drh. Chaidir, MM | Siklus Dinasti |
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Siklus Dinasti

Oleh : drh.chaidir, MM

"DUNIA itu taman, dengan dinasti sebagai pagarnya. Dinasti itu seorang penguasa yang ditunjuk menurut tradisi. Tradisi itu politik atau kebijakan yang dikontrol oleh raja. Raja itu gembala yang didukung oleh tentara. Tentara itu pembantu yang dijamin oleh uang. Uang itu harta yang dikumpulkan oleh rakyat. Rakyat itu para hamba yang diabdi oleh keadilan. Keadilan itu kuantitas yang sudah dikenal, dan ia merupakan penopang dunia. Dunia itu taman, dengan dinasti sebagai pagarnya."

Ungkapan puitis sarat makna itu, suatu malam yang hening di tepi Sungai Nil, meluncur dari mulut Abdurrahman Ibnu Khaldun al-Maghribi, pemeran Ibnu Khaldun, ilmuwan muslim besar Abad Pertengahan dalam novel "Ibnu Khaldun Sang Mahaguru" karya Bensalem Himmish, seorang pemikir dan sastrawan, yang menjabat sebagai Menteri Kebudayaan Maroko. Dalam novel yang memperoleh anugerah Naguib Mahfouz Award dan menjadi best seller selama berbulan-bulan di Mesir, Maroko, Tunisia, Aljazair dan di Negara muslim lainnya, Abdurrahman bicara banyak tentang peradaban, dinasti, dan tentu saja politik.

Setting cerita novel ini adalah pada masa awal Abad Pertengahan, pada abad ke-11, ketika jemaah haji masih berkendaraan unta menuju Mekkah, namun terasa aktual karena bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat kita dewasa ini yang hingar bingar dengan agenda politik, termasuklah politik dinasti yang banyak disorot itu. Entah siapa yang memulai memasyarakatkan politik dinasti atau mendinastikan politik masyarakat. Entahlah. Yang jelas, di tengah gegap gempitanya pelaksanaan pemilukada sebagai bagian dari proses demokrasi dalam masyarakat kita, politik dinasti ramai dibicarakan. Barangkali ini fase yang harus kita lalui dalam proses pendewasaan demokrasi kita. Biarlah, terserahlah.

Sebuah dinasti menurut Ibnu Khaldun selalu mengalami siklus. Fase pertama, sebuah dinasti lahir, dan kemudian tumbuh berkembang. Fase kedua adalah fase kemapanan dan kemewahan. Fase ketiga mengalami kemunduran. Dan fase keempat mengalami keruntuhan. Sulit membendung sebuah dinasti yang sedang mengalami fase menuju ke masa keemasan, tetapi sudah menjadi kelaziman sejarah, semua dinasti yang berada di puncak masa keemasan, akan mengalami pembusukan-pembusukan. Pembusukan tersebut bukanlah berasal dari intelijen pihak luar, tapi berasal dari tubuh dinasti itu sendiri. Lihatlah Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, bahkan Kesultanan Islam di Andalusia, Spanyol, semua tak bisa mengelak dari siklus dinasti.

Pembusukan itu bisa akibat pengaruh pendekatan kekerabatan dan ikatan darah dalam meraih kekuasaan. Bisa akibat perilaku tirani, bisa juga akibat memprioritaskan para penjilat daripada birokrat cakap. Dan, yang paling dominan perannya, suka atau tidak suka, adalah para politisi, sebab para politisilah yang bisa melakukan pencegehan-pencegahan yang mungkin dilakukan untuk memperpanjang masa keemasan sebuah dinasti. Allahualam.

kolom - Riau Pos 30 Januari 2011
Tulisan ini sudah di baca 1578 kali
sejak tanggal 30-01-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat