drh. Chaidir, MM | Pertanian Swiss | SUATU kali Prof Habibie bercerita - seperti biasa dengan sepasang mata bola yang bergerak lincah impressive - kenapa pertanian kita tertinggal dari Jerman? Padahal menurut Prof Habibie, dari segi lahan, Indonesia jauh lebih luas dan subur.

Dari segi musim, Jerman (tentu juga Swiss, yang pertanian
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pertanian Swiss

Oleh : drh.chaidir, MM

SUATU kali Prof Habibie bercerita - seperti biasa dengan sepasang mata bola yang bergerak lincah impressive - kenapa pertanian kita tertinggal dari Jerman? Padahal menurut Prof Habibie, dari segi lahan, Indonesia jauh lebih luas dan subur.

Dari segi musim, Jerman (tentu juga Swiss, yang pertaniannya ditinjau Anggota DPRD Riau) mengenal empat musim. Ada musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Petaninya tidak bisa bercocok tanam di empat musim tersebut. Di musim gugur tanaman mulai layu dan kemudian daun-daunnya rontok. Di musim dingin, biji-bijian tidak tumbuh, tanaman yang sudah terlanjur tumbuh akan kering membeku. Artinya, lahan di Eropa hanya bisa digarap paling lama enam bulan. Di Indonesia, alhamdulillah, hanya ada musim kemarau dan musim hujan, dan hebatnya, lahan bisa digarap sepanjang tahun, kapan saja mulai menanam, tak masalah. Persoalan kerajinan jangan tanya, petani Indonesia paling rajin; berangkat ke ladang atau ke sawah sebelum matahari terbit, kembali setelah matahari terbenam.

Tidak hanya itu bedanya, kata Prof Habibie. Di Jerman petani tak pernah berdo'a bila hendak mulai bertanam (barangkali juga di Swiss), sedang di Indonesia, petani kita banyak berdo'a, bahkan tak putus-putusnya membombardir langit dengan doa. Doa petani seringkali pula diiringi dengan berbagai macam ritual yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam rangkaian kegiatan pertanian. Ritual turun ke sawah, turun ke ladang, ritual menanam padi, ritual menanam tembakau, ritual permulaan panen, dan sebagainya.

Hasil pertaniannya? Dengan lahan lebih terbatas, musim tanam sempit, tanpa doa dan berbagai ritual, hasil pertanian di Jerman jauh lebih bagus. Mengapa? Prof Habibie menjawab sendiri: kata kuncinya adalah teknologi.

Muatan teknologi pada pertanian di Jerman jauh lebih unggul sehingga lahan yang sempit bisa diolah sangat produktif, waktu yang terbatas bisa diubah menjadi peluang. Tenaga bisa dihemat. Teknologi adalah pengembangan dari akal manusia. Di Jerman, di Swiss, dan di Eropa pada umumnya, petaninya harus berpikir keras untuk mengatasi kendala alam. Hanya manusia berakal yang mampu menyiasati kendala, dan mereka sudah temukan solusinya, yakni pada teknologi.

Prof Habibie memang bicara tentang teknologi, bukan tentang pertanian ansich. Prof Habibie sadar kondisi alam yang sangat berbeda antara Jerman dan Indonesia memerlukan pendekatan yang berbeda pula. Apalagi stadium perkembangan ekonomi pertanian kita juga beda. Perekonomian Indonesia sedang berjuang dalam wilayah developing country (negara sedang berkembang), dengan income perkapita per tahun pada 2008 rata-rata US$2200. Jerman lebih dari US$30000. Swiss bahkan mencapai US$39.000.

Sebagai sebuah negeri maju, baik Jerman apalagi Swiss yang masuk dalam daftar sepuluh negeri terkaya di dunia, pertanian hanya memberi kontribusi kurang dari satu persen terhadap Gross Domestic Product negeri tersebut. Bagi mereka, pertanian sebenarnya adalah anak tiri. Mereka telah berpuluh tahun lalu meninggalkan ekonomi primer yang ditandai dengan ekonomi pertanian. Kita bersimpati terhadap kesulitan Anggota DPRD Riau mencari sudut yang pas dalam meninjau pertanian di Swiss.

kolom - Riau Pos 29 November 2010
Tulisan ini sudah di baca 3201 kali
sejak tanggal 29-11-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat