drh. Chaidir, MM | Jendela Johari | BELANTARA ilmu seakan tak bertepi. Ada saja kejelian ilmuwan menggambarkan perilaku manusia. Bermula dari kerisauan intelektualnya, Joseph Luft dan Harrington Ingham membuat model analisa kepribadian seseorang, yang mereka namakan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Jendela Johari

Oleh : drh.chaidir, MM

BELANTARA ilmu seakan tak bertepi. Ada saja kejelian ilmuwan menggambarkan perilaku manusia. Bermula dari kerisauan intelektualnya, Joseph Luft dan Harrington Ingham membuat model analisa kepribadian seseorang, yang mereka namakan "Johari Window".

Tak usahlah diperdebatkan kenapa pula namanya "Johari Window" atau "Jendela Johari". Seratus persen saya percaya, haqqul yakin, yang dimaksud oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham, tentulah bukan jendela rumah Johari teman saya di Pulau Bintan, atau jendela rumah Johari bin Mingan teman sekelas yang berasal dari Malaysia. Tapi mengapa konsep yang mereka kembangkan disebut Johari Window? Bukankah "window" (Inggeris) berarti jendela?

Joseph Luft dan Harrington Ingham membuat sebuah model analisa kepribadian yang berguna untuk mengamati cara memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi. Prinsipnya, pendekatan analisis ini digunakan untuk memahami perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain.

Sesungguhnya, model "Johari Window" bukan konsep baru. Model ini sudah disusun oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham pada 1955. Bertahun-tahun kemudian, ketika dunia dilanda kehidupan serba digital, Kevan Davis, seorang programmer dari Inggeris, terinspirasi untuk mengadaptasi konsep "Johari Window" menjadi sebuah game interaktif sehingga lebih mudah diaplikasikan.

"Johari Window" memiliki empat jendela. Beberapa penulis menyebut empat kuadran. Ada pula yang menyebut empat area atau bidang. Jendela pertama adalah area terbuka (open area). Dalam area terbuka ini aktivitas kita dan informasi tentang diri kita terbuka dan diketahui oleh orang lain, dan kita sepenuhnya menyadari kondisi tersebut. Sifat, perasaan, motivasi, tak ada yang disembunyikan. Seseorang dalam area ini selalu berpikiran terbuka, menyadari kelebihan dan kekurangan diri sendiri, tak ada yang disembunyikan. Orang yang memiliki area ini, tak ada hambatan dalam membangun komunikasi. Idealnya, jendela pertama ini diperlebar areanya.

Jendela kedua, adalah area buta (blind area). Aktivitas dan informasi tentang diri kita diketahui dengan sadar oleh orang lain, tetapi kita sendiri tidak menyadari hal tersebut. Kita sendiri bahkan tidak menyadari tentang perasaan-perasaan, sifat dan motivasi kita, tapi orang lain melihatnya. Orang ini disebut buta karena tak dapat melihat dirinya sendiri secara jujur. Jendela ketiga adalah area tersembunyi (hidden area). Kegiatan kita dan informasi tentang diri kita tertutup bagi orang lain. Kita menyadari ketertutupan tersebut, orang lain tak perlu tahu. Hidden area menjadi hambatan dalam komunikasi. Bisa menimbulkan miskomunikasi, bahkan lebih jauh bisa mengurangi tingkat kepercayaan dari orang lain.

Jendela keempat adalah area dimana kita tidak mengenal dan tidak menyadari tingkah laku kita sendiri, demikian juga orang lain tidak mengenalnya. Bidang ini disebut Unknown area, area tak dikenal. Orang ini, "dia tidak tahu kalau dia tidak tahu". Tragis bila penyakit itu hinggap pada politisi-politisi kita, para pemimpin atau bakal calon pemimpin di negeri kita ini. Mudah-mudahanlah mereka ini hanya ada di negeri antah berantah sana.

kolom - Riau Pos 7 Februari 2011
Tulisan ini sudah di baca 2428 kali
sejak tanggal 07-02-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat