drh. Chaidir, MM | Jangan Percaya Rubah | AYAM jago itu bercertia sambil memberi tausyiah kepada kelompoknya, yang masing-masing telah bertengger mengambil poisis aman di dahan sebatang pohon. Hari mulai gelap. Mereka ingat petuah orang tua-tua, bila hari sudah mulai senja carilah segera dahan pohon untuk tempat istirahat, semakin tinggi se
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Jangan Percaya Rubah

Oleh : drh.chaidir, MM

AYAM jago itu bercertia sambil memberi tausyiah kepada kelompoknya, yang masing-masing telah bertengger mengambil poisis aman di dahan sebatang pohon. Hari mulai gelap. Mereka ingat petuah orang tua-tua, bila hari sudah mulai senja carilah segera dahan pohon untuk tempat istirahat, semakin tinggi semakin bagus, bila perlu cari dahan yang menyentuh awan, di situ kalian akan aman, sekurang-kurangnya kalian segera bisa melihat bila ada musuh yang datang.

"Kawan-kawan", kata ayam jago membuka cerita.
"Musuh kita sekarang tidak hanya musang berbulu ayam, tapi juga ayam berbulu musang", lanjutnya. Anggota kelompoknya yang sudah akrab dengan jurus tipu daya musang berbulu ayam tertarik dengan istilah ayam berbulu musang, ini agak aneh.
"Apa itu?" seekor bertanya spontan dari ujung dahan.
"Ayam berbulu musang itu jurus tamak, maksudnya untuk menakut-nakuti teman-temannya sendiri sehingga dia bisa makan sepuas-puasnya, karena teman-temannya tak berani mendekat. Tapi yang ingin kuceritakan bukan tentang musang."
"Tentang apa?" Yang lain menyahut, kepo.
"Sekarang banyak modus, hati-hati saja kalian. Modusnya bermacam-macam. Adakalanya, bangsa yang selama ini kita anggap musuh, berbaik hati, bermuka manis, dan berkata lembut kepada kita, mereka tidak menyamar bulu, cara itu sudah usang."

Ayam jago kemudian bercerita tentang pengalaman kisah nyata teman dari temannya. Suatu senja saat matahari mulai tenggelam, seekor ayam jantan (teman dari teman itu) terbang ke dahan pohon untuk bertengger. Sebelum dia beristirahat dengan santai, dia mengepakkan sayapnya tiga kali dan berkokok dengan keras untuk memberi tahu jagad raya tentang eksistensinya. Saat dia akan meletakkan kepalanya di bawah sayapnya, mata nya menangkap sesuatu yang berwarna merah dan sekilas hidung yang panjang dari seekor rubah.

"Sudahkah kamu mendengar berita yang bagus?" teriak sang Rubah dengan cara yang sangat menyenangkan, bersemangat dan terdengar bersahabat.
"Kabar apa?" tanya sang Ayam Jantan dari atas dahan dengan tenang. Tapi dia merasa sedikit aneh dan sedikit gugup, karena sebenarnya sang Ayam jantan takut kepada sang Rubah. Bagaimana pun rubah adalah predator bagi ayam.
"Keluarga bangsamu dan keluarga bangsaku, dan semua hewan lainnya telah sepakat untuk melupakan perbedaan dan permusuhan. Selanjutnya bangsa-bangsa kita akan hidup dalam perdamaian dan persahabatan mulai dari sekarang sampai selamanya." Ujar Rubah sambil menengadahkan kepalanya ke atas dahan. "Cobalah pikirkan, berita ini sangat bagus bagi kita! Aku menjadi tidak sabar untuk memeluk kamu saudaraku! Turunlah ke sini, teman, dan mari kita rayakan dengan gembira." Rubah merasa mantap dengan ungkapan-ungkapannya.

"Bagus sekali!" kata sang Ayam Jantan. "Saya sangat senang mendengar berita ini." Tapi sang Ayam jantan berbicara sambil menjinjit-jinjitkan kakinya di atas dahan seolah-olah melihat dan menantikan kedatangan sesuatu dari kejauhan.
"Apa yang kau lihat?"tanya sang Rubah sedikit cemas.
"Aku melihat sepasang Anjing datang kemari. Mereka pasti telah mendengar kabar baik tentang perdamaian ini dan ingin merayakannya bersama kita."
Tapi sang Rubah tidak menunggu lebih lama lagi untuk mendengar perkataan sang Ayam jantan dan mulai berlari menjauh.
"Tunggu," teriak sang Ayam Jantan tersebut. "Mengapa engkau lari? sekarang anjing adalah teman-teman kamu juga!"
"Ya,"jawab Rubah. "Tapi mereka mungkin tidak pernah mendengar berita itu. Selain itu, saya mempunyai tugas yang sangat penting yang hampir saja saya lupakan."

Ayam jantan itu tersenyum sambil membenamkan kepalanya kembali ke bawah bulu sayapnya yang hangat dan tidur, karena ia telah berhasil memperdaya musuhnya, sang rubah yang sangat licik. Untung dia waspada.

"Dari mana teman abang itu tahu bahwa rubah itu berbohong?" tanya seekor ayam jantan muda. "Kata temanku itu, sekali rubah tetap rubah. Dan itu pelajaran bagi kita jangan mudah tergoda bujuk rayu rubah, dan juga bangsa-bangsa lain yang berperangai seperti rubah. Begitu kita lengah habislah kita."

Kelompok itu tidur tenang masing-masing sambil menyurukkan kepala ke bawah bulu sayapnya yang hangat.

fabel - Koran Riau 8 Maret 2016
Tulisan ini sudah di baca 755 kali
sejak tanggal 08-03-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat