drh. Chaidir, MM | PSSI dan Zidane | MASIH ingat Zidane? Legenda sepak bola Prancis itu menanduk dada Marco Matterazzi, pemain nasional Italia dalam partai final Piala Dunia 2006 di Jerman. Matterazzi terjengkang, Zidane diganjar kartu merah. Sampai sekarang Zidane tidak pernah mau minta maaf. Alasan Zidane, Matterazzilah yang sangat t
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

PSSI dan Zidane

Oleh : drh.chaidir, MM

MASIH ingat Zidane? Legenda sepak bola Prancis itu menanduk dada Marco Matterazzi, pemain nasional Italia dalam partai final Piala Dunia 2006 di Jerman. Matterazzi terjengkang, Zidane diganjar kartu merah. Sampai sekarang Zidane tidak pernah mau minta maaf. Alasan Zidane, Matterazzilah yang sangat tidak sopan mengeluarkan kata-kata hinaan kepadanya.

Apa gerangan kata-kata kotor yang diucapkan Matterazzi? Tak ada saksi yang mendengar. Ahli gerak bibir kelas dunia pun diminta mempelajari close-up gerakan bibir Matterazzi untuk menyelidiki dan memastikan apa ucapan Italiano itu. Hasilnya samar-samar, tak pasti. Tapi siapa sangka, tebakan jitu justru diungkapkan oleh mantan Wapres kita Jusuf Kalla. Ketika itu JK masih sedang menjabat sebagai Wapres. Kata JK, Zidane marah karena ia dituduh pengurus PSSI.

Benarkah Zidane emosi karena malu dituduh Pengurus PSSI? JK tentu saja bergurau. Tapi gurauan itu sebenarnya bisa diartikan sebagai sindiran yang sangat tajam yang dialamatkan ke PSSI. Sindiran itu sesungguhnya bahkan lebih dahsyat daripada tandukan Zidane. Tapi lihatlah, yang terkena tandukan tidak merasa sakit, karena dilakukan secara berkelakar. Namun sayangnya, penyakit menahun orang-orang di negeri kita ini, yang bertutur kata halus, sindiran halus tak mangkus. Padahal maksud sindiran sebenarnya, agar tidak ada pihak yang merasa malu, atau kehilangan muka (loosing face). Sebab kalau sudah kehilangan muka, hendak lapor kemana? Ke polisi, ke Jaksa atau ke KPK? Wah repot. Sindiran dimaksudkan agar pihak yang disindir menyadari kekeliruannya, introspeksi dan segera melakukan koreksi.

Banyak orang yang merasa tak nyaman dengan kepengurusan PSSI. Induk perkempulan sepak bola nasional ini, tak kunjung memberikan kepuasan kepada masyarakat. Kecuali Piala ASEAN Desember tahun lalu, selebihnya mengecewakan. Untung ada Christian Gonzales dan Irfan Bachdim yang sedikit mengobati kekecewaan panjang masyarakat. Itu pun ternyata meninggalkan catatan memalukan ketika Tim Nasional diseret-seret ke wilayah politik. PSSI, menurut banyak pengamat, sarat dengan berbagai stigma negatif, seperti budaya korupsi, kolusi, dan konspirasi. Dan itu lebih penting daripada prestasi tim nasional. Padahal sebaik apapun organisasi sepak bola, ukuran terakhirnya adalah prestasi tim nasional dan prestasi klubnya. Tapi aneh bin heran, PSSI tak merasa gagal sehingga harus ngotot mempertahankan kepemimpinannya, dan ini didukung pula oleh sebagian besar daerah. Persekongkolan yang diwarnai secara kental oleh kepentingan telah mengalahkan akal sehat. Maka, jangan heran bila Zidane merasa malu besar dituding sebagai pengurus PSSI.

kolom - Riau Pos 14 Pebruari 2011
Tulisan ini sudah di baca 1687 kali
sejak tanggal 14-02-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat