drh. Chaidir, MM | Bola Liar Pemilukada | BILA tak ada aral melintang, hari ini para pemilih di Kabupaten Pelalawan dan Rokan Hulu akan berondong-bondong ke TPS untuk melakukan pencoblosan. Hari ini juga hasilnya akan langsung diketahui. Walaupun hasil itu masih sementara, namun biasanya calon yang unggul signifikan dalam perolehan suara pa
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bola Liar Pemilukada

Oleh : drh.chaidir, MM

BILA tak ada aral melintang, hari ini para pemilih di Kabupaten Pelalawan dan Rokan Hulu akan berondong-bondong ke TPS untuk melakukan pencoblosan. Hari ini juga hasilnya akan langsung diketahui. Walaupun hasil itu masih sementara, namun biasanya calon yang unggul signifikan dalam perolehan suara pada hari pertama, akan tampil sebagai pemenang.

Tak ada kenduri yang tak berakhir. Setelah kenduri selesai, lazimnya, piring-pring kotor berserakan, sisa-sisa makanan bertaburan, sampah dimana-mana. Begitu jugalah kenduri demokrasi pemilukada. Kenduri ini bahkan menguras pikiran, tenaga, harta, lebih daripada yang diperkirakan. Ada yang jatuh miskin, jatuh sakit, bahkan juga sakit jiwa.

Untuk apa semua itu? Benarkah pemilukada seperti yang kita praktekkan dalam sepuluh tahun terakhir ini cukup mangkus untuk menghasilkan pemimpin atau kepala daerah yang terpercaya mengemban amanat penderitaan rakyat? Benarkah pemilukada kita bisa menghasilkan seorang pemimpin yang ikhlas hanya didahulukan selangkah, rela ditinggikan hanya seranting? Maknanya, idealnya pemilukada menghasilkan seorang pemimpin yang berasal dari rakyat, dipilih oleh rakyat dan bekerja untuk rakyat. Hanya pemimpin seperti itulah yang mampu mempertemukan kehendak rakyat dengan kebijakan publik yang disusunnya, mengawinkan kehendak rakyat dengan anggaran dan sumber daya lain yang berada dalam genggamannya.

Politik Kiambang

Pada prakteknya, masih jauh panggang dari api. Pemilukada justru menimbulkan fragmentasi, persaingan tak sehat, kepentingan sempit, dendam, dengki, dan politik uang yang ganas. Jual-beli suara, jual-beli perahu parpol, sudah menjadi rahasia umum. Calon incumbent jadi rebutan parpol karena sudah pasti punya modal kuat dan pengaruh besar, kendati yang bersangkutan terjerat kasus korupsi. Komitmen parpol kita memang sangat lemah dalam membangun kepemimpinan daerah yang bersih, demikian juga apresiasi masyarakat sama lemahnya. Kecurangan merajalela. Data yang dilansir ICW misalnya, dari 244 pemilukada pada 2010, terjadi 1.517 modus pelanggaran yang terindikasi korupsi. Modusnya, penyalahgunaan fasilitas jabatan, penggunaan dana bansos, pengerahan birokrasi, dan sebagainya. Banyaknya pelanggaran membuktikan, penyelenggaraan pemilukada kita ibarat bola liar.

Demokrasi kita memang semarak dalam prosedur dan kemasan. Azas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil dalam pemilukada, baru sebatas atribut, belum banyak menyentuh substansi. Demokrasi kita kehilangan nilai-nilai etika moral, rasa persaudaraan, kejujuran dan sportivitas. Kebebasan tumbuh dalam kultur aneh yang menghancurkan, bukan dalam semangat persaudaraan. Mestinya kebebasan itu tumbuh dalam semangat persaudaraan seperti kiambang. Berpuluh pun biduk lalu membelah, kiambang tetap saja kembali bertaut.

Salah satu jebakan demokrasi ala pemilukada adalah suburnya perilaku menyimpang para penguasa untuk mencampuradukkan kepentingan pribadi, kelompok, daerah sempit, partai dengan kepentingan publik yang lebih luas, dan biasanya kepentingan umumlah yang terabaikan. Sayangnya perilaku penguasa demikian memperoleh legitimasi melalui pilkada. Bukankah sang penguasa dipilih oleh rakyat?

Fenomena lain yang merusak pemilukada adalah politisasi birokrasi. Birokrat terlalu banyak dilibatkan dalam agenda politik pemilukada. Para penguasa dan politisi cenderung menyeret-nyeret birokrat ke kancah politik. Interaksi yang tidak sehat antara birokrasi dan politik mempunyai akibat sistemik yang serius, yaitu birokrasi yang berkinerja rendah, penjilat dan korup. Perilaku penguasa dan politisi yang menyeret birokrasi untuk kepentingan pemilukada jelas suatu sikap yang tak terpuji karena tindakan itu akhirnya akan merugikan kepentingan publik dan tidak memberi kontribusi apa-apa terhadap demokratisasi.

Etika Politik

Sebenarnya kita sudah berada di lintasan yang benar, yakni peradaban yang berdemokrasi. Namun bila pemilukada tidak diselenggarakan secara benar, sendi-sendi keutuhan masyarakat akan terganggu, sebab yang disosialisasikan adalah politik ajaran sesat. Bila kemiskinan dieksploitasi secara tidak bertanggungjawab, maka jual-beli suara tak terhindarkan. Bila bansos diperalat, produknya adalah masyarakat peminta-minta. Risiko ini bisa menjadikan pemilukada menjadi bola liar dan bisa mendorong kegagalan demokrasi. Risiko lain adalah kegagalan kelompok akademis memberi pencerahan, justru sebaliknya dalam banyak kasus hanyut dalam kenikmatan sesaat pemilukada yang membius. Bila hal ini berkelanjutan, maka transformasi akan berhenti di tengah jalan atau berbelok arah.

Lalu bagaimana? Dahl (1997) memperkuat gagasan bahwa konsolidasi demokrasi menuntut etika politik yang kuat, yang memberikan kematangan emosional dan dukungan yang rasional untuk menerapkan prosedur-prosedur demokrasi. Ia melandaskan penekanannya pada pentingnya etika politik pada asumsi bahwa semua sistem politik termasuk sistem demokrasi, cepat atau lambat akan menghadapi krisis, dan etika politik yang tertanam dengan kuatlah yang akan menolong negara-negara demokrasi melewati krisis tersebut.

Etika politik bermakna adanya keniscayaan terhadap sebuah kesadaran, bahwa setiap pejabat dan elite politik bersikap jujur, amanah, sportif, siap melayani, berjiwa besar, memiliki keteladanan, rendah hati, dan siap untuk mundur dari jabatan publik apabila terbukti melakukan kesalahan dan secara moral kebijakannya bertentangan dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat.

Pemilukada adalah untuk memilih seorang pemimpin bukan penguasa. Bedanya, pemimpin hanya punya dua agenda, memakmurkan masyarakat dan memberi keteladanan. Penguasa memerintah secara egois, pantang tak hebat.

kolom - Riau Pos 15 Pebruari 2011
Tulisan ini sudah di baca 1411 kali
sejak tanggal 15-02-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat