drh. Chaidir, MM | 
Negeri Begal Gajah | MALANG nian nasib gajah. Sampai awal tahun kelima terhitung sejak 2012 tercatat 152 ekor tewas diduga keras sebagian besar dibegal oleh manusia.  Pada  2012 tercatat 28 ekor, 2013 (33 ekor), 2014 (46 ekor), 2015 (42 ekor), dan pada  2016 (sampai bulan Februari, tercatat 3 ekor). Distribusinya per da
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Negeri Begal Gajah

Oleh : drh.chaidir, MM

MALANG nian nasib gajah. Sampai awal tahun kelima terhitung sejak 2012 tercatat 152 ekor tewas diduga keras sebagian besar dibegal oleh manusia. Pada 2012 tercatat 28 ekor, 2013 (33 ekor), 2014 (46 ekor), 2015 (42 ekor), dan pada 2016 (sampai bulan Februari, tercatat 3 ekor). Distribusinya per daerah di Sumatera, yang menjadi habitat Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) ini, di Aceh (48 ekor), Sumut (2), Riau (63), Jambi (7), Bengkulu (10), Sumsel (2), dan Lampung (20 ekor) (sumber Harian Kompas 27/2/2016).

Diperkirakan, populasi mamalia terbesar di dunia itu yang masih hidup sampai sekarang, tinggal sekitar 1300 ekor. Jumlahnya menyusut drastis sekitar 50 persen dalam tempo 10 tahun terakhir. Padahal satwa ini dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Bila kecenderungan itu dibiarkan, dan tidak ada sikap yang tegas dari pemerintah dalam penegakan hukum, maka tak lama lagi satwa tersebut akan punah.

Gajah mati disebabkan karena, pertama, dibegal oleh manusia untuk diambil gadingnya; kedua, dibunuh karena mengganggu kebun/tanaman warga, dan warga merasa terancam keselamatannya; atau ketiga, karena kekurangan makanan, sebab tak lagi tersedia hutan tempat gajah-gajah ini hidup dan makan dari dedaunan hutan. Habitat mereka habis dirambah manusia (dengan atau tanpa izin).

Coba kita lihat beberapa fakta. Di Riau, eks Suaka Margasatwa Balai Raja di Mandau, dan Taman Nasional Tesso Nilo, di Pelalawan, kondisinya sudah porak poranda. Suaka Margasatwa Balai Raja dikatakan sudah tamat riwayatnya, karena dari total 18.000 ha yang disediakan pemerintah kini tinggal 200 ha saja. TNTN disediakan seluas 83.000 ha, diperkirakan hanya tinggal 15.000-18.000 ha. Nyaris seluruh areal yang dirambah itu sudah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit (Kompas 27/2).

Manusia itu memang sangat egois, mereka boleh merambah habitat gajah, tapi gajah jangan coba-coba masuk ke habitat manusia, nyawa gajah jadi taruhannya. Manusia bisa protes sebagai pelanggaran HAM bila ada hak asasi mereka yang dilanggar atau ada kesan pembiaran oleh pemerintah, para aktivis HAM akan ribut seribut-ributnya seperti ayam gadis bertelur; yang bertelur hanya seekor tapi ributnya sekampung. Namun siapa yang peduli terhadap pelanggaran Hak Asasi Hewan (HAH)? Tak terhitung jumlah hewan yang mati akibat ulah manusia. Tak terhitung jumlah anak-anak hewan yang mati karena induknya dibunuh.

Memang, bila hak asasi kedua jenis makhluk tersebut (HAM dan HAH) terancam, prioritas tentulah kepentingan HAM, barulah kemudian HAH bila itu menyangkut satwa yang dilindungi. Padahal ide HAH sesungguhnya sama dengan HAM. Hak-hak dasar hewan non-manusia harus dianggap sederajat sebagaimana hak-hak dasar manusia. Filsuf Peter Albert David Singer menulis dalam bukunya "Animal Liberation" (1975), secara filosofis untuk kepentingan HAH dan HAM, makhluk-makhluk ini (manusia dan hewan) harus dibebaskan dari penderitaan tiada tara. Pendapat Singer diperkuat oleh Gary L. Francione dalam artikelnya, "Animals as Persons: Essays on the Abolition of Animal Exploitation" (2008). Baik Peter Singer maupun Profesor hukum Gary Francione, mereka setuju bahwa hewan harus dipandang sebagai orang non-manusia, tapi dari segi moralitas, hewan (orang non-manusia) itu adalah anggota komunitas moral.

Manusia secara tak bermoral bisa menggunakan senjata untuk melumpuhkan gajah yang tak berakal; senjatanya bisa bedil bisa jerat, bisa juga racun arsenik seperti arsenik dalam kopi maut yang bikin gaduh itu. Pemerintah dan aparat hukum pasti lebih membela kepentingan manusia dibanding gajah. Di Aceh konon ada genk begal gajah, namanya "Papa Genk" (bukan genk Papa Minta Saham). Tapi, 14 orang anggota genk yang ditangkap, divonis ringan saja di pengadilan; mereka hanya diberi hukuman percobaan delapan bulan. Artinya pembegal ini tidak harus menjalani hukuman penjara.

Konflik kepentingan manusia dan gajah dipastikan semakin meruncing, saling berlomba berebut wilayah yang menjadi sumber kehidupan, bahkan saling bunuh. Sudah banyak korban jatuh di kedua belah pihak; yang terbanyak tentulah di pihak gajah. Bila tak dilerai, gajah akan punah.

Padahal di mata gajah, manusia itu tidak ada apa-apanya, gajah tidak takut. Bila bertempur dengan tangan kosong, jangankan satu lawan satu, satu lawan sepuluh pun gajah tidak akan lari. Untuk diketahui manusia, gajah lebih takut pada semut daripada dengan manusia; karena gajah tahu, semut tahu kelemahan mereka. Manusia tidak, manusia hanya bermodal kekuasaan yang tak bermoral untuk membegal gajah. Tapi manusia memang kek gitu orangnya.

fabel - Koran Riau 1 Maret 2016
Tulisan ini sudah di baca 520 kali
sejak tanggal 01-03-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat