drh. Chaidir, MM | Etika Yunani | AGAKNYA sekarang kita baru menyadari, anggota Badan Kerhormatan parlemen kita memang layak belajar etika ke negeri para dewa, Yunani. Atau mungkin sebaliknya, apa yang dipertontonkan oleh anggota parlemen kita di Senayan, justru merupakan etika yang dipelajari di Yunani.

Studi banding itu konon m
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Etika Yunani

Oleh : drh.chaidir, MM

AGAKNYA sekarang kita baru menyadari, anggota Badan Kerhormatan parlemen kita memang layak belajar etika ke negeri para dewa, Yunani. Atau mungkin sebaliknya, apa yang dipertontonkan oleh anggota parlemen kita di Senayan, justru merupakan etika yang dipelajari di Yunani.

Studi banding itu konon memiliki urgensi yang tinggi, agar politisi tidak baku tinju di parlemen, santun melakukan interupsi, berpakaian dengan pantas, tahu cara merokok di ruang sidang ber-AC, dan sebagainya. Selain itu, BK DPR juga belajar bagaimana cara menangani Anggota parlemen yang tidak sopan di persidangan.

Kenapa ke Yunani? Sebab Yunani di zaman kuno dulu pernah mengalami carut marut etika moral dalam masyarakatnya. Hukum diakal-akali. Politik tanpa etika moral. Tak ada budaya malu. Terlalu banyak hidden agenda, politik kepentingan, machiavelis, wajah penguasa dan politisi yang selalu mendua, dan sebagainya. Kejujuran dan sopan santun, jauh. Wabah itu kini kelihatannya melintasi zaman dan samudra, sampai ke nusantara.

Kesadaran etika di negeri para dewa itu, muncul akibat rusaknya tataran moral masyarakatnya. Pada era Sebelum Masehi itu, banyak dipertanyakan konsep baik dan buruk. Tak ada tataran dasar yang menjadi parameter kelakuan manusia. Hal ini kemudian menjadi perhatian para filsuf. Sokrates salah satu di antaranya. Bagi Sokrates, kebaikan tertinggi adalah budi baik - berasal dari pengetahuan tertinggi. Ia membongkar segala keyakinan berpikir masyarakat Yunani. Akibat perbuatannya ia pun harus dijatuhi hukuman mati demi sebuah pencerahan. Sokrates dianggap sebagai seorang yang mampu mengembangkan nilai-nilai budi pekerti manusia yang hilang. Sokrates kemudian dibela oleh muridnya, Plato. Era Plato dilanjutkan oleh muridnya, Aristoteles. Banyak penulis menyebut, selama 2000 tahun kita belajar logika, itu berarti mempelajari logika Aristoteles.

Pemikiran Aristoteles sebagaimana ditulis Bryan Magee dalam bukunya The Story of Philosophy (2001), yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Marcus Widodo&Hardono Hadi, Kanisius, Yogyakarta (2008), menguraikan, bahwa kehidupan yang bahagia itu dicapai jika manusia bisa mengembangkan segala kapasitas dirinya secara maksimal dalam masyarakat. Mengumbar keinginan pribadi dengan cara memaksakan kehendak sendiri akan membawa kita ke dalam konflik abadi dengan orang-orang lain. Itu buruk. Namun, bila keinginan dan kehendak tidak disalurkan, itu juga sama buruknya. Maka, Aristoteles mengajukan doktrinnya yang terkenal, yang disebut "jalan tengah emas"(the golden mean), yakni titik tengah di antara dua ekstrem yang masing-masing sama buruknya. Misalnya, kemurahan hati adalah jalan tengah antara boros dan kikir, keberanian adalah jalan tengah antara kenekatan dan ketakutan, rendah hati adalah jalan tengah antara pemalu dan sombong.

Beberapa hari lalu, kita kembali menyaksikan arogansi Anggota parlemen kita dalam sidang paripurna, dengan meneriaki Mendagri Gamawan Fauzi agar turun dari mimbar. Apapun alasannya, seekstrim apapun perbedaan pandangan, atau sebesar apapun hak eksklusif yang melekat pada sebuah lembaga, cara seperti itu rasa-rasanya sudah melampaui wilayah kepatutan yang patut dilakukan oleh orang patut-patut. Mungkin kurang lama di Yunani sehingga belum sempat mendalami doktrin Aristoteles, the golden mean. Entah buaya entah katak entah iya entah tidak.

kolom - Riau Pos 20 Desember 2010
Tulisan ini sudah di baca 1289 kali
sejak tanggal 20-12-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat