drh. Chaidir, MM | Elang Langkawi | KALAU ada surga di dunia, tak lain tak bukan, itu adalah Pulau Elang. Begitulah pendapat masyarakat elang yang bermukim di pulau tersebut. Tak ada elang di sudut mana pun di planet bumi ini yang seberuntung seperti mereka yang hidup bermasyarakat di Pulau Elang ini. Di sini mereka hidup nyaman aman
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Elang Langkawi

Oleh : drh.chaidir, MM

KALAU ada surga di dunia, tak lain tak bukan, itu adalah Pulau Elang. Begitulah pendapat masyarakat elang yang bermukim di pulau tersebut. Tak ada elang di sudut mana pun di planet bumi ini yang seberuntung seperti mereka yang hidup bermasyarakat di Pulau Elang ini. Di sini mereka hidup nyaman aman damai tenteram. Habitat burung-burung elang ini terkawal dengan baik dari tangan-tangan jahil bangsa manusia.

Pulau Elang memang diperuntukkan bagi masyarakat burung elang di gugusan Kepulauan Langkawi, Kedah, Malaysia. Tidak ada yang menggiring burung-burung elang ini hidup dan menetap di Pulang Elang. Secara turun temurun mereka sudah berada di pulau itu, di sinilah mereka beranak-pinak, kawin, bertelur, menetas di sana dan mati di sana. Pulau Elang bukan zoo (kebun binatang) dan kelihatannya tidak dipersiapkan sebagai zoo. Sejatinya, burung elang yang ada di pulau ini bebas kemana pun mereka hendak terbang mengembara tak ada bisa melarang. Tapi untuk apa? Pulau Elang memang milik bangsa burung elang, oleh karena itu masyarakat Pulau Langkawi menahbiskan sebuah nama, pulau itu Pulau Elang.

Di bagian lain dunia, predator bagi burung elang ini biasanya adalah bangsa manusia yang suka iseng memburu dan menembaki mereka dengan ketapel, senapan angin atau bedil berpeluru tajam, hanya karena alasan stereotip, burung elang adalah pemangsa anak ayam milik petani di desa, atau sekedar untuk uji presisi menembak sasaran belaka. Di Pulau Elang, elang itu sendirilah yang akan menjadi homo homini lupus seperti tragedi kehidupan yang terjadi di dunia bangsa manusia. Mungkin karena elang itu menyontoh karakter buruk bangsa manusia, ketika manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia lainnya, elang yang satu juga bisa menjadi pemangsa bagi elang lainnya. Sebagian anak-anak burung elang yang tak terjaga oleh induknya, tak akan beruntung tumbuh menjadi elang dewasa karena dimangsa elang lain, sebagian lagi mungkin tewas dalam perkelahian jantan, satu lawan satu. Tapi bangsa elang menyadari betul hukum rimba ini, sehingga hukum semula jadi itu tak pernah mereka revisi dan tak pernah ada niat untuk merevisinya.

Di Pulau Elang yang menjadi habitat asli burung elang ini, tak ada manusia yang bermukim dan bersaing memperebutkan ruang kehidupan dengan elang, pulau ini memang khusus milik burung elang. Barangkali karena tidak ada intervensi manusia, pulau ini terlihat asri berhutan lebat dengan pohon-pohon menjulang tinggi, di sana-sini ada pula perbukitan yang menambah indah pulau tersebut.

Di tepi pantai pelabuhan kota Kuah (pusat kota Langkawi), tidak jauh dari dermaga pemberangkatan pelancong dengan boat menuju Pulau Elang, ada taman yang disebut Eagle Square (dataran elang), di taman tersebut berdiri patung elang ukuran raksasa yang menjadi icon Pulau Langkawi. Patung elang ini diresmikan tahun 1996 oleh Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad ketika itu. Patung elang ini nampaknya dibuat secara detil. Dari jarak dekat, bulu-bulu yang menempel di sayap dan kaki burung terlihat nyata. Nama Langkawi sendiri terdiri dari dua kata, yaitu Lang yang berarti burung elang dan Kawi yang berarti coklat kemerah-merahan merujuk ke warna khas burung elang.

Pagi itu, matahari sudah mulai naik hampir sepenggalah, beberapa ekor burung elang bercengkrama di dahan-dahan pohon tinggi milik mereka, di pulau milik mereka juga.

"Belum ada nampaknya rombongan pelancong?"
"Sabar, Bro," elang lain menjawab acuh.
"Perut sudah keroncongan nih," timpal yang pertama.
"Aku juga. Nah, sekarang gunakan mata elangmu, kau lihat sebuah titik nun di sana, ke arah Kuah, itu mereka datang."

Tak lama kemudian deru mesin tempel 115 PK beberapa buah boat pelancong, nampak meliuk-liuk meninggalkan selat Pulau Dayang Bunting menuju ke perairan pantai Pulau Elang. Di depan Pulau Elang, boat-boat tersebut berhenti, tidak merapat, tapi dibiarkan mengapung terombang-ambing ombak selat. Salah seorang "tekong" (juru mudi boat) yang membawa satu ember penuh kulit ayam, makanan kegemaran elang, mulai menebar kulit ayam di laut. Dan elang, yang sudah lepas landas dari dahan-dahan pohon, melayang-layang di udara, mulai menukik ke laut berebutan makanan. Elang yang berhasil menyambar kulit ayam, melayang ke dahan pohon hinggap sebentar menyantap makanan, kemudian kembali menukik sambar-menyambar. Atraksi yang oleh orang Langkawi dikemas dalam paket Memberi Makan Elang (Eagle Feeding), hanya perjalanan lebih kurang 20 menit dari dermaga Kuah, memberi sensasi khusus bagi pelancong. Semua sibuk memainkan kamera telepon bibit (handphone) canggihnya.

Secara rutin elang-elang liar ini berinteraksi dengan manusia, tak saling ganggu satu sama lain. Sebuah simbiose mutualisme artifisial yang dibangun dari kecerdasan akal budi manusia.

fabel - Koran Riau 19 April 2016
Tulisan ini sudah di baca 513 kali
sejak tanggal 20-04-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat