drh. Chaidir, MM | Dilamun Ombak | KALAU takut dilamun ombak jangan berumah di tepi pantai. Begitu bunyi peribahasa klasik kita. Peribahasa ini sebenarnya sudah sangat familiar di seluruh pelosok nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Analoginya, kalau takut terbakar jangan bermain api. Kalau takut basah jangan bermain air.

Dalam
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Dilamun Ombak

Oleh : drh.chaidir, MM

KALAU takut dilamun ombak jangan berumah di tepi pantai. Begitu bunyi peribahasa klasik kita. Peribahasa ini sebenarnya sudah sangat familiar di seluruh pelosok nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Analoginya, kalau takut terbakar jangan bermain api. Kalau takut basah jangan bermain air.

Dalam logika romansa Siti Nurbaya, dibidalkan, kalau takut patah hati jangan mulai memadu cinta. Dalam bahasa gaul, maksudnya kira-kira: kalau lu kagak berani jangan cari gara-gara! Atau, riang seperti dalam folk-song Manado, "sapa suruh datang Jakarta, sapa suruh datang Jakarta, sandiri suka sandiri rasa, ee do e sayang...."

Ombak lautan memang banyak memberi inspirasi bagi manusia. Dengarlah ungkapan lirih ini. "Kami sudah terbiasa dilamun-lamun ombak." Maksudnya, sudah terbiasa mengalami bermacam-macam kesusahan. Atau seperti ungkapan nelayan kepulauan di tepi pantai, "nasib kami tak ubahnya seperti mengharap ombak menepuk pantai." Dari dulu tetap saja begitu, tak pernah berubah. Kadang banyak hasil tangkapan, kadang sedikit. Kadang pasang naik kadang surut, itu saja.

Tapi ombak bisa menggambarkan juga simbol optimisme sebuah kerja keras. "Payah-payah dilamun ombak tercapai jua tanah tepi." Atau, "tak jemu-jemu seperti ombak memecah pantai." Ombak juga perlambang sebuah konsistensi, tak pernah ingkar janji. Simak peribahasa ini: "silih berganti bagai ombak di tepi pantai."

Dari serangkaian peribahasa itu, bukanlah alam yang harus menyesuaikan diri dengan kehendak manusia, tapi manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan kehendak alam. Alam tak pernah murka. Kalau kemudian alam terkesan murka, atau alam dianggap tak bersahabat, itu semata logika manusia. Logika alam, logika tak terduga oleh manusia. Tapi tabiat alam yang berulang atau merupakan sebuah siklus, tentu bisa dipelajari oleh manusia yang diberi kecerdasan akal budi. Maka, sastrawan A.A. Navis tak ragu mengatakan, "Alam terkembang jadi guru". Tapi kita seringkali congkak, melupakan guru itu, merasa telah mampu menundukkan alam dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki bahkan kadang-kadang menjadi predator yang serakah, memangsa segala yang ada pada alam ini tanpa mempedulikan keseimbangan satu sama lain.

Bencana alam tsunami, atau gunung merapi yang meletus adalah fenomena alam. Bukan karena ulah manusia seperti misalnya ketika terjadi bencana banjir bandang akibat jebolnya tanggul atau hutan yang gundul dimangsa manusia. Maksudnya, bukan karena kerakusan anak manusia maka terjadi gempa tektonik akibat bergeser atau patahnya kerak bumi nun di bawah perut bumi sana. Bukan juga karena ulah manusia merapi meletus, dan segala macam benda vulkanik dan awan panas disemburkan ke permukaan bumi. Siapakah manusia super yang mampu menggerayangi perut bumi sehingga magma itu tak terbendung untuk tidak muncrat ke luar?

Wilayah manusia adalah wilayah kealpaan. Punya akal, ilmu dan kekuasaan, tetapi tak mampu berguru kepada alam dan tak juga mau membaca alam. Bahkan tak sedikit pula yang sengaja memancing di air keruh. Sampai hati!!

kolom - Riau Pos 8 November 2010
Tulisan ini sudah di baca 2424 kali
sejak tanggal 08-11-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat