drh. Chaidir, MM | Lidah Tak Bertulang | BELUM ada tanda-tanda gencatan senjata antara dua bangsa yang sedang konflik ini. Padahal korban jiwa dari kedua belah pihak sudah berjatuhan. Kerugian harta sudah tak terhitung. Kedua bangsa trauma, tapi masing-masing sibuk memikirkan kepentingan bangsanya sendiri. Bangsa yang satu sibuk karena hut
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Lidah Tak Bertulang

Oleh : drh.chaidir, MM

BELUM ada tanda-tanda gencatan senjata antara dua bangsa yang sedang konflik ini. Padahal korban jiwa dari kedua belah pihak sudah berjatuhan. Kerugian harta sudah tak terhitung. Kedua bangsa trauma, tapi masing-masing sibuk memikirkan kepentingan bangsanya sendiri. Bangsa yang satu sibuk karena hutan sebagai habitat yang menjadi sumber penghidupannya habis ditebang, yang lain sibuk karena ladang dan kebunnya, yang menjadi sumber penghidupannya, habis dirusak. Jadi kedua bangsa ini sebenarnya punya kepentingan yang sama: mempertahankan sumber penghidupan, mata pencaharian.

Kalau kepentingannya sama, kenapa harus terjadi konflik? Bukankah konflik itu terjadi akibat kepentingan yang berbeda? Bila yang satu ke utara, yang lain ke selatan, atau yang satu ke hulu yang lain ke hilir, mungkin tidak akan terjadi konflik, masing-masing bisa jalan sendiri. Tapi bila kepentingannya adalah memperebutkan ruang atau wilayah yang sama, maka konflik pasti tak terhindarkan. Konflik perebutan wilayah ini lebih dari sekedar salah paham dalam ilmu komunikasi akibat salah interpretasi, yang bermula dari mispersepsi.

Di sinilah pangkal persoalannya. Kedua bangsa tak mungkin melakukan diskusi brainstorming untuk menyamakan persepsi. Bila persepsi tak pernah sama, misinterpretasi pasti terjadi dan pada gilirannya misunderstanding antara para pihak akan menjadi suatu keniscayaan, tak mungkin dihindari.

"Mereka tak satu kata dan perbuatan," kata seekor gajah muda dengan suara bergetar emosi. "Mereka bilang mau melindungi bangsa kita, kenyataannya, satu demi satu bangsa kita dibegal. Mereka bangsa begal."
"Sabar, sabar anak muda." Seekor gajah betina tua yang menjadi pemimpin kelompok berusaha menenangkan anggotanya yang emosi.
"Sabar ada batasnya, Mbah."
"Sabar tak ada batasnya, anak muda." Sang pemimpin melanjutkan. "Kita akan coba bangun komunikasi dengan rekan-rekan kita yang sudah mereka jinakkan, apa maunya bangsa tuan-tuannya, bangsa penjagal itu."
"Pembegal Mbah."
"Ya pembegal."

Si Mbah pun memberi wejangan, bahwa penyebab masalah dalam konflik antarbangsa gajah dan manusia itu sebenarnya berpangkal pada miskomunikasi, bahwa kedua bangsa tidak bisa membangun komunikasi verbal dan nonverbal dengan lebih baik. Bangsa gajah hanya bisa mengeluarkan bunyi suara terompet pecah ketika sedang senang atau agresif, meraung ketika sedang marah, atau melenguh ketika sedang sakit. Hanya itu komunikasi verbal yang bisa mereka lakukan. Sayangnya, simbol-simbol komunikasi itu tak sepenuhnya bisa dipersepsikan oleh bangsa manusia. Demikian pula sebaliknya, semerdu apapun suara bangsa manusia, mendayu-dayu, atau serak-serak basah, atau dikirim dalam bentuk berpuluh-puluh ikat pantun, puisi atau gurindam, gajah tak akan memberi persepsi.

Sebenarnya bangsa gajah memiliki simbol-simbil komunikasi nonverbal. Gajah menunjukkan ancaman dengan mengangkat kepalanya dan membentangkan telinganya. Gajah juga dapat menambah gertakannya dengan menggoncangkan kepala dan telinga, serta melempar debu dan tumbuhan ke udara. Tapi biasanya, itu hanya gertakan. Di sisi lain, gajah yang senang biasanya mengangkat belalainya, sementara gajah yang menerima tantangan akan membuat telinganya berbentuk V. Hati-hatilah.

Kondisinya semakin tidak kondusif ketika lidah kedua bangsa yang sama-sama tidak bertulang, digunakan dengan cara berbeda. Lidah gajah digunakan untuk mempermudah makan, sementara lidah bangsa manusia (diakui jujur oleh bangsa itu sendiri), seperti lirik lagu Bob Tutupoli, "Lidah memang tak bertulang, tak terbatas kata-kata, tinggi gunung seribu janji, lain di mulut lain di hati." Lidah sering digunakan untuk obral janji.

Satu hal yang tak dimiliki manusia, gajah punya kemampuan bisa mengirim infrasuara yang tak terdengar oleh manusia. Panggilan infrasuara merupakan cara berkomunikasi yang penting pada gajah, terutama untuk jarak jauh. Dengan frekuensi panggilan infrasuara, gajah bisa saling berkomunikasi pada jarak 10 km. Tapi bangsa manusia, jangankan kalah, draw pun mereka tak mau, manusia mengungguli gajah dengan menggunakan telepon genggam.

Menurut si Mbah gajah, komunikasi memang jadi masalah dan jadi hambatan terbesar dalam konflik kedua bangsa. Tapi jangankan dengan bangsa gajah yang dianggap tak berakal, dengan sesama bangsa manusia sendiri pun, yang katanya berakal, sering terjadi miskomunikasi, sehingga program satu instansi tak dipahami oleh instansi lain, bahkan mereka saling bertengkar, saling bunuh, saling kirim bom, bila perlu dengan bom bunuh diri. Bangsa gajah dipunahkan oleh bangsa manusia, bangsa manusia dipunahkan oleh bangsa manusia itu sendiri.

fabel - Koran Riau 29 Maret 2016
Tulisan ini sudah di baca 1041 kali
sejak tanggal 29-03-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat