drh. Chaidir, MM | Keledai Followers | BANGSA keledai (nama latin Equus africanus asinus ) kini bisa berjalan menegakkan kepala. Mereka tak lagi malu terlahir sebagai bangsa Keledai. Musim berganti. Waktu tak pernah berhenti mengepakkan sayap meninggalkan masa lalu membuka lembaran baru. Sejarah bisa ditulis ulang. Fakta terungkap, atau
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Keledai Followers

Oleh : drh.chaidir, MM

BANGSA keledai (nama latin Equus africanus asinus ) kini bisa berjalan menegakkan kepala. Mereka tak lagi malu terlahir sebagai bangsa Keledai. Musim berganti. Waktu tak pernah berhenti mengepakkan sayap meninggalkan masa lalu membuka lembaran baru. Sejarah bisa ditulis ulang. Fakta terungkap, atau fakta disembunyikan sesuai kepentingan. Begitulah tabiat alam, rahasia demi rahasia terbuka, tapi sekian banyak pula realita demi realita menjadi rahasia atau setidak-tidaknya menjadi rahasia umum, masing-masing enggan untuk berterus terang.

Semangat itu membuncah dalam pertemuan tingkat tinggi bangsa Keledai. Semua sumringah. Semua nyengir (tapi sesungguhnya bangsa ini selalu nyengir dalam suka dan duka; dikasih beban ringan nyengir, dikasih beban berat nyengir, dielus nyengir dibentak tuannya, juga nyengir; kelaparan nyengir kekenyangan juga nyengir. Kenapa? Jawabannya, karena keledai memang kek gitu orangnya).

Para pengamat kepo. Gerangan apa yang terjadi dengan bangsa Keledai sehingga mereka terlihat berbunga-bunga? Usut punya usut, diusut-usut, ternyata bangsa Keledai sudah bisa keluar dari stereotype sebagai bangsa yang dungu bin bodoh. Bahkan konon, follower alias pengikut mereka sekarang jumlahnya cukup banyak. Perubahan cepat lingkungan ini tak pernah mereka prediksi sebelumnya. Situasinya sama ketika tradisi saling kirim kartu ucapan lebaran di dunia sebelah, yang menyebabkan kantor pos panen raya, tiba-tiba berganti dengan saling kirim ucapan selamat lebaran melalui SMS.

Perubahan lingkungan yang berlangsung cepat itu tak diperkirakan sama sekali oleh bangsa Keledai. Bahkan yang sangat mengherankan mereka, perubahan mindset itu, terjadi dalam dunia tuannya, makhluk homo sapiens (makhluk si pemikir) itu. Bahwa bangsa keledai dijadikan alegori untuk makhluk yang paling dungu dan bodoh, memang tak bisa dihapus, sebab itu sudah tercantum dalam kitab suci. Lengkingan suara Keledai yang merobek langit, juga disebut sebagai sejelek-jeleknya suara makhluk hidup yang bisa bersuara di muka bumi. Konon ketika binatang diciptakan dan disuruh memilih sendiri suara sebagai alat komunikasi, keledai adalah yang terakhir mengambilnya karena mereka mager (malas bergerak). Maka yang tertinggal adalah suara yang terjelek dari yang terjelek. Menyadari suara mereka jelek, maka keledai jarang bersuara, kecuali sudah amat sangat kelaparan.

Citra bangsa Keledai, dulu, memang dikenal sebagai jenis binatang yang lamban, lambat jalannya, lemah, dungu, terkesan pemalas, "gedongan" (gede dongok kampungan), dan seterusnya. Apalagi Keledai selalu disandingkan kinerjanya dengan kerabat dekatnya, yakni bangsa kuda yang trengginas. Maka semakin terpuruklah keledai. Kebodohan selalu dicapkan pada keledai. Maka bangsa manusia yang bodoh sering disebut seperti keledai. Pemberian stempel bodoh itu beralasan, sebab, seekor keledai selalu menjadi tunggangan dan pemikul beban manusia (tak pernah bisa menolak), dan ketika sampai di tujuan, sang keledai diam saja tidak pandai protes walaupun tak dipedulikan lagi oleh tuannya. Habis manis sepah dibuang. Seekor keledai kadang kala juga memikul sesuatu yang sangat berharga, namun ia tidak bisa mengambil manfaat dari apa yang berada di pundaknya itu.

Namun situasi kini berubah. Bangsa sang tuan keledai (tuan dari Keledai, si empunya) rupanya mulai menyadari keledai taklah sebodoh yang diperkirakan selama ini. Sang Tuan pun menyadari dan mengatakan berulangkali, "Keledai tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya." Peribahasa itu berarti, sebodoh-bodohnya keledai, binatang itu toh belajar dari pengalaman.

Keledai ternyata tidak bodoh, justru amat cerdas dan memorinya kuat. Keledai dengan segera dapat menghapal satu rute perjalanan panjang dan berkelok-kelok dalam sekali tempuh. Dia akan segera hapal, mana lubang, mana batu dan mana bagian jalan yang jelek. Keledai memang terkenal akan sifat keras kepalanya, tapi hal ini dipahami oleh para ahli ilmu tingkah laku hewan sebagai insting kewaspadaan dalam melindungi diri yang sangat kuat. Namun ketika seorang manusia sudah berhasil bersahabat dengan seekor keledai, maka si keledai akan gampang menurut, ramah dan setia.

Bangsa manusia kelihatannya memang sudah banyak yang meniru dan menjadi follower keledai dalam menghadapi berbagai persoalan agar tak terperosok lagi, seperti masalah narkoba, korupsi, komunikasi interpersonal yang buruk, pembakaran hutan dan lahan, perampokan, pembunuhan, perkosaan, premanisme, dan sebagainya. Perubahan mindset bangsa manusia itulah yang membuat bangsa keledai gembira. Kalau belum sepenuhnya berhasil, itu mungkin masalah waktu saja, MasBro.

fabel - Koran Riau 15 Maret 2016
Tulisan ini sudah di baca 651 kali
sejak tanggal 15-03-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat