drh. Chaidir, MM | Mengarifi Merapi | KALI Code yang membelah kota Yogya, kemaren sore, seakan mengalami eforia, mulai meluap dipenuhi lahar dingin kiriman Gunung Merapi di hulunya. Andai kali itu bisa bicara, barangkali dia akan bercerita tentang kabar yang dibawa dari utara.

Manusia selalu saja menganalogikan alam sebagai makhluk y
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mengarifi Merapi

Oleh : drh.chaidir, MM

KALI Code yang membelah kota Yogya, kemaren sore, seakan mengalami eforia, mulai meluap dipenuhi lahar dingin kiriman Gunung Merapi di hulunya. Andai kali itu bisa bicara, barangkali dia akan bercerita tentang kabar yang dibawa dari utara.

Manusia selalu saja menganalogikan alam sebagai makhluk yang memiliki hati dan rasa. Merapi misalnya, disebut berubah tabi'at karena meletus hebat dalam beberapa hari terakhir ini. Padahal biasanya, dalam kebisuannya, Merapi selalu ramah menyapa setiap pendaki yang mengaguminya. Di puncaknya yang sangat atraktif, para pendaki gunung selalu merasa dirinya hanyalah sebutir debu dari ciptaan Tuhan yang demikian dahsyat. Tapi kali ini gunung itu menebar maut dan menimbulkan kesengsaraan. Merapi seperti kalap menyemburkan material vulkanik dan menyebar awan panas ke segala penjuru.

Merapi murni fenomena alam. Merapi bukan karya manusia, sehingga memiliki dimensi yang berbeda. Merapi juga bukan dicipta sesuai kehendak manusia. Logika geologis, astronomis atau logika agamis, terbentuk karena manusia memiliki akal budi. Dalam dimensi insani, disebut, barangkali ini sebuah peringatan dari alam. Dalam perspektif geologis, di perut bola bumi yang kita huni ini terdapat magma yang membara, yang karena tekanan, mencari titik terlemah di kerak bumi untuk muncrat ke atas ke permukaan yang di huni manusia. Secara astronomis pula, bukankah bola raksasa yang melintas dengan kecepatan tinggi ini sudah tua renta?

Apapun logika manusia, gunung tetaplah gunung, selamanya akan tetap membisu tak terduga. Orang bijak selalu menggunakan akal sehatnya dalam memahami alam. Perpatah Latin menyebut, "Cautus homo cavet, quodquod natura notavit". Orang yang bijak (akan selalu) berhati-hati terhadap apa yang sudah ditandai oleh alam. Kehendak alam tak selamanya seiring sejalan dengan kehendak manusia. Siapa menyesuaikan siapa?

Kita berempati terhadap kesengsaraan saudara-saudara kita di Yogya yang hari-hari ini bernafas dalam debu. Namun dalam sebuah kesadaran transendal, pasti ada kebaikan yang tercecer, tapi itu rahasia alam. Kawan-kawan kita di Yogya seperti biasa, selalu arif dan cerdas menyikapi keadaan. Abu Merapi bagi Yogya, agaknya, tak hanya akan menyuburkan tanaman, tapi juga akan menyuburkan jiwa di ladang kesenian dan kebudayaan, sesuatu yang selama ini menjadi tanda.

Kita yakin badai pasti berlalu.

Penulis mantan pendaki gunung,
Alumnus UGM Yogyakarta.

kolom - Tribune Pekanbaru 5 November 2010
Tulisan ini sudah di baca 1741 kali
sejak tanggal 05-11-2010

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat