drh. Chaidir, MM | Trust Building | TANPA terasa, fajar 2011 telah menyingsing. Tanpa kokok ayam jantan sekali pun, jafar itu tetap akan terbit dan akan terus begitu sampai sehari menjelang dunia kiamat kelak. Sang waktu tak pernah mau menunggu. Tapi biarlah, memang begitulah adat waktu. Manusia penghuni planet ini beruntung karena se
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Trust Building

Oleh : drh.chaidir, MM

TANPA terasa, fajar 2011 telah menyingsing. Tanpa kokok ayam jantan sekali pun, jafar itu tetap akan terbit dan akan terus begitu sampai sehari menjelang dunia kiamat kelak. Sang waktu tak pernah mau menunggu. Tapi biarlah, memang begitulah adat waktu. Manusia penghuni planet ini beruntung karena setiap kali memiliki momentum untuk introspeksi dan memperbaiki langkah ke depan. Padahal sebetulnya, untuk sebuah perbaikan tak perlulah mencari-cari instrumen, langsung saja lakukan kapan saja dimana saja. Bila kita menyadari sudah tersesat misalnya, tak perlu menunggu pergantian tahun untuk kembali ke pangkal jalan.

Tapi begitu pulalah resam manusia, selalu mencari-cari alasan, selalu berdalih-dalih. Kalau tersesat itu membawa nikmat, biarlah nanti-nati saja kembali ke pangkal jalannya. Kalau yang memabukkan itu terasa enak, biarlah dicoba sedikit-sedikit. Kan sedikitnyo, sekali-sekalinyo.

Dalam perspektif kehidupan bernegara dan bermasyarakat, tahun 2010 bolehlah disebut tahun krisis kepercayaan sosial (social trust). Dalam suatu kesempatan seminar di sebuah perguruan tinggi negeri di Pekanbaru menjelang akhir tahun, saya selaku pembicara mencoba interaktif dengan audiens. Saya menanyakan apakah audiens saat ini percaya kepada pemerintah kita, pemerintah daerah, DPR, DPRD, kepolisian, kejaksaaan, pengadilan? Jawabannya sama: tidak percaya. Kalau begitu kalian pindah saja ke negeri antah berantah, jawab saya. Mereka semua tertawa.

Mungkin mereka tidak benar semua, tapi jelas tidak salah semua. Di sepanjang 2010 kita menyaksikan pemberitaan melalui media cetak dan elektronik betapa kacau balaunya kepercayaan sosial dalam masyarakat. Agaknya benar seperti tesisnya Francis Fukuyama, masyarakat kita berada dalam tingkat kepercayaan sosial yang rendah (low trust society). Semua orang tahu tentang mafia kasus dan peradilan dalam tubuh pilar-pilar institusi penegak hukum kita. Buktinya, para petinggi institusi itu menyebut, membangun kepercayaan masyarakat adalah prioritas. Semua juga tahu korupsi yang merajalela di bawah, di atas dan di samping meja para penguasa. Rakyat juga kecewa terhadap politisi-politisi di DPR dan di DPRD yang lebih mementingkan diri sendiri, kerabat, kelompok dan partainya ketimbang memikirkan kepentingan rakyat.

Kejadian demi kejadian, satu persatu, semuanya telah meruntuhkan kepercayaan publik, termasuk dalam penyelenggaraan pemilukada. Demokrasi kita demokrasi semu, demokrasi seremonial dan simbol-simbol, belum substansial.

Oblivione sempiterna delendam, kata filsuf Cicero (44 SM). Biarlah kepedihan peristiwa masa lalu itu tenggelam dalam tidurnya yang abadi. Cicero agaknya benar. Biarlah yang buruk-buruk itu berlalu. Kita pandang ke depan.

Tak mudah memang membangun kepercayaan (trust building). Berteriak pun kita sampai ke langit mengatakan bahwa kita jujur dan kita dapat dipercaya, berbuih-buih melakukan pembelaan diri, masyarakat tak akan percaya kalau mereka sudah punya catatan. Pepatah kita benar, "Sekali lancung keujian seumur hidup orang tak percaya." Tapi pintu belum tertutup sama sekali. Gerbang tahun 2011 telah terbuka, saatnya membangun kepercayaan melalui kerendahan hati dan keteladanan. Selamat tahun baru.

kolom - Riau Pos 3 Januari 2011
Tulisan ini sudah di baca 1533 kali
sejak tanggal 03-01-2011

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat