drh. Chaidir, MM | Politik Ular dan Burung Merpati | ULAR memiliki sifat yang dianggap cerdik. Hewan melata ini berjalan meluncur dengan mudah dan enteng, nyaris tak terdengar. Walau tak punya kaki dan tangannya layaknya manusia dan hewan lain, ular bisa bergerak cepat dan gesit. Di sela-sela rintangan, badannya yang panjang dan ramping secara luwes m
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Ular dan Burung Merpati

Oleh : drh.chaidir, MM

ULAR memiliki sifat yang dianggap cerdik. Hewan melata ini berjalan meluncur dengan mudah dan enteng, nyaris tak terdengar. Walau tak punya kaki dan tangannya layaknya manusia dan hewan lain, ular bisa bergerak cepat dan gesit. Di sela-sela rintangan, badannya yang panjang dan ramping secara luwes menyesuaikan, tapi di areal bebas hambatan ular justru meluncur dengan membelok-belokkan badannya untuk mendapatkan daya dorong yang kuat. Dan hati-hati, bila merasa terganggu, ular akan menyerang dengan jurus yang mematikan lawan.

Politisi jelas bukan ular. Tapi menurut filsuf Cicero (106-43 SM), politisi mirip seperti ular. Mereka memiliki keterampilan bermanuver dengan luwes dan cepat, meluncur dengan gesit dan tangkas, bila perlu tak bersuara, bahkan tak terlihat. Mereka memiliki kecerdikan dan kelicikan, ulet dan memiliki pula kemampuan berkelok-kelok seperti ular. Cicero agaknya belum tahu, atau pura-pura tidak tahu, atau sengaja tak memasukkan dalam pandangannya, persis seperti ular, jangan ganggu politisi, mereka akan menyerang dengan jurus yang berbahaya. Bila yang mengganggu sesama politisi, mereka akan bilang, sesama bis kota dilarang saling mendahului, atau mereka akan saling bersitegang, jeruk dilarang makan jeruk.

Politisi dan ular, dan sifat kebinatangan lainnya itu, diuraikan dalam hampir dua halaman dari 27 halaman naskah pidato Pengukuhan Guru Besar Prof Dr Sudi Fahmi, SH MHum yang disampaikannya pada tanggal 20 Januari beberapa hari lalu dalam Sidang Senat Terbuka Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru, Riau. Prof Sudi menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul "Etika dan Penegakan Hukum Dalam Dinamika Kehidupan Politik Ketatanegaraan Indonesia". Dan uraian tentang politik ular itu adalah ilustrasi di bawah subjudul, Parpol Oligarkis Melahirkan Politisi Tuna Moral.

Kegelisahan Prof Sudi Fahmi terhadap moral politisi dan penguasa bangsanya dewasa ini (khususnya di elit politik dan pemerintahan, yang menyebabkan centang perenangnya wajah perpolitikan Tanah Air), yang dicontohkannya dari kasus heboh "Papa Minta Saham" disindirnya dengan mengutip pendapat filsuf Jerman Immanuel Kant (1724-1804), jadilah cerdik seperti ular dalam berpolitik. Namun pada saat yang sama Prof Sudi menyandingkannya dengan nasihat Kant, "....dan tuluslah seperti merpati."

Merpati adalah lambang perdamaian, burung yang setia dan komit. Walaupun mereka sudah terbang mengembara seharian berkilo-kilo meter jauhnya mencari makan, mereka tak pernah lupa pulang ke kandang. Dengan kata lain, banyak politisi yang bermental ular tapi juga tak sedikit yang bermental burung merpati.

Masih belum puas dengan politik ular dan burung merpati, Prof Sudi menyitir pula pendapat Macchiavelli (1469-1527), bahwa seorang penguasa harus mengetahui bagaimana menggunakan sifat manusia dan sifat binatang, dan bahwa menggunakan salah satu tanpa yang lainnya tidak akan dapat bertahan. Dalam hal sifat binatang, Machiavelli mengatakan, seorang penguasa harus menjadi rubah agar mengenal perangkap-perangkap dan menjadi singa untuk menghalau serigala-serigala. Maksudnya barangkali, kekuasaan itu harus direbut dan kemudian dipertahankan dengan segala macam cara sekaligus dengan menghalalkan segala macam cara. Kita tentu paham Macchialvelli. Macchiavelii memang kek gitu orang.

Singa dan rubah hidup berkelompok, urai Prof Sudi. Ciri-ciri kehidupan berkelompok adalah selalu bekerjasama dalam menghadapi berbagai persoalan, saling menjaga, saling melindungi. Jika ada anggota kelompoknya terancam, kawan-kawannya pasang badan membela mati-matian dengan segala cara, halal haram tak soal. Tak peduli masuk akal atau tidak. Begitulah karakter berkelompok atau berkoalisi para politisi kita. Benar atau salah tak lagi menjadi tolok ukur. Tolok ukurnya adalah, in-group atau non-group. Maka jangan heran bila benang basah pun berupaya untuk ditegakkan dengan segala macam cara.

Sebuah hipotesis yang mungkin belum sempat dikaji oleh Prof Immanuel Kant dan Prof Cicero adalah, siapa yang meniru siapa sebetulnya. Manusia meniru tingkah laku hewankah atau hewan yang meniru tingkah laku manusia. Satu hal pasti, dan Prof Sudi agaknya mafhum, ular, merpati, rubah dan singa, dan hewan-hewan lain tak pernah bohong. Dan dalam hal ini manusia selalu gagal meniru hewan.


fabel - Koran Riau 26 Januari 2016
Tulisan ini sudah di baca 749 kali
sejak tanggal 26-01-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat