drh. Chaidir, MM | Mengintai Hewan Bermasyarakat | PARA ahli menyebut, manusia itu adalah hewan bermasyarakat, dan hewan itu adalah orang non manusia. Dalam logika tersebut berarti, hewan itu orang tapi bukan manusia, atau manusia itu hewan, tapi hewan yang bisa berpikir. Ini pelecehan manusia. Tapi bukankah manusia suka melecehkan dirinya sendiri?
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mengintai Hewan Bermasyarakat

Oleh : drh.chaidir, MM

PARA ahli menyebut, manusia itu adalah hewan bermasyarakat, dan hewan itu adalah orang non manusia. Dalam logika tersebut berarti, hewan itu orang tapi bukan manusia, atau manusia itu hewan, tapi hewan yang bisa berpikir. Ini pelecehan manusia. Tapi bukankah manusia suka melecehkan dirinya sendiri? Contohnya? Contohnya, manusia suka berbohong, hewan tak pernah berbohong.

Dipikir-pikir, menarik juga untuk merenung-renung logika-logika unik tersebut. Bukankah penyebutan istilah manusia atau hewan itu hanya kesepakatan belaka? Bukankah keduanya tergabung dalam kelompok besar yang bernama makhluk? Kita makhluk yang bisa berpikir dan bermasyarakat, sejak dahulu kala disebut manusia, makhluk yang tak bisa berpikir itu disebut hewan atau binatang. Bila penyebutan itu berbeda diberikan sejak zaman dahulu kala itu, maka ceritanya pada hari ini juga akan berbeda. Tentu kita akan menyebut hewan itu manusia bermasyarakat dan manusia itu orang non hewan.

Filsuf Aristoteles menyebut dengan istilah Zoon Politicon. Zoon Politicon merupakan padanan kata dari kata Zoon yang berarti "hewan" dan kata politicon yang berarti "bermasyarakat". Secara harfiah Zoon Politicon berarti hewan yang bermasyarakat. Dalam pendapat ini, Aristoteles menerangkan bahwa menusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain, sebuah hal yang membedakan manusia dengan hewan. Filsuf lain, Immanuel Kant, menambah runyam dengan dalilnya, "Manusia dibedakan di atas semua hewan dengan kesadaran-dirinya, yang mana ia adalah hewan rasionil".

Manusia atau orang, oleh beberapa ahli dapat diartikan dalam perspektif yang berbeda-beda, antara lain dari segi biologis, rohani, dan kebudayaan,, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti makhluk si pemikir). Manusia dilengkapi dengan otak yang berkemampuan tinggi. Manusia memiliki perbandingan massa otak dengan tubuh terbesar di antara semua hewan besar (Lumba-lumba memiliki yang kedua terbesar massa otaknya; hiu memiliki yang terbesar untuk jenis ikan). Meski bukanlah pengukuran mutlak, tapi perbandingan massa otak dengan tubuh memang memberi petunjuk terhadap kemampuan intelektual relatif (Carl Sagan, dalam The Dragons of Eden).

Kemampuan manusia untuk mengenali bayangannya dalam cermin, merupakan salah satu hal yang jarang ditemui dalam kerajaan hewan. Manusia adalah satu dari empat spesies yang lulus tes cermin untuk pengenalan pantulan diri - yang lainnya adalah simpanse, orang utan, dan lumba-lumba. Pengujian yang dilakukan oleh para ahli juga membuktikan bahwa seekor simpanse yang sudah bertumbuh sempurna memiliki kemampuan yang hampir sama dengan seorang anak manusia berumur empat tahun untuk mengenali bayangannya di cermin.

Dalam hal pendekatan kerohanian, manusia memiliki konsep jiwa atau roh, sesuatu yang tak dimiliki oleh hewan. Pada bangsa manusia, kerohanian dan agama memainkan peran utama dalam kehidupan mereka. Namun terhadap konsep jiwa atau roh ini, masih terdapat perdebatan antara para ahli, sebagian menyebut hewan tak punya jiwa, hanya manusia sajalah yang punya jiwa; sebagian lainnya menyebut hewan juga memiliki jiwa. Dalam antropologi kebudayaan, manusia dibedakan dengan hewan dalam hal penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi. Hewan memiliki suara sebagai simbol komunikasi. Tapi untuk bahasa komunikasi hewan ini, manusia tak cukup memiliki kemampuan untuk mempersepsikannya sehingga sering terjadi misinterpretasi dan pada akhirnya terjadi misunderstansding. Tapi salah persepsi kemudian salah interpretasi dan kemudian terjadi misunderstanding alias salah paham, tak hanya terjadi antara bangsa manusia dan hewan, bahkan sesama sebangsa (dan setanah air) sekali pun sering terjadi kesalahan.

Agaknya benar manusia itu adalah hewan yang bermasyarakat, atau hewan tingkat tinggi yang tercanggih otaknya, hewan yang memiliki akal, atau seperti kata Immanuel Kant, hewan yang paling rasional. Artinya, jelas bin tegas manusia bukan hewan biasa. Hanya saja, kalau kita intai perilaku "manusia bermasyarakat" itu, realitasnya membuat kita termenung. Mereka kini hidup dalam persaingan yang semakin kejam, manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia lainnya, begal-membegal, minim akal sehat, pemerkosaan, tipu lawan tipu kawan, dan praktik-praktik hewani lainnya. Kata hewannya, kadang disitu kami merasa sedih.

fabel - Koran Riau 22 Maret 2016
Tulisan ini sudah di baca 693 kali
sejak tanggal 22-03-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat