drh. Chaidir, MM | Super Gayus | MBAH Maridjan, pria pemberani itu telah tiada. Tapi, bukankah ada bidal, patah tumbuh hilang berganti? Kini, icon baru pria pemberani itu telah muncul. Chris Jon mendapat tandem baru yang jauh lebih powerful. Pria pemberani itu ialah sosok yang disebut oleh berbagai media sebagai Super Gayus. Gayus
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Super Gayus

Oleh : drh.chaidir, MM

MBAH Maridjan, pria pemberani itu telah tiada. Tapi, bukankah ada bidal, patah tumbuh hilang berganti? Kini, icon baru pria pemberani itu telah muncul. Chris Jon mendapat tandem baru yang jauh lebih powerful. Pria pemberani itu ialah sosok yang disebut oleh berbagai media sebagai Super Gayus. Gayus dijamin pas meneriakkan roso-roso sambil mengepalkan tinju, menggantikan Mbah Maridjan.

Pada mulanya, Gayus Holomoan Tambunan (31) bukan siapa-siapa. Sebelum ditahan, dia adalah seorang PNS biasa di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Pangkatnya masih pemula, golongan III A. Tapi kini, Gayus telah berubah menjadi sang fenomenal. Para petinggi dan para konglomerat negeri ini harus angkat topi terhadap keahlian Gayus dalam masalah seluk-beluk perpajakan.

Ketika kasus mafia pajak mencuat ke permukaan beberapa bulan lalu, banyak orang terkejut-kejut, sebagian senewen, sebagian kumat penyakit ayannya, ketika menyaksikan sang aktor di layar televisi. Sebagai seorang PNS, Gayus baru seumur jagung, darahnya baru setampuk pinang, tapi dia sudah memiliki rekening super jumbo tabungan Rp 100 milyar dan sederet aset mewah lainnya. Bagaimana mungkin seorang PNS rendahan memiliki jaringan persekongkolan demikian dahsyat?

Itu belum seberapa. Gayus ternyata punya selera gurau harimau tingkat tinggi. Lihatlah, pria pemberani itu duduk indah menonton pertandingan tenis Commonwealth Bank Tournament of Champions 2010 di Bali. Padahal, Gayus dalam status mendekam di sel tahanan Brimob, Kelapa Dua, Depok. Kenakalan Gayus yang mencengangkan ini tentu saja memakan korban. Sembilan anggota Brimob langsung ditetapkan sebagai tersangka, karena mereka memberi laluan secara tidak sah dengan membiarkan Gayus keluar sel dan plesiran ke Bali, begitu diberitakan berbagai media.

Kalau Tuan penganut mahzab, "no money no power" alias tak ada uang tak ada kekuasaan, pendukung Tuan sangat banyak. Masyarakat anomi seperti sekarang memang habitat yang paling cocok bagi orang seperti Gayus. Kalau saja Gayus maju sebagai calon presiden misalnya, dia pasti menjadi kandidat yang patut diperhitungkan. Kandidat gubernur? Ah itu kaji menurun bagi Gayus. Argumentasinya? Jangan lupa, pemilih kita, karakternya belum berubah, doyan uang dan mudah melupakan dosa kandidat. Banyak contoh, pembunuhan karakter kandidat melalui kampanye hitam tak ada pengaruhnya sama sekali. Apalagi, Gayus kini sangat populer dan berpotensi menjadi hero, kalau dia berani mengungkapkan siapa petinggi di pemerintahan, di lembaga peradilan, dan di dunia usaha yang pernah kongkalikong dengan dirinya.
Dalam konstruksi masyarakat yang tak lagi mau (bukan tak mampu) membedakan baik-buruk, agaknya Gayus bisa ikut rombongan Anggota DPR belajar etika ke Yunani, belajar membangun rumah susun ke Italia atau belajar pramuka ke Afrika, kalau dia mau. Untung Gayus masih sopan tak sampai hati mempersendakan bangsanya sekejam itu.

Gayus harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Itu betul. Namun dalam sudut pandang lain, harus diakui, pemuda itu pemberani dan cerdas luar biasa. Dia aset, perlu dilindungi dan dimanfaatkan oleh Negara untuk membongkar kebobrokan dan kemudian menguras konglomerat pengemplang pajak itu, dan menyetorkannya ke kas negara. Mafia harus dilawan dengan mafia.

kolom - Riau Pos 22 November 2010
Tulisan ini sudah di baca 1362 kali
sejak tanggal 22-11-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat