drh. Chaidir, MM | Fenomena LGBT Pada Hewan | KAPANKAH kebutuhan dasar manusia berhimpitan dengan kebutuhan dasar hewan? Jawabannya, bila kebutuhan dasar manusia itu hanya makan, minum dan seks. Sekali lagi
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Fenomena LGBT Pada Hewan

Oleh : drh.chaidir, MM

KAPANKAH kebutuhan dasar manusia berhimpitan dengan kebutuhan dasar hewan? Jawabannya, bila kebutuhan dasar manusia itu hanya makan, minum dan seks. Sekali lagi "bila hanya" makan, minum dan seks; bila hanya itu, maka makhluk berkaki dua atau berkaki empat, tak ada bedanya. Oleh karena itulah pakar psikologi, Abraham Maslow, dalam teori "Basic Need"-nya, menggambarkan kebutuhan dasar (basic need) manusia itu berupa piramida.

Dalam konsep Piramida Maslow tersebut, kelompok manusia yang basic need-nya hanya makan, minum, dan seks, jumlahnya paling besar dan diletakkan di bagian dasar piramida. Di atas kebutuhan dasar itu ada kebutuhan rasa aman. Kedua kebutuhan dasar ini dikelompokkan sebagai kebutuhan fisiologis atau kebutuhan tubuh. Di atasnya lagi adalah kebutuhan social, yakni kebutuhan akan perlunya rasa kasih sayang, persahabatan, kekeluargaan, kebutuhan akan harga diri dan kebutuhan akualisasi diri.

Berbicara tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) pada manusia, tentulah menyangkut sexual behavior. Tapi, apakah itu semata tentang kelompok yang berada pada dasar Piramida Maslow itu? Tentu tidak, sama sekali tidak. Sebab, perilaku LGBT, yang menyimpang dari kategori orientasi seksual secara tradisional itu, yakni orientasi seks yang berlaku umum, kita tidak hanya berbicara tentang kelompok bawah yang marjinal. Orientasi LGBT tersebut bisa dimiliki siapa saja, si miskin atau si kaya, orang biasa atau orang hebat, rakyat atau pejabat, pegawai pemerintah atau swasta, penyanyi hebat atau bintang film, semuanya berpeluang.

Beberapa kajian pada hewan yang dilakukan oleh para ahli, orientasi seksual itu tergantung dari cetakan bagian otak yang disebut hypothalamus, yakni bagian otak yang mengontrol pelepasan hormon seks seseorang. Bila cetakan otak bagian ini lebih kecil dibandingkan normalnya, maka individu akan cenderung berperilaku LGBT. Bila normal, maka orientasi seksnya heteroseksual, alias normal atau bisa juga biseksual (sejenis atau berlainan jenis ok).

Makhluk hewan tentu saja sepenuhnya berada di zona terbawah dalam konsep Piramida Maslow, mereka tak memiliki kebutuhan social seperti ikatan persaudaraan, persahabatan, pernikahan, harga diri dan aktualisasi diri. Semua kebutuhan social ini hanya milik homo sapiens (manusia makhluk pemikir). Memang, karena mampu berpikir, manusia sering meniru tingkah laku hewan, dan hewan pula dalam batas-batas tertentu bisa diajari meniru manusia, tetapi tidak dalam hal orientasi LGBT.

Persoalannya, bisakah disebut adanya kelompok yang memiliki orientasi LGBT pada hewan? Selama ini orientasi homoseksual pada hewan misalnya, dianggap tak lebih dari sebuah anomaly (penympangan), sampai kemudian Bruce Bagemihl (1999) menerbitkan buku hasil penelitiannya yang berjudul Biological Exuberance. Ia memaparkan banyak contoh binatang (domba, kera ponobo, burung albatross, lalat hijau, kumbang, dan sebagainya) yang memiliki sifat LGBT.

Menurut penelitian beberapa peneliti kemudian yang terpancing buku Biological Exuberance, berbagai macam perilaku LGBT pada binatang dapat ditemui di seluruh anggota Kingdom Animalia (kerajaan hewan). Kurang lebih terdapat 1.500 spesies yang telah ditemukan melakukan perilaku LGBT, dan 500 di antaranya terdokumentasi dengan baik. Spesies-spesies tersebut bervariasi dari primata hingga cacing acanthocephala (wikipedia.org).

Domba peliharaan (Ovis aries) adalah salah satu contoh penting adanya perilaku LGBT pada dunia hewan, ketika 8-10 persen pejantannya lebih tertarik pada sesama pejantan daripada domba betina. Persaingan sangat ketat terjadi di antara kera-kera Jepang saat musim kawin tiba di musim dingin. Kera jantan tidak hanya bersaing dengan pejantan-pejantan lain untuk mendapatkan kera betina, tapi mereka juga bersaing dengan kera-kera betina yang tak mau kehilangan pasangannya sesama kera betina.

Fenomena orientasi LGBT, baik di dunia hewan atau di dunia manusia, memang sudah "dari sono"-nya. Maka pertanyaan siapa meniru siapa, tidak relevan. Masing-masing bangsa (hewan dan manusia), hidup dalam fenomenanya sendiri. Namun sejujurnya beberapa peneliti menyebut, LGBT pada dunia hewan sesungguhnya, tak sepenuhnya bisa diselami seluk-beluknya sebagaimana kita menyelami seluk-beluk LGBT pada manusia yang akhir-akhir ini menimbulkan kegaduhan.

fabel - Koran Riau 23 Februari 2016
Tulisan ini sudah di baca 681 kali
sejak tanggal 23-02-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat