drh. Chaidir, MM | Pulang Kampung Nih | OBAMA hanya pidato 30 menit di Universitas Indonesia. Tapi Presiden AS itu telah meninggalkan kesan yang amat mendalam buat rakyat Indonesia. Banyak yang terkesima dan terpukau dengan penampilan dan gaya pidato Obama.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Pulang Kampung Nih

Oleh : drh.chaidir, MM

OBAMA hanya pidato 30 menit di Universitas Indonesia. Tapi Presiden AS itu telah meninggalkan kesan yang amat mendalam buat rakyat Indonesia. Banyak yang terkesima dan terpukau dengan penampilan dan gaya pidato Obama.

"Pulang kampung, nih," kata Obama dalam bahasa Indonesia, memulai pidatonya, dan disambut aplaus meriah dan gelak tawa. Sejurus kemudian, seraya tersenyum, Obama, mengatakan, "Indonesia adalah bagian dari diri saya." Dalam satu menit pertama, Obama telah langsung merebut hati pendengar. Maka kemudian, apapun yang diucapkan Obama, semua mengesankan. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang dianggap sudah tidak gaul, bisa menarik dan mendunia dalam seketika. Makanan tradisional, bakso, nasi goreng, sate, emping, mendadak sontak menjadi makanan berbintang lima. Kosa kata "kampung" yang semula berkonotasi udik, tiba-tiba memiliki nilai historis dan bergengsi. Itu semua hasil dari olah verbal seorang orator.

Presiden Obama memang seorang orator ulung. Sejak terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, Obama tak ubahnya bak magnet, menyedot perhatian publik melalui pidato-pidatonya. Pakai guna-guna buluh perindukah Obama? Tidak. Tri Agus S Siswowiharjo, dalam buku "Obama Bicara, 10 Pidato Paling Memukau," menulis, setidaknya ada lima elemen penting yang dikuasai Obama. Lima elemen tersebut dalam manajemen komunikasi lazim disebut sebagai "5 C": complete, concise, consideration, clarity, dan courtesy.

Complete, tulis Siswowiharjo, Obama selalu mampu menyuguhkan gagasannya secara lengkap dan koheren, tidak sepotong-potong. Concise, ringkas dan padat, tidak bertele-tele. Consideration, sangat mempertimbangkan khalayak pendengar. Obama mempelajari apa yang dibutuhkan pendengarnya, persis seperti nasihat filsuf Plato. Obama selalu berusaha memahami bukan melulu minta dipahami. Selalu membangun empati dan mau mendengarkan isi hati orang lain. Clarity. Inilah keistimewaan Obama, tulis Siswowiharjo. Ia mampu memilih dan memilah kata, kemudian merajut kalimat dengan penuh presisi. Courtesy, santun, persuasif, menumbuhkan respek.

Obama telah mempertontonkan secara memukau bagaimana penerapan ilmu retorika secara benar. Orator pada umumnya tidak dilahirkan tapi dibentuk. Winston Churchill (1874-1965) seorang ahli pidato bangsa Inggris yang amat terkenal, juga tidak mendadak menjadi seorang orator ulung. Obama dan Churchill rajin belajar.

AS memang mempunyai sistem pembinaan dan pendidikan dalam ilmu retorika. Di sekolah-sekolah dan college selalu ada pendidikan ilmu berpidato dan latihan berbicara. Di setiap Negara Bagian, juga selalu diadakan kompetisi pidato dan debat. Dari kompetisi tersebut dipilih pembicara terbaik. Di Universitas ada speech department, yang menangani bidang studi seni berbicara.

Seorang orator yang menguasai teknik retorika, tidak melulu pidato dengan menggebu-gebu dan berpanjang lebar sampai berbusa-busa. Sebab retorika adalah seni menggunakan bahasa secara efektif, lisan maupun tulisan. Obama pidato hanya 30 menit. John F. Kennedy, rata-rata bahkan hanya pidato 20 menit. Pidato panjang memang tak menghasilkan apa-apa kecuali kelelahan dan kebosanan.

kolom - Riau Pos 15 November 2010
Tulisan ini sudah di baca 1371 kali
sejak tanggal 15-11-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat