drh. Chaidir, MM | Sosok Ibu | TIDAK ada kehidupan yang lebih sengsara di muka bumi ketika anak-anak kecil yang sedang mebutuhkan perlindungan dan belaian kasih sayang sang ibu, tiba-tiba sosok tersebut pergi untuk selamanya atau menghilang tak tentu rimba, pergi tanpa pesan. Semua kocar-kacir semua menciap parau kian kemari. Tak
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sosok Ibu

Oleh : drh.chaidir, MM

TIDAK ada kehidupan yang lebih sengsara di muka bumi ketika anak-anak kecil yang sedang mebutuhkan perlindungan dan belaian kasih sayang sang ibu, tiba-tiba sosok tersebut pergi untuk selamanya atau menghilang tak tentu rimba, pergi tanpa pesan. Semua kocar-kacir semua menciap parau kian kemari. Tak ada obat, tak ada sitawar sidingin yang bisa meredakan kesedihan. Semua pasrah menunggu takdir.

Kisah sedih itu bisa menimpa bangsa yang mana pun dalam dunia mereka. Di darat, di laut atau di sungai, atau di danau, sama saja. Maut siap mengintai bila-bila masa, menghancurkan suasana kasih sayang, bisa karena kekejaman alam, bisa karena ulah bangsa manusia, bisa karena perangai predator yang tak berbelas kasih. Kebakaran hutan yang tak dipahami oleh bangsa hewan misalnya, telah menyebabkan ratusan burung kehilangan sarang dan anaknya yang baru menetas. Bangsa lebah bahkan kehilangan ratunya yang terperangkap tak bisa melarikan diri dari sarangnya, dan tak bisa diselamatkan oleh serdadunya.

Di danau yang airnya tenang, tak selamanya menjadi surga bagi ikan toman (red snakehead). Karakter mereka yang beringas galak, telah menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang memiliki hobi mincing. Sehingga, seringkali air danau yang tenang, menjadi horor bagi anak-anak toman. Badan anak-anak toman yang cantik alami, dengan warna kemerah-merahan dan garis-garis hitam berarsir jingga, tanpa sosok induknya yang gagah perkasa, sekarang malah jadi boomerang karena akan memudahkan predator memburu mereka.

"Aku takut"
"Aku juga",
"aku juga",
"aku juga",
kata anak toman berbisik bersahut-sahutan
sambung-menyambung.
"Kemana ya ibu kita ngga pulang-pulang?"

Sosok ibu, induk mereka yang biasanya menjaga anak-anaknya tanpa rasa takut dan sama sekali tak kenal kompromi, tiba-tiba raib entah kemana. Padahal, sang induk sangat agresif menjaga anak-anaknya. Jangankan sesama ikan atau predator lain dalam air yang jadi pemangsa anak-anak toman, bangsa manusia pun akan diserang oleh sang induk bila coba-coba mendekat dengan dalih apapun. Karena sosok sang induk yang terkenal sangat galak, anak-anak ikan toman ini merasa aman dan nyaman. Mereka bisa bergerombol kian-kemari bermain bersuka-ria. Tak ada rasa takut diganggu, kecuali mau berurusan dengan ibu mereka; itu berarti cari perkara.

Anak-anak ikan toman yang cantik-cantik ini sama sekali tidak menyadari, di luar sana, di darat, di tepi danau, bangsa manusia sedang bersorak-sorai, seorang peserta lomba mancing memenangkan piala juara perlombaan karena berhasil memancing seekor ikan toman besar. Ikan toman besar itu dengan bersusah payah dipangkunya.

***

Di bagian lain di darat, sekelompok anak ayam panik kocar-kacir, menciap-ciap keras sampai ke langit. Seperti itulah rupanya bila anak ayam kehilangan induk: disorganisasi. Sang induk pasang badan mempertaruhkan nyawanya dari sergapan sang predator seekor elang. Sang induk tak sempat berpikir, daripada anak-anak jadi korban. Jangankan burung elang, orang saja yang coba mendekat ke tempat anaknya bermain, akan diserang. Yang namanya orang, makhluk si pemikir, mereka berpikir dua kali, tak ada gunanya bertempur dengan induk ayam yang baru menetaskan telurnya; menghindar lebih tepat.

Maka elang pun dengan gagah perkasa akan dilawan oleh induk ayam. Akhirnya, tentu saja sebuah kisah sedih. Ketajaman kuku dan paruh burung elang manalah tertandingi oleh induk ayam. Tapi di mata anak-anak ayam, induknya jadi sosok pahlawan karena membela mereka sampai tetesan darah penghabisan.

***

Di dunia lain yang berbeda dari dunia fauna, di dunia kita yang ditandai dengan peradaban ini sama saja, sosok ibu adalah sosok yang sangat penting di mata anak-anak, tempat sang anak mengharapkan belaian kasih sayang. Bukankah kasih ibu sepanjang masa? Memang, sekali dua kali ada kisah sungsang, seperti yang terjadi pada pasangan suami istri di Cibubur, Bekasi pada awal 2015 silam, yang menelantarkan lima orang anak kandungnya, atau di Pekanbaru, Riau, yang terungkap beberapa hari lalu, seorang ibu memaksa lima orang anaknya jadi pengemis. Peristiwa itu tentu bukan nila setitik yang merusak susu sebelanga, sebab, itu hanya perilaku aneh segelintir orang saja. Kita hanya malu saja pada induk toman dan induk ayam. Hadeeeh.....

fabel - Koran Riau 5 April 2016
Tulisan ini sudah di baca 598 kali
sejak tanggal 05-04-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat