drh. Chaidir, MM | Jeruk Makan Jeruk
 | MANUSIA sesungguhnya bukan pemangsa manusia lain, terutama bila padanan logikanya seperti harimau dan kambing, musang dan ayam, ular dan tikus, atau cicak dan nyamuk. Atau hewan-hewan lain, yang satu jadi mangsa yang lain jadi pemangsa. Tapi tragisnya manusia, sang makhluk pemikir (homo sapiens) itu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Jeruk Makan Jeruk

Oleh : drh.chaidir, MM

MANUSIA sesungguhnya bukan pemangsa manusia lain, terutama bila padanan logikanya seperti harimau dan kambing, musang dan ayam, ular dan tikus, atau cicak dan nyamuk. Atau hewan-hewan lain, yang satu jadi mangsa yang lain jadi pemangsa. Tapi tragisnya manusia, sang makhluk pemikir (homo sapiens) itu, mereka bisa menjadi serigala bagi manusia lainnya, seperti disebut filsuf Thomas Hobbes, "homo homini lupus".
Dalam istilah gaul, homo homini lupus bisa diartikan jeruk makan jeruk. Manusia yang satu bisa menjadi pemangsa, manusia lainnya jadi mangsa. Tapi istilah jeruk makan jeruk bukan dalam arti kanibalisme, ketika manusia yang satu sungguh-sungguh memakan manusia lain (seperti di zaman-zaman dulu kala ketika ada suku-suku di pedalaman yang memakan daging musuhnya dari suku lain). Homo homini lupus alias jeruk makan jeruk, dalam masyarakat modern berarti manusia yang satu atau kelompok yang satu menjadi korban keganasan dari manusia atau kelompok lain yang tak punya perasaan.
Justru dalam masyarakat modern jeruk makan jeruk semakin menjadi-jadi. Sekelompok orang menjadi teror bagi orang lain. Sekelompok orang tak segan-segan menghabisi nyawa orang lain. Bahkan sesuatu yang sangat ekstrim terjadi di hadapan kita, sesuatu yang tak pernah terbayangkan dengan logika akal sehat, seseorang meledakkan dirinya untuk mencelakakan orang lain. Tragisnya, hanya pelaku bom bunuh diri itu sendiri (tentu dengan kelompoknya) yang tahu apa yang menjadi motifnya, orang yang selamat dari ledakan bom tersebut hanya bisa berasumsi atau menduga-duga alasan pelaku meledakkan dirinya sendiri. Kita menduga itu propaganda dari satu kelompok yang memaksakan kehendaknya; orang lain harus mengikuti kehendaknya.

Sama-sama meledakkan diri, tapi motifnya sama sekali beda, adalah ketika pilot-pilot pesawat tempur pasukan Kamikaze Jepang menghajar kapal-kapal armada Angkatan Laut Sekutu di Samudra Pasifik dalam Perang Dunia II. Pilot Kamikaze Jepang siap mati membela negaranya. Pilot Kamikaze Jepang menghantamkan pesawatnya ke kapal-kapal perang sekutu dengan semangat patriotisme maksimal. Dan dunia memahami motif itu.

Sesungguhnya manusia adalah makhluk pemikir. Manusia diberi akal budi, tidak seperti hewan. Tapi hewan memberi banyak cermin kehidupan kepada manusia. Hewan tidak pernah konyol mencelakakan sesama bangsanya. Perkelahian memperebutkan makanan memang sering terjadi, tapi perkelahian itu motifnya jelas, tidak terstruktur sistematis dan massive (TSM) seperti yang terjadi di kalangan bangsa manusia.

Hewan adakalanya berdamai, bahkan dengan mangsanya sekalipun. Seekor singa yang bernama Zion berteman akrab dengan Frikkie Solms (69) di Afrika Selatan. Siapapun tahu, singa adalah binatang buas predator yang kapan saja bisa memangsa orang, termasuk memangsa Frikki. Aochan, seekor ular tikus berusia dua tahun yang tinggal di kebun binatang Mutsugoro Okoku, Tokyo, menolak memangsa Gohan, seekor tupai kecil. Penjaganya terkejut menyaksikan, yang berkembang justru terjadinya persahabatan tak lazim di antara dua makhluk beda bangsa tersebut. Ada pula persahabatan tak lazim antara anjing yang diberi nama Hazel dan burung hantu yang diberi nama Boobah. Bukankah anjing dan burung hantu sangat jauh berbeda? Namun secara dramatis terlihat jelas persahabatan antara Boobah dan Hazel (google.com).
Baru-baru ini, sebagaimana diberitakan Kompas.com, Pemandangan sangat langka dan menakjubkan terjadi di taman safari di kota Vladivostok, Rusia. Seekor harimau dan kambing bersahabat. Secara logika, kambing ini sudah seharusnya mati disantap oleh harimau Siberia itu, yang biasanya memang diberi seekor mangsa hidup. Namun, ternyata kedua hewan ini saling bersahabat.


Dilaporkan oleh Kantor Berita AFP (10/12/2015), sampai sekarang, kedua hewan ini hidup berdampingan dengan damai dan tinggal di satu kandang. Di tengah dinginnya salju yang sedang melanda Rusia, si harimau Amur dan si kambing yang diberi nama Timur malahan saling bermain dan berkejaran menikmati persahabatan mereka. Cerita persahabatan kedua hewan ini membuat terharu banyak warga Rusia sehingga petugas taman safari dengan rutin merilis foto-foto terbaru persahabatan kedua hewan itu.

Kepala Taman Safari, Dmitry Mezentsev, yang merupakan pakar harimau mengatakan, persahabatan tersebut adalah sebuah keajaiban. "Ini adalah tanda dari Tuhan, manusia seharusnya melihat diri mereka sendiri, perang di mana-mana, Ukraina, Suriah, padahal kedua hewan ini dapat hidup dengan rukun," ucap Mezentsev.

Setuju Tuan Mezentsev. Sekarang tidak hanya perang, aksi-aksi teror bom bunuh diri juga terjadi dimana-mana. Tanda pagar #Ayobergurupadahewan.


fabel - Koran Riau 19 Januari 2016
Tulisan ini sudah di baca 1225 kali
sejak tanggal 19-01-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat