drh. Chaidir, MM | Zaman Batu | Filsuf Thomas Hobbes mengungkapkan sebuah postulat, manusia cenderung bersaing antar sesama. Bellum omnium contra omnes, katanya. Penyebab persaingan apalagi kalau bukan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Zaman Batu

Oleh : drh.chaidir, MM

Filsuf Thomas Hobbes mengungkapkan sebuah postulat, manusia cenderung bersaing antar sesama. Bellum omnium contra omnes, katanya. Penyebab persaingan apalagi kalau bukan "makhluk" yang bernama kepentingan. Dalam bentuk yang ekstrim, Hobbes menyebut, homo homini lupus, manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia lainnya.

Dulu di Zaman Batu, manusia hidup nomaden, mengembara, dalam kelompok-kelompok. Satu dengan lainnya selalu berperang untuk memperebutkan mata air atau hewan buruan. Adakalanya juga memperebutkan perempuan. Ketika mereka letih berperang, beberapa kelompok berunding, mereka sepakat menyatu dalam sebuah ikatan dan memilih pemimpin. Sang pemimpin harus melindungi semua anggota kelompoknya dan harus adil. Ada semacam kontrak sosial. Struktur inilah kemudian yang menjadi cikal bakal sebuah Negara.

Maka yang namanya Negara - dimana pun - memiliki beberapa sifat dasar yaitu : memaksa, monopoli, dan mencakup semua. Sifat memaksa berarti, semua peraturan perundangan yang berlaku harus ditaati demi terciptanya ketertiban dalam masyarakat dan pemerintahan. Max Weber menyebut, negara memiliki alat paksa fisik yang sah (legitimate physical compulsion), seperti polisi, tentara, kejaksaan dan badan kehakiman. Monopoli berarti, negara memonopoli dalam menetapkan tujuan bersama. Negara memiliki wewenang untuk melarang hidup dan menyebarnya suatu aliran kepercayaan atau aliran politik yang dipandang mengganggu kepentingan umum dan bertentangan dengan tujuan masyarakat umum. Mencakup semua bermakna, semua peraturan perundang-undangan berlaku untuk semua orang tanpa kecuali, tanpa pandang buulu

Namun, kerusuhan yang ngawur akhir-akhir ini mengesankan, kelompok-kelompok eksklusif dalam masyarakat tak lagi menghormati Negara, kita seperti kembali ke Zaman Batu. Pembangkangan perilaku dan ucapan, terkesan sudah keterlaluan. Kita harus obyektif dan jujur. Jangan tiba di perut dikempiskan tiba di mata dipicingkan. Maksudnya, kalau menyangkut kepentingan kelompok sendiri, kita toleran bahkan cenderung pembiaran dan permissive, tetapi bila menyangkut kepentingan kelompok lain kita menjadi pemberang. Kita sering meminta agar negara tegas, tetapi bila Negara melalui alat Negara berlaku tegas, mereka dibilang melanggar hak asasi manusia. Banyak kelompok yang double standard. Kita sering lalai dan lebai, hanya ingat hak sendiri, tak peduli dengan hak orang lain. Harusnya kita cepat menyadari dan berhenti bila hak kita melanggar hak orang lain. Itu baru namanya tenggang-menenggang.

kolom - Metro Riau 16 Pebruari 2011
Tulisan ini sudah di baca 1671 kali
sejak tanggal 16-02-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat