Lagu keroncong Sepasang Mata Bola itu pasti menghadirkan sebuah nostalgia bagi siapapun yan" alt="drh. Chaidir, MM | Hampir Malam di Yogya | "Hampir malam di Jogya Ketika keretaku tiba Remang remang cuaca Terkejut aku tiba tiba Dua mata memandang Seakan akan dia berkata Lindungi aku pahlawan Dari pada sang angkara murka....." Lagu keroncong Sepasang Mata Bola itu pasti menghadirkan sebuah nostalgia bagi siapapun yan" hspace="3" vspace="15"/>
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hampir Malam di Yogya

Oleh : drh.chaidir, MM

"Hampir malam di Jogya
Ketika keretaku tiba
Remang remang cuaca
Terkejut aku tiba tiba
Dua mata memandang
Seakan akan dia berkata
Lindungi aku pahlawan
Dari pada sang angkara murka....."


Lagu keroncong Sepasang Mata Bola itu pasti menghadirkan sebuah nostalgia bagi siapapun yang pernah kuliah di Kota Pelajar Yogyakarta di era 1970an dan sebelumnya. Suara Gending yang sayup-sayup terdengar dari radio penduduk di larut malam masih saja terngiang-ngiang tak terlupakan. Suasana guyonan di warung pojok "gua hirok" di samping benteng keraton di Kauman sambil menikmati wedang ronde dan tahu berontak, masih saja memendam rindu.

Semua mahasiswa dari berbagai pelosok nusantara bercampur baur dalam suasana pluralisme egaliter di warung-warung pojok yang sempit itu. Aroma persahabatan tak tersentuh oleh semangat kebendaan, tak juga oleh politisasi kehidupan. Pasti, pasti banyak sekali memori indah tak terlupakan. Kota tua itu memang penuh dengan ornamen kehidupan. Kesederhanaan keramah tamahan masyarakatnya, jalan-jalan yang dipenuhi sepeda onthel, Jalan Molioboro yang penuh pesona, cemara tujuh di Kampus Biru UGM, kebun binatang Gembira Loka, abang-abang beca yang santun, kereta senja yang siap meninggalkan Stasiun Tugu, semua menjadi pelangi indah di Yogyarkarta.

Kampus UGM yang menjadi land mark Kota Pelajar itu menjadi semakin memikat ketika Novel "Cintaku di Kampus Biru" karya Ashadi Siregar, menjadi buah bibir. Rasanya hampir tak ada seorang pun mahasiswa Yogya yang tak membaca roman itu. Sementara Ashadi Siregar, pengarangnya, tenggelam sebagai pengajar di Fisipol UGM sampai tua, puas dengan julukan "Penjaga Akal Sehat di Kampus Biru." Pantai Samas dan pantai Parang Tritis dengan ombak Laut Selatan yang mendebur keras telah menjadi dekorasi alam, menjadi pigura Yogya. Di kawasan utara pula, ada daerah wisata Kaliurang di kaki Gunung Merapi yang indah berudara sejuk. Desiran daun-daun pinus, gemerisik daun-daun bambu, gemericik anak sungai yang mengalir bening dari gunung, suara kicauan burung menjadi aransemen musik alam yang indah dan mengusik kalbu. Siapapun tak akan pernah bisa menghapus jejak keindahan itu dalam sanubarinya.

Yogyakarta kini, sudah banyak berubah. Kota itu terasa sangat padat dan semua terasa berkejar-kejaran. Kampus Biru UGM di Bulaksumur yang dulu kesepian di pinggir kota kini dikepung keramaian. Cemara tujuh yang dulu terlihat dari boulevar kini tertutup gedung mewah convention hall. Bangunan megah berdiri dimana-mana. Baliho iklan bertebaran menandakan Yogya juga menggeliat seperti metropolis lainnya. Sia-sia bila anda merindukan Yogya tempo dulu. Tak ada lagi sepeda onthel. Molioboro pun menjadi sangat pragmatis dan kapitalis. Kalau tak bertebal kantong jangan duduk lesehan di Molioboro. Sudahlah harganya tak lagi ekonomis, "taste" Yogya-nya pun sudah sayup-sayup.

Hari-hari terakhir ini Yogyakarta hiruk-pikuk pula dengan kontroversi RUU Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Apapun bentuknya, Yogyakarta sudah terpatri dalam hati penulis, masyarakatnya tenteram dan selalu tampil dalam kesederhanaan. Bacalah lagi puisi di cemara tujuh Kampus Biru, luruskan kehidupan yang dibengkok-bengkokkan oleh politik itu.

kolom - Riau Pos 13 Desember 2010
Tulisan ini sudah di baca 1657 kali
sejak tanggal 13-12-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat