drh. Chaidir, MM | Berteman Dengan Kera | APA susahnya berteman dengan kera? Mungkin tidak susah, apalagi keranya sudah jinak karena dipelihara sejak kecil. Hewan primata itu boleh dibilang cerdas karena jumlah chromosomnya hampir sama dengan manusia. Tapi jelas, tak seperti manusia, kera tak punya akal budi. Basic needs-nya (meminjam piram
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berteman Dengan Kera

Oleh : drh.chaidir, MM

APA susahnya berteman dengan kera? Mungkin tidak susah, apalagi keranya sudah jinak karena dipelihara sejak kecil. Hewan primata itu boleh dibilang cerdas karena jumlah chromosomnya hampir sama dengan manusia. Tapi jelas, tak seperti manusia, kera tak punya akal budi. Basic needs-nya (meminjam piramida hirarki kebutuhan dasar Maslow), atau kebutuhan dasarnya, hanya menuruti isting. Kebutuhan dasar kera adalah kebutuhan fisiologis alias kebutuhan tubuh, yakni makan, minum dan sex.

Jangan bandingkan dengan manusia, karena pada kondisi yang paling primitive sekali pun, tingkat kebutuhan dasar manusia lebih tinggi dari kera. Kera tak memiliki kebutuhan dasar terhadap rasa aman dalam jiwanya, atau kebutuhan terhadap rasa persahabatan, atau kebutuhan terhadap rasa percintaan yang kemudian memerlukan lembaga pernikahan untuk memuaskan jiwanya. Tidak. Kera tak pernah memiliki rasa seperti itu dalam jiwanya. Otaknya tak pernah berpikir tentang kebutuhan tersebut.

Apalagi misalnya, terhadap kebutuhan dasar yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan self esteem, kebutuhan dasar ingin dihargai oleh pihak lain. Kera tak pernah berhiba hati misalnya, kenapa temannya diajak, dia tidak. Perasaan kebutuhan minta dihargai hanya ada pada dunia manusia. Seseorang akan merasa tidak dihargai apabila dia diperlakukan ibarat mentimun bungkuk. Hadir, hadirlah tapi tidak dihitung, artinya kehadirannya tidak menambah hitungan. Atau, kalau mau pergi, pergilah. Kepergiannya tidak mengurangi jumlah hitungan.

Bila seseorang diperlakukan demikian, dia akan tersinggung harga dirinya, maka berlakulah pepatah "daripada hidup menanggung malu lebih baik mati berkalang tanah." Tradisi lama yang berlaku dalam masyarakat Jepang, daripada menanggung malu tidak dihargai oleh masyarakatnya, mereka lebih baik harakiri alias bunuh diri. Tradisi seperti itu sekarang mungkin sudah jauh berkurang atau bahkan mungkin tidak lagi dilakukan, tapi untuk menebus malu, orang Jepang melakukannya dengan cara lain, misalnya mundur dari jabatannya. Itu lebih terhormat.

Kera tidak memiliki self esteem. Apalagi kebutuhan aktualisasi diri (self actualization), kebutuhan dasar tertinggi manusia yang ditempatkan oleh Maslow dalam hirarki kebutuhan dasar yang diciptakannya berada pada puncak piramida. Bila kebutuhan dasar sesorang sudah terpenuhi secara berjenjang: penghasilan yang baik yang diperoleh dari pekerjaan karena kompetensinya, persahabatan dan keluarga bahagia, dihormati karena memiliki kapasitas dan kepribadian yang teruji, maka wajar bila seseorang itu mengaktualisasikan dirinya, dipercaya menduduki jabatan ini, itu dan seterusnya.
Sekali lagi, hirarki kebutuhan dasar yang berjenjang seperti itu tak dimiliki oleh kera. Kera tetaplah kera, suka makan pisang dan buah-buahan, dan hidup dari pohon ke pohon dalam hutan.Tapi buku "The One Minute Manager Meets Monkey" yang ditulis oleh tiga orang raksasa bisnis literature, yakni Kenneth Blanchard, William Oncken, Jr dan Hal Burrows, bercerita banyak tentang kera atau bercerita tentang kera yang banyak.

Buku The One Minute Manager Meets Monkey atau bila diterjemahkan secara bebas "Manajer Satu Menit Bertemu Kera" menjadikan kera sebagai metafora dalam kehidupan modern yang sangat sibuk luar biasa. Kisah kera ini secara jenaka menggambarkan prinsip-prinsip yang sangat berharga bagi para manajer di semua level, prinsip-prinsip yang segera bisa diaplikasikan. Testimoni dari Rudolf Solomon dari San Fransisco Examiner ditempatkan pada bagian atas cover belakang, "Buku ini memiliki pesan penting bagi semua manajer yang bertanya-tanya mengapa mereka bekerja hingga malam hari dan juga di akhir pekan, sementara asisten mereka bersantai."

Mengapa? Buku ini menjawab, karena terlalu banyak kera yang gentayangan di ruang kerja sang manajer, bahkan beberapa di antara kera tersebut naik ke punggung sang manajer. Tentu saja ini sebuah metafora di Amerika oleh penulis Amerika. Kera-kera yang dimaksud adalah masalah-masalah yang bertimbun-timbun di ruang kerja sang manajer. Masalah-masalah tersebut mungkin sang manajer sendiri yang menyebabkannya, atau sang manajerlah akar masalahnya. Atau masalah-masalah tersebut bukan masalah sang manajer, tetapi manajer berbaik hati mengemban masalah tersebut sehingga menyita waktunya, yang sebenarnya tidak perlu.

Bila kia membuat analogi dengan cerita dalam buku One Minute Manager Meets Monkey, sadarlah kita betapa di negeri kita ini, ada ratusan kera dalam kamar kerja presiden, kamar kerja menteri, kamar kerja anggota DPR, kamar kerja gubernur, bupati dan seterusnya. Pekerjaan pokok tak selesai, pekerjaan tumpangan yang banyak, atau lain yang dibicarakan lain yang dikerjakan. Lain gatal lain digaruk. Kita memang suka berteman dengan kera.

fabel - Koran Riau 9 Februari 2016
Tulisan ini sudah di baca 545 kali
sejak tanggal 09-02-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat