drh. Chaidir, MM | Manusia-Manusia Hewan |  ANTARA percaya dan tidak. Dalam bahasa gaul di Pekanbaru,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Manusia-Manusia Hewan

Oleh : drh.chaidir, MM

ANTARA percaya dan tidak. Dalam bahasa gaul di Pekanbaru, "Te-i-te-i" (Tah iya tah indak), entah iya entah tidak. Namun foto-foto dari proyek yang dikerjakan oleh Julia Fullerton Batten ini membuat kita tertegun, seakan berasal dari alam mimpi dan seperti cerita dunia dongeng. Namun kehidupan yang digambarkannya nyata adanya.

Kisah ini adalah kisah anak-anak yang dibesarkan oleh hewan. Bertahun-tahun hidup di antara hewan, membuat mereka mengikuti perilaku dan memiliki ikatan kuat dengan hewan yang membesarkannya. Rasanya, dengan akal sehat, tidak mungkin itu terjadi, tapi itu terjadi. Kenapa manusia seperti mudah beradaptasi dengan kehidupan hewan, tidak sebaliknya?

Jangan-jangan, peribahasa "masuk ke kandang kambing mengembik masuk ke kandang kerbau menguak" tidak hanya sebatas perumpamaan, tapi nyata dalam kehidupan. Seorang anak kecil yang hidup bersama kawanan anjing, dia berjalan merangkak berkaki empat layaknya anjing dan, dia menggonggong seperti anjing. Seorang anak kecil yang tumbuh besar di kandang ayam selalu mengepak-ngepakkan tangannya dan berkotek seperti ayam.

Sebaliknya, anjing atau kucing, atau musang, atau harimau yang sejak bayinya dipelihara oleh orang, tak pernah bisa berjalan berkaki dua dan pandai berbicara layaknya manusia. Burung beo pandai meniru karena dilatih secara khusus.

Julia Fullerton Batten memotret kisah tragis anak manusia yang beradaptasi dengan kehidupan hewan. Mereka adalah anak-anak malang, yang ketika masih sangat kecil terbuang, disengsarakan, ditinggalkan oleh keluarganya dan mencoba bertahan hidup di tengah ganasnya lingkungan. Mereka lari dari kehidupan manusia dan lebih memilih hidup dan bergabung di antara hewan, karena mereka merasa lebih nyaman berada di anatara hewan daripada manusia.

Fullerton Batten menemukan Oxana di Ukraina pada 1991, hidup di antara anjing-anjing di sebuah kandang. Usianya delapan tahun ketika itu, ia sudah tinggal bersama mereka selama enam tahun. Kedua orangtuanya pemabuk, dan suatu hari mereka meninggalkan Oxana begitu saja di luar rumah. Demi mencari kehangatan, gadis kecil itu merangkak menuju kandang anjing di ladang, kemudian meringkuk bersama anjing-anjing gelandangan dan kemungkinan besar tindakan itu menyelamatkan hidupnya.

Ia berlari dengan menggunakan kaki dan tangannya, menjulur-julurkan lidah, memperlihatkan gigi dan menggonggong. Karena hampir tak pernah berhubungan dengan manusia. Oxana sekarang tinggal di sebuah klinik di Odessa dan bekerja di sebuah rumah sakit hewan.

Kisah yang hampir sama dengan Oxana juga terjadi di India, pada seorang anak yang diberi nama Shamdeo. Anak ini ditemukan di sebuah hutan pada tahun 1972. Ia diduga berusia empat tahun. “Ia sedang bermain dengan anak serigala. Kulitnya amat gelap, dan giginya tajam, kuku runcing, rambut kusut masai dan kapalan di telapak kaki, kedua siku dan lutut. Ia senang sekali berburu ayam, makan tanah dan gemar darah. Ia punya ikatan kuat dengan anjing,” kata Julia.

Kasus John Ssebunya dari Uganda (1991), juga idem dito. John lari dari rumah tahun 1988 setelah ia melihat ayahnya membunuh ibunya. Ketika itu ia berumur tiga tahun. Ia kabur ke hutan dan hidup di antara monyet-monyet. Ia ditemukan tahun 1991, sekitar enam tahun usianya dan ditempatkan di panti asuhan. Saat ditemukan, lututnya kapalan karena berjalan seperti monyet.

Mirip dengan nasib John Ssebunya dari Uganda, Marina Chapman jauh sebelumnya (1959) sudah menghebohkan karena ditemukan hidup bersama monyet di hutan Colombia. Kisahnya, gadis kecil ini diculik pada tahun 1954 dari sebuah desa terpencil di Amerika Selatan dan tinggalkan oleh penculiknya di hutan. Saat itu usianya lima tahun. “Ia hidup bersama keluarga monyet capuchin selama lima tahun, sebelum ditemukan oleh pemburu,” kata Fullerton Batten.

Chapman kini tinggal di Yorkshire dengan seorang suami dan dua orang anak. “Karena ceritanya amat tidak biasa, banyak orang tidak percaya. Mereka menyinari badannya dengan sinar X dan melihat tulang-tulangnya. Ia benar-benar kekurangan nutrisi karena pengalaman masa kecilnya itu, dan mereka menyimpulkan hal itu sangat mungkin terjadi.” ucap Fullerton.

Sujit Kumar dari Fiji (1978) berumur delapan tahun ketika ditemukan di tengah jalan berkotek-kotek dan mengepak-ngepakkan tangan seperti ayam,” kata Fullerton Batten. Ia mematuk makanannya, meringkuk di kursi seakan-akan seekor ayah jantan dan mendecak-dekakan mulut dengan lidah. Orang tuanya menguncinya di kandang ayam. Ibunya bunuh diri dan ayahnya tewas sebagai korban pembunuhan.

Untunglah sebagian kisah yang dipotret oleh fotografer Julia Fullerton Batten itu tak ada yang berasal dari Indonesia. Tapi dalam hal kebuasan politik dan kekuasaan, orang kita tak perlu tinggal bersama hewan untuk meniru kebuasan hewan. Bantai Bro.

fabel - Koran Riau 12 Januari 2016
Tulisan ini sudah di baca 657 kali
sejak tanggal 12-01-2016

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat