drh. Chaidir, MM | Satu Bukit Satu Harimau | Mitos di pedalaman Sumatera, tiap bukit, tiap gunung, ada penunggunya. Sang penunggu dimaksud adalah seekor harimau jantan besar, gagah dan kharismatis. Dia tidak hanya mengawal gunung, bukit, hutan dalam daerah taklukannya, tetapi juga desa-desa di sekitarnya. Siapa pun yang intervensi ke kawasanny
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Satu Bukit Satu Harimau

Oleh : drh.chaidir, MM

Mitos di pedalaman Sumatera, tiap bukit, tiap gunung, ada penunggunya. Sang penunggu dimaksud adalah seekor harimau jantan besar, gagah dan kharismatis. Dia tidak hanya mengawal gunung, bukit, hutan dalam daerah taklukannya, tetapi juga desa-desa di sekitarnya. Siapa pun yang intervensi ke kawasannya dengan niat tidak baik, atau orang-orang kampung berkelakuan menyalah, sombong, melanggar pantangan, melakukan hal-hal yang tidak senonoh, yang tidak patut dipatutkan, tunggulah amuk sang penunggu. Oleh karena itulah sang penunggu disebut dengan takzim: Datuk.

Satu bukit tak boleh ada dua harimau dengan kualifikasi penunggu. Satu bukit hanya boleh ada satu harimau sebagai penguasa. Hirarki dan otoritasnya jelas, harimau lain jadi pecundang, jadi sub-ordinat. Bolehkah sang pecundang jadi penunggu? Boleh, tapi adu dulu kejantanan, adu dulu kesaktian.
Mitos ini boleh jadi merupakan cara entitas pedalaman membangun apresiasi komunal terhadap hirarki kekuasaan sang pemimpin. Sama seperti bila kita menyebut tidak boleh ada dua matahari. Kalaupun ada dua, maka yang satu haruslah yang terbit dari timur, membawa sinar terang benderang, yang lain harus terlihat redup. Komandan hanya satu. Nakhoda kapal hanya satu.

Dalam paradigma satu bukit satu harimau itulah agaknya, kenapa wapres-wapres di negeri-negeri maju nyaris tak terdengar kiprahnya (walaupun barat tak pernah kenal mitos itu). Publik internasional misalnya, tak begitu familiar dengan agenda-agenda Dick Cheeney, wapres AS semasa Presiden George W Bush, atau sekarang Joe Biden, wakil dari Presiden Obama. Familiarkah kita Wapres Rusia? Wapres Prancis, Wapres Cina, atau Wapres Irak Abdel Abd Al-Mahdi?

Di negara-negara yang menganut sistem parlementer, pemerintahan dijalankan oleh Perdana Menteri yang bertanggung jawab kepada Parlemen, figur Wakil Perdana Menteri atau DPM (Deputy Prime Minister), amat jarang terdengar dan jarang dikenal publik internasional. Kita familiar dengan Lee Hsien Loong Perdana Menteri Singapura, tapi siapa DPM-nya? Kita pun baru familiar dengan Najib Razak ketika dia naik menjadi Perdana Menteri Malaysia menggantikan Perdana Menteri Abdullah Badawi, padahal sebelumnya Najib Razak adalah Wakil Perdana Menteri semasa Abdullah Badawi.

Di negeri kita, tempat dimana mitos tak boleh ada dua harimau di satu bukit itu, justru menujukkan realitas beda, terutama semenjak Presiden dan Wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat. Wapres merasa memperoleh legitimasi kuat sama dengan Presiden terpilih. Dari sudut demokrasi memang demikianlah adanya. Namun repotnya, bila pasangan Pres-Wapres merupakan tokoh dari dua parpol berbeda yang tidak terikat dalam suatu koalisi kuat. Maka rebutan pengaruh dan pencitraan pun tak terelakkan.
Peran yang dimainkan Wapres JK sebagai pendamping Presiden SBY dalam lima tahun terakhir ini misalnya, memberi kesan di bukit itu ada dua harimau. Wapres JK cukup smart pada jabatannya. Dia orang yang kaya gagasan dan tak pernah sepi improvisasi. Tapi sesungguhnya pola otoritas kekuasaan pemerintahan kita beda. Presiden hanya satu, wakil presiden tetap wakil. Untunglah Presiden SBY seorang negarawan sejati sehingga tidak pernah terlepas kata mengomentari kelincahan sang wakil. Presiden SBY tetap bijak tak terpancing.

Di tengah tarik ulur penentuan pasangan Capres-Cawapres, kita agaknya perlu menyimak pengalaman negeri lain. Koalisi umumnya dibangun pada tataran parlemen dan tercermin juga di kabinet, tidak di pucuk pimpinan tertinggi pemerintahan. Dengan demikian ukuran kinerja pimpinan selama masa jabatannya menjadi jelas, mana yang hampa mana yang bernas. Bersediakan kini SBY berbagi bukit?

kolom - Riau Pos 20 April 2009
Tulisan ini sudah di baca 1523 kali
sejak tanggal 20-04-2008

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat