drh. Chaidir, MM | Kambing di Mulut | LENGKAPNYA bidal itu berbunyi:
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kambing di Mulut

Oleh : drh.chaidir, MM

LENGKAPNYA bidal itu berbunyi: "Harimau di perut hendaknya kambinglah di mulut." Maknanya kira-kira, seburuk apapun situasinya atau semarah apapun seseorang, isi perut yang buruk dan berbau busuk itu tidak usah disemburkan di mulut dalam bentuk kata-kata yang tak sopan, cacian, makian, hujatan, sumpah serapah dan sebagainya. Tenang saja, simpan saja, tidak perlu diperlihatkan ke orang lain apalagi ke khalayak.

Orang tua-tua kita bahkan mengingatkan, "Mulutmu harimaumu". Kalau harimau di perut itu di keluarkan di mulut, maka mulutmu akan menjadi harimau bagimu, yang setiap saat bisa menerkam pemiliknya. Maknanya, ucapan yang tidak sopan, cacian atau tidak dapat dipertanggung jawabkan, akan menimbulkan masalah serius bagi pemiliknya. Itu mulut bisa kena bogem mentah, atau ketupat Bengkulu, atau gigi akan berpisah dari gusi. Atau sang pemilik mulut bisa dipenjara karena dianggap menyebarkan fitnah, atau pencemaran nama baik.

Ucapan itu adalah bahasa verbal, dan bahasa verbal itu adalah alat komunikasi. Nah, dalam sudut pandang ilmu komunikasi, sang pemilik mulut disebut komunikator, kata-kata yang dikeluarkan dari mulut adalah pesan (message), dan orang lain atau khalayak yang mendengarkan pesan dari komunkator adalah komunikan. Bila komunikan memahami dengan jelas pesan yang disampaikan komunikator, maka komunikasi itu dianggap sukses.

Di sini, berlakulah hukum kumunikasi, pesan yang sama yang diucapkan oleh komunikator yang berbeda dengan cara yang berbeda, bisa menimbulkan perbedaan makna dalam penerimaan dari komunikan. Apalagi komunikannya berbeda. Maka, sebuah komunikasi yang sukses dipengaruhi oleh banyak faktor. Bisa dipengaruhi oleh perilaku sang komunikator (karakter, pendidikan, kekuasaan, etos, latar belakang keluarga, budaya, lingkungan dan sebagainya). Bisa pula dipengaruhi oleh bentuk pesan itu sendiri (verbal, non verbal, saluran penyampaian pesan, dan sebagainya). Dan bisa pula dipengaruhi oleh perilaku komunikan itu sendiri.

Karakter komunikator merupakan sesuatu yang sangat penting dalam keberhasilan komunikasi. Aristoteles menyebutnya sebagai ethos, yang terdiri dari pikiran yang baik (good sense), akhlak yang baik (good moral character), dan maksud yang baik (good will). Filsuf lain, Quintillianus menulis, "A good man speaks well" (orang baik berbicara baik).

Komunikan menjadi faktor lain yang sangat penting, apalagi meliputi khalayak. Khalayak bisa bersahabat dengan komunikator dan pesan yang dibawanya; dalam keadaan ini, maka persuasi dari sang komunikator akan dengan mudah diterima oleh komunikan. Tapi apabila khalayak tidak bersahabat, apalagi bermusuhan, maka pesan yang dibawa akan ditolak mentah-mentah. Dalam kondisi lain, kkalayak yang acuh tak acuh alias apatis, tak peduli dengan pesan yang dibawa oleh sang komunikator.

Komunikasi antar manusia sesungguhnya sehari-hari kita alami. Bukankah manusia itu makhluk social? Namun walaupun komunikasi itu sederhana dan menjadi makanan sehari-hari, miskomunikasi alias salah komunikasi (miscommunication) sering terjadi dalam masyarakat kita. Salah komunikasi akan menimbulkan salah persepsi (misperception). Selanjutnya, salah persepsi akan menimbulkan salah interpretasi (misinterpretation), dan pada gilirannya, salah interpretasi akan menimbulkan salah paham (misunderstanding). Dan bila salah paham itu terjadi dalam skala luas di tengah masyarakat, maka akan timbul krisis kepercayaan dan penurunan citra.

Banyak peristiwa yang terjadi di sekeliling kita akibat salah paham atau salah pengertian. Tidak jarang menimbulkan pertengkaran, perkelahian bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Salah paham antara pemerintah atau politisi dengan rakyat akan menimbulkan kegaduhan, dan repotnya sekali pemerintah atau politisi salah ucap, akan sulit untuk diperbaiki, walau dengan permintaan maaf sekalipun. Sebab, komunikasi itu irreversible sifatnya. Sekali ucapan keluar dari mulut, tak lagi bisa ditarik.

Maka hati-hatilah dalam bicara, mulutmu harimaumu; harimau di perut kambing jualah yang dikeluarkan. Mmmmbeek....

fabel - Koran Riau 16 Februari 2016
Tulisan ini sudah di baca 758 kali
sejak tanggal 16-02-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat