik pesimisme itu, ada harapan besar yang setiap kali tak terpenuhi dan buahnya adalah kekecewaan. Anehnya, anak-anak bangsa ini sering dinina-bobokkan, bahwa pemilu disebut sebagai solusi. Pengalaman berbagai negeri lain, demokrasi saja tak cukup untuk menjamin kehidupan yang lebih baik.

Kini, masyarakat kita di samping masih berurusan dengan demam berdarah, malaria, tbc, busung lapar, ditakut-takuti pula dengan flu burung dan flu babi. Berapa milyar lagi APBN yang harus dibelanjakan untuk vaksin flu babi? Ingat vaksin flu burung yang setelah dibeli milyaran rupiah, akhirnya sebagian tak terpakai karena kadaluwarsa?

Kawanku, penyakit-penyakit itu tidak bisa dihadapi dengan cara berpikir linier, pemerintah harus berpikir sistemik. Pemerintah yang berpikir linier adalah pemerintah yang memburu penderita penyakit ke seluruh pelosok, kemudian mengobatinya satu persatu, membunuh ayam penduduk satu persatu (barangkali sebentar lagi akan membunuh babi penduduk satu persatu). Setelah petugas pergi? Penyakit kembali muncul. Berpikir sistemik tidak demikian. Pengobatan oke, tetapi juga ada solusi mendasar. Sebab, penyakit malaria, DBD, tbc, flu burung, flu babi adalah penyakit-penyakit yang akrab dengan pola hidup yang tidak sehat dan berkerabat dekat dengan kemiskinan. Pola hidup sehat berkaitan dengan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan rumah dan lingkungan. Juga berkaitan dengan komitmen pemerintah menyediakan fasilitas dasar yang baik, mengelola pembuangan sampah sesuai dengan standar kesehatan dan teknologi, membangun saluran-saluran drainase, menata pembangunan supaya tidak semrawut, tidak ada daerah-daerah kumuh.

Silent majority tak menyampaikan pesan lisan maupun tulisan. Tapi semuanya bisa terekam dengan mata hati.

kolom - Riau Pos 4 Mei 2009
Tulisan ini sudah di baca 1714 kali
sejak tanggal 04-05-2008

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat