drh. Chaidir, MM | Menakar Retorika Anggota DPRD | <b>Abstrak</b>
<i>There are many peoples are waiting for progress of a new member of House of Representatives of Riau. All new member of House - province level and regency/municipality level - have inaugurated already. There is a big expectation among the peoples after a new constalation of politic
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menakar Retorika Anggota DPRD

Oleh : drh.chaidir, MM

Abstrak
There are many peoples are waiting for progress of a new member of House of Representatives of Riau. All new member of House - province level and regency/municipality level - have inaugurated already. There is a big expectation among the peoples after a new constalation of political power in House. The people in grass root are not patient anymore. They need change to improve of development program for better prosperity and better life.

However, it is not simple way. The member of House have to agregate and articulate of the people desire all the time to make or to change a policy together with local government. Even member of House and local government look like two side of coin, it is not easy to convince local government for program improvement. They will always debate - sometimes long debate - just for a program. Member of House always in dilemmatic position; in one hand they have to fight local government with convincing argument, and in the other hand there are rising expectation of the people. Oftenly, hundreds people come to House intimidate member of House.

House is a bridge between the people and local government (sometimes with central government). Therefore, member of House must be a good communicator. They must have a good public speaking capacity. And rhetoric is a very important thing as instrument to convince local government, even also compete among of the member of House. Public speaking capacity with a good rhetoric determine emotional sensitivity.

Rhetoric is an art that make effective communication for working together to solve the problem for better life.


Pendahuluan

ANGGOTA DPRD provinsi dan kabupaten/kota se-Provinsi Riau telah mengucapkan sumpah/janji. Artinya, semua calon anggota legislatif yang terpilih sudah resmi menyandang predikat "Anggota Dewan Yang Terhormat" pada ruang lingkupnya masing-masing. Semua atribut, status, hak dan kewajiban, otomatis melekat pada sang wakil rakyat.

Publik sudah memahami, tugas penting yang menanti sang wakil rakyat adalah, mengagregasi dan mengartikulasikan aspirasi rakyat. Aspirasi tersebut harus diperjuangkan secara maksimal agar terakomodasi dalam setiap kebijakan publik yang disusun bersama eksekutif. Bila aspirasi murni rakyat terakomodasi dalam setiap kebijakan publik maka kebijakan itu sudah pasti berpihak pada kepentingan rakyat. Bila tidak terakomodasi, maka akan timbul kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Peluang terjadinya "bias" antara harapan dan kenyataan terbuka lebar. Sebab, pada satu sisi ada rising expectation. Nilai harapan rakyat meningkat seperti deret ukur, sementara pada sisi lain pemerintah pusat dan daerah yang memiliki fungsi pengaturan, pemberdayaan dan pelayanan masyarakat, bergerak lambat seperti kura-kura karena dibatasi oleh sistem yang tak bisa berubah cepat, apalagi kemudian jajaran birokrasi mulai dari pusat sampai ke desa didera berkepanjangan oleh rendahnya sensitifitas.

DPRD adalah jembatan untuk mempertemukan dua kutub tersebut. Anggota DPRD harus mampu mengkomunikasikan secara baik aspirasi rakyat yang digendong, kepada pemerintah daerah selaku pemangku kekuasaan. Anggota DPRD harus berperan menjadi komunikator yang baik dan handal sehingga bisa meyakinkan pemerintah daerah. Pada lain kesempatan Anggota DPRD juga harus memberikan pendidikan politik kepada rakyat untuk menumbuhkan apresiasi yang lebih baik terhadap hak dan kewajiban sebagai warga negara. Tidak hanya itu, masing-masing Anggota Dewan juga harus berkompetisi dengan Anggota Dewan lainnya untuk saling berebut ruang publik.
Kekuatan Retorika

Kapasitas komunikasi Anggota DPRD sangat menentukan apakah pesan rakyat bisa menyentuh hati eksekutif selaku pemangku kekuasaan atau tidak. Kalau kapasitas komunikasi Anggota DPRD kurang memadai, maka pesan akan tinggal pesan. Pada tahap inilah perasaan harap-harap cemas publik muncul. Dari catatan empiris, Anggota Dewan sesungguhnya banyak memperoleh informasi dan pesan dari rakyat, tetapi tidak dapat mengungkapkannya dengan meyakinkan baik lisan maupun tulisan. Ada pula pesan yang sudah terpangkas oleh sesama Anggota Dewan sebelum pesan tersebut sampai ke eksekutif.

Vokal saja tidak memadai, karena aspirasi yang dikomunikasikan dengan sangat vokal oleh Anggota DPRD bisa jadi boomerang. Pilihannya, ingin terlihat vokal dan gagah tapi aspirasi belum tentu diterima eksekutif, atau aspirasi rakyat dikomunikasikan secara santun dan diterima oleh eksekutif untuk selanjutnya dituangkan dalam kebijakan.

Seni berkomunikasi inilah yang hendak ditakar dan sekaligus dituntut dari Anggota Dewan. Alasannya sederhanya, tak akan terjadi komunikasi politik yang baik antara Anggota Dewan dengan konstituen, dengan eksekutif dan sesama Anggota Dewan bila Anggota Dewan tidak menguasai seni berkomunikasi dengan baik. "Komunikasi memegang peran sangat penting dalam menentukan seberapa jauh orang-orang dapat bekerja sama secara efektif guna mencapai tujuan yang telah ditentukan" (Maryudi, 2005). Unsur yang sangat penting dalam seni berkomunikasi adalah retorika.

Pengertian retorika atau rhetoric (Inggris); atau rhetorica (Latin); atau retorike (Yunani), menurut Kamus Filsafat, Lorens Bagus (2002), adalah seni berpidato dan berargumentasi yang bersifat menggugah; atau juga seni menggunakan bahasa secara lancar untuk mempengaruhi dan mengajak.

Retorika merupakan sesuatu yang lebih khusus dari komunikasi secara umum. Dori Wuwur Hendrikus (1991), menyebutkan: " Manusia adalah makhluk yang sanggup berkomunikasi lewat bahasa dan bicara. Tetapi yang lebih mencirikan hakikat manusia sebagai manusia secara penuh adalah kepandaian dan keterampilan berbicara. Pengetahuan bahasa saja belum cukup. Kebesaran dan kehebatan seseorang sebagai manusia juga ditentukan oleh kepandaiannya dalam berbahasa, oleh keterampilannya dalam mengungkapkan pikiran secara tepat dan meyakinkan." Apa yang disebut oleh Hendrikus - "kepandaian dan keterampilan berbicara" - adalah retorika sebagaimana disebut dalam berbagai literatur.

The New Webster's International Encyclopedia (1996) memberikan batasan yang ringkas dan jelas, Rhetoric atau retorika adalah kepandaian berbicara secara memikat (skill in persuasive speaking). Kamus Combined Dictionary Thesaurus (2000), agak lebih lengkap memberi definisi: Rhetoric, the art of speaking and writing well, elegantly and effectively, especially when used to persuade or influence others; language which is full of unnecessarily long, formal literary words and phrases, and which is also often insincere or meaningless.

"Retorika adalah keterampilan berbahasa secara efektif; disebut juga studi tentang pemakaian bahasa secara efektif dalam karang mengarang; seni berpidato" (Kamus Politik, BS Marbun (2002). Di samping definisi tersebut, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka (1996) secara agak terbatas memberi definisi bahwa, retorika adalah seni berpidato yang muluk-muluk dan bombastis.

Rumusan itu agaknya terlalu sempit. Dua ribu tahun yang lampau, dalam bukunya yang berjudul De Arte Rhetorica, filsuf Aristoteles menganalisis dan mengajarkan seni persuasi, bukan hanya bagaimana menyusun pidato, melainkan juga bagaimana caranya memikat dan mengesankan pendengar, kiat-kiat praktis bagi para orator. Aristoteles menyebut tiga cara untuk mempengaruhi manusia. Pertama, Anda harus sanggup menunjukkan kepada khalayak bahwa Anda memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos). Kedua, Anda harus menyetuh hati khalayak, perasaan, emosi, harapan, kebencian dan kasih sayang mereka (pathos). Kelak, ahli retorika modern menyebutnya imbauan emosional (emotional appeals). Ketiga, Anda meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Di sini Anda mendekatai khalayak lewat otaknya (logos).

Teori retorika Aristoteles ini kemudian menyebar ke Kerajaan Romawi dan menghasilkan banyak orator handal beratus-ratus tahun kemudian. Salah seorang diantara oratur Romawi yang sering dirujuk pandangannya sampai sekarang adalah Cicero. Efek pidato akan baik bila yang berpidato orang baik, kata Cicero. "Siapa yang naik mimbar tanpa persiapan ia akan turun tanpa kehormatan." Dengan ilmu retorikanya, Cicero menjadi orator yang sangat berpengaruh di Kerajaan Romawi. Demikian hebatnya pengaruh orasi Cicero, sampai Julius Caesar, Kaisar Romawi yang paling ditakuti, memuji Cicero: "Anda telah menemukan semua khazanah retorika, dan Andalah orang pertama yang menggunakan semuanya. Anda telah memperoleh kemenangan yang lebih disukai dari kemenangan para jenderal. Karena sesungguhnya lebih agung memperluas batas-batas kecerdasan manusia daripada memperluas batas-batas Kerajaan Romawi."

KISS

Catatan empiris penulis, tidak ada perbedaan signifikan dalam hal retorika Anggota DPRD Provinsi Riau periode 1999-2004 dibanding periode 2004-2009 walaupun rata-rata tingkat pendidikan formal Anggota DPRD Riau periode 2004-2009 adalah Strata 1 dan Strata 2 (76%), lebih baik dari periode 1999-2004 (47%). Perbedaan justru terlihat pada retorika dua pemimpin daerah (gubernur) yang menjadi mitra DPRD dalam dua periode tersebut, yang sedikit banyak berpengaruh pula pada pola persuasi DPRD dalam memperjuangkan aspirasi rakyat. Artinya, bagaimana pun anatomi komposisi rata-rata tingkat pendidikan formal Anggota DPRD 2009-2014, hal itu tidak akan memiliki korelasi yang kuat dalam hal retorikanya.

Kita tentu tidak mengharapkan para Anggota Dewan menggeluti secara mendalam pelajaran Retorika, atau bahkan menjadi filsuf seperti Aristoteles, Cicero, Militon, Jeremy Taylor, dst. Tetapi bagaimana pun penting juga bagi pemimpin, politisi, atau pemimpin organisasi atau partai politik untuk memahami hakikat retorika. "Kenapa kita harus pandai bicara?" Alasannya sederhana menurut Larry King (2009), "jalan menuju sukses, baik di bidang sosial, politik maupun profesional, biasanya dapat dilalui lewat bicara. Bila Anda tidak meyakinkan sebagai pembicara, jalan itu dapat sangat buruk." Tapi retorika tentu bukan asal bunyi, atau debat kusir, atau bersitegang urat leher.

Di tengah masyarakat kita dewasa ini adakalanya terjadi salah kaprah dalam menggunakan istilah retorika. Penguasa yang terlalu banyak bicara, dicurigai itu hanya retorika belaka. Anggota Dewan pun sering dituding oleh para pengunjuk rasa, hanya sekedar beretorika. Retorika bukanlah pembenaran seperti itu. Kalau seorang penguasa menyukai pidato berpanjang-panjang - mungkin supaya terlihat pintar dan menguasai semua masalah - sesungguhnya dia kurang memahami prinsip-prinsip retorika.

Larry King dan Bill Gilbert memberi kiat berbicara sebagaimana ditulis dalam bukunya "Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di mana Saja" (Gramedia, 2009). Pembicara besar selalu mengikuti hukum fundamental mengenai berbicara yang baik. Hukum ini dirangkum dalam singkatan "KISS", yang berarti "Keep It Simple, Stupid" (Bicaralah Singkat, Bodoh). Tak ada kata-kata murahan, kalimat rumit, istilah teknis, atau kata-kata trendi dalam pidato ketiga tokoh dunia seperti Lincoln, Kennedy, dan Churchill. Seperti dua nama lainnya, John F. Kennedy, Presiden AS yang ke-35, terkenal sebagai seorang orator ulung, dia selalu tampil memikat, tetapi tidak pernah lama berpidato, jarang ada yang melampaui 20 menit, meskipun ada juga sebagian pidatonya yang berdurasi 30 menit. Padahal pidatonya (periode 1960-1963) tidak hanya menyangkut masalah dalam negeri yang sangat eksplosif karena politik segregasi, tetapi meliputi masalah-masalah internasional yang sangat sensitif, ketika AS dan Soviet terlibat perang dingin, perlombaan senjata nuklir, yang apabila salah satu pihak sedikit saja salah ucap bisa menyulut Perang Dunia ke-3.

Kendati sudah terkenal sebagai orator ulung, Kennedy senantiasa tetap belajar menyempurnakan kemampuan komunikasinya. Dia sangat setuju dengan Winston Churchill yang mengatakan bahwa seni berpidato merupakan keterampilan penting yang harus dikembangkan seorang pemimpin.

Menurut cendekiawan James L. Golden, sebagaimana dikutip John A. Barnes dalam bukunya John F. Kennedy on Leadership (2007), bagi Kennedy, komunikasi menjadi elemen pusat dari kepemimpinannya. Kennedy percaya bahwa masalah fundamental demokrasi adalah kecenderungan kehilangan arah dan berpuas diri. Masyarakat harus dirangsang untuk bertindak. Instrumen yang digunakan Kennedy untuk melaksanakan tugas ini adalah retorika yang bersifat mendorong serta argumentasi yang bersifat persuasif - dengan dibumbui beberapa humor sehat.

Dengan kemampuan retorikanya, Kennedy sering menggunakann kata-kasta yang hebat dan ungkapan yang sangat akrab bahkan juga bagi mereka yang masih terlampau muda pada waktu itu. Salah satu contoh: "Jadi, saudara-saudara sebangsaku: jangan bertanya apa yang dapat dilakukan oleh negerimu untukmu; tanyakan apa yang dapat kamu lakukan untuk negerimu. Sahabat-sahabatku warga dunia: Janganlah bertanya apa yang dapat dilakukan Amerika bagi Anda, tetapi apa yang dapat kita lakukan bersama-sama bagi kebebasan umat manusia."

Jangan Berkecil Hati

Dalam zaman modern sekarang, retorika juga dikenal sebagai public speaking (cara berbicara di depan umum), yang menuntut kelancaran berbicara, kecerdasan, pengendalian emosi, pemilihan kata dan nada bicara, dan kemampuan mengendalikan suasana, dan tentu penguasaan materi pidato. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa percakapan atau bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atau cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan. Berarti orang harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif. Jelas supaya mudah dimengerti, singkat untuk menghemat waktu sebagai tanda kepintaran; dan efektif karena apa gunanya berbicara kalau tidak membawa efek?

Komunikasi dengan retorika yang tidak baik cenderung menimbulkan salah pengertian. Salah pengertian bila terjadi terus menerus akan menimbulkan rasa ketidak puasan publik, bahkan akan memancing fitnah, agresivitas, dan hal-hal yang kontra produktif lainnya.

Pakar managemen Peter F. Drucker ikut menegaskan pentingnya fungsi komunikasi, dan memberikan kiatnya sebagaimana dikutip Jeffrey A. Krames dalam bukunya "Inside Druckerís Brain" (2008): "Celaka atau tidak, satu hal yang ada di organisasi apa pun adalah krisis. Krisis selalu datang. Itulah saat Anda benar-benar bergantung pada pemimpin." Dan salah satu kompetensi yang diperlukan adalah "kemauan untuk berkomunikasi, membuat diri Anda dipahami orang lain. Ini membutuhkan kesabaran tak terbatas."

Tapi para Anggota Dewan tidak perlu berkecil hati. Retorika adalah sebuah proses. Hendrikus (1991) mengatakan, retorika dapat dipelajari. "Sebuah pepatah bahasa latin berbunyi: Poeta nascitur, orator fit. Seorang penyair dilahirkan, tetapi seorang ahli pidato dibina. Sejak dua ribu tahun lalu terbukti bahwa banyak orang menjadi ahli pidato, karena mereka mempelajari teknik berbicara dan tekun melakukan latihan berbicara. Mereka berani mulai berbicara di depan orang banyak sesudah mempelajari teknik berbicara dan latihan secara tekun."

Apa yang dikatakan Roger Ascham, seorang ilmuwan dan humanis Inggris abad ke-16, agaknya menarik untuk dicermati oleh para politisi dan pemimpin kita: "Orang yang ingin menulis dengan baik, dengan bahasa mana pun patut mengikuti nasihat Aristoteles berikut ini: Berbicara seperti orang biasa, berpikir seperti orang bijak. Hanya dengan demikianlah setiap orang akan dapat memahaminya."

DAFTAR PUSTAKA :

Barnes, John A. 2007. John F. Kennedy on Leadership. PT Buana Ilmu Populer. Jakarta.
Bryan Magee. 2008. The Story of Philosophy. Kanisius. Yogyakarta.
Combined Dictionary Thesaurus. 2000. Chambers Harrap Publishers Ltd. Singapore.
Hendrikus, Dori Wuwur.1991. Retorika. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Krames, Jeffrey A. 2009. Inside Druckerís Brain. Gramedia. Jakarta.
Larry King. 2009. Seni Berbicara. Gramedia. Jakarta.
Lorens Bagus. 2002. Kamus Filsafat. Gramedia. Jakarta.
Marbun B.N. 2002. Kamus Politik. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
Maryudi. 2005. Pintar Berkomunikasi. Restu Agung. Jakarta.
The New Websterís International Encyclopedia. 1991. Trident Press International. USA.

Beberapa sumber dari Google.com


jurnal - 14 September 2009
Tulisan ini sudah di baca 4637 kali
sejak tanggal 14-09-2009

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat