drh. Chaidir, MM | Dongeng Abang Becak | SIAPA yang peduli dengan pengemis, pengamen, pemulung, abang becak, penyapu jalan? Mereka adalah orang-orang yang kurang beruntung yang tidak bisa dan tidak mampu menikmati kue pembangunan yang bertebaran dimana-mana. Mereka hanya menjadi penonton kenduri yang setiap hari berada di lingkungannya.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Dongeng Abang Becak

Oleh : drh.chaidir, MM

SIAPA yang peduli dengan pengemis, pengamen, pemulung, abang becak, penyapu jalan? Mereka adalah orang-orang yang kurang beruntung yang tidak bisa dan tidak mampu menikmati kue pembangunan yang bertebaran dimana-mana. Mereka hanya menjadi penonton kenduri yang setiap hari berada di lingkungannya.

Tetapi bukan berarti tidak ada sesuatu yang bisa diteladani dari orang-orang yang kurang beruntung ini. Ada kisah kecil yang sangat menarik. Barangkali cerita ini dianggap berlebihan, barangkali mengada-ada. Terserahlah kepada sidang pembaca. Ceritanya begini. Pekan lalu, istri saya meminta jasa seorang abang becak yang sering mangkal tak jauh dari rumah kami di Pandau, untuk membantu membuang sampah. Sang abang beca karena sepi order menerimanya dengan senang hati. Selesai melaksanakan tugasnya, istri saya memberi imbalan lima puluh ribu rupiah. Tanpa dinyana, sang abang becak tidak mau menerima uang sejumlah tersebut, dia hanya mengambil Rp 25.000,- sisanya dikembalikan dengan alasan, imbalan Rp 50.000,- terlalu banyak baginya. Saya terkesima mendengar cerita sang istri. Rasanya tak percaya.

Ternyata orang baik itu masih ada di negeri kita. Orang yang tidak mengukur segalanya dengan uang. Sebetulnya, apa yang diperlihatkan oleh sang abang becak itu adalah sesuatu yang wajar, biasa saja, sesuatu yang patut, suatu perilaku terpuji. Demikianlah seharus perilaku masyarakat kita, masyarakat yang dari dulu kita banggakan sebagai masyarakat yang memiliki harkat dan martabat.

Namun ceritanya tentu menjadi tak biasa ketika itu terjadi di tengah masyarakat kita yang sangat materialistik, yang mengukur segala sesuatunya dengan uang, masyarakat yang mengedepankan semangat kebendaan yang luar biasa. Masyarakat hedonis. Sikap materialistik masyarakat ini terpancar dari pemberitaan demi pemberitaan dewasa ini, baik di media cetak maupun elektronik yang menyajikan berita-berita yang membuat masyarakat kecewa dan hopless. Korupsi semakin merajalela belum ada tanda-tanda jeda. Uang dihambur-hamburkan dalam jumlah yang mencengangkan untuk proyek-proyek yang kurang memberi manfaat.

Maka, sikap sang abang becak tersebut menjadi seperti dongeng. Padahal kita hidup di zaman gila, ketika demi uang semua cara dihalalkan. Ada uang abang sayang tak ada uang abang melayang. Dongeng sang tukang becak menjadi tak biasa ketika perilaku instan semakin menjadi-jadi. Ingin cepat kaya raya, orang melakukan korupsi sejadi-jadinya, manipulasi, persekongkolan, praktik mafia, penipuan, pembohongan dan sebagainya. Untuk memberikan suara pada pemilukada misalnya, pemilih tidak segan-segan menjual suaranya dengan selembar kain sarung, sekantung sembako, bahkan dengan meminta sejumlah uang kepada para calon.

Kita rasanya patut malu. Kearifan tak biasa yang muncul dari sang abang becak di Pandau itu ibarat emas yang terpendam di dalam lumpur. Mengharukan.

kolom - Riau Pos 17 Januari 2011
Tulisan ini sudah di baca 1524 kali
sejak tanggal 17-01-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat