drh. Chaidir, MM | Kokok Ayam Jantan | TANPA kokok ayam jantan sekalipun fajar mentari 2016 tak akan terbendung, dia akan tetap menyinari bumi tanpa pandang bulu. Dengan kata lain,  matahari satu Januari sebagai pertanda kedatangan tahun baru Masehi 2016, dengan atau tanpa kokok ayam jantan pasti akan terbit, tak peduli apa kata dunia, a
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kokok Ayam Jantan

Oleh : drh.chaidir, MM

TANPA kokok ayam jantan sekalipun fajar mentari 2016 tak akan terbendung, dia akan tetap menyinari bumi tanpa pandang bulu. Dengan kata lain, matahari satu Januari sebagai pertanda kedatangan tahun baru Masehi 2016, dengan atau tanpa kokok ayam jantan pasti akan terbit, tak peduli apa kata dunia, apa kehendak zaman. Biar "mama minta pulsa" sudah dibekuk habis, atau "papa minta saham" mundur dari singgasananya di bulan nun di sana, atau tertangkapnya beberapa orang yang diduga teroris, tak ada pengaruhnya sama sekali. Sampai sehari sebelum dunia kiamat, roda waktu tetap berputar.
"Kalau begitu tidak benar matahari terbangun dari peraduannya setelah mendengar kokok kita ya Mbah", seekor ayam jantan muda membuka keheningan. Ucapan tersebut jelas didengar oleh seekor ayam jantan tua, yang dipanggil sebagai Mbah Dokter, dan memang ditujukan kepada si Mbah.
"Itu kepercayaan lama", ujar si Mbah tenang.
"Dongeng kalau begitu?"
"Bukan dongeng, tapi memang kepercayaan lama. Dulu, orang-orang lama menganggap matahari terbangun oleh kokok ayam jantan, padahal tidak. Sama seperti dulu ketika ada yang menganggap sebuah kampung memiliki sebuah bulan. Atau ketika dianggap mataharilah yang mengelilingi bumi; matahari berangkat pagi-pagi sekali, naik sepenggalah, ke atas ubun-ubun, condong, kemudian tenggelam; ternyata matahari itu tatp, bumi yang berjalan. "
"Oh seperti yang dibantah oleh filsuf Copernicus itu?"
"Naaah..kamu koq tahu Copernicus segala?" Kata si Mbah tersenyum.
"Pernah baca Mbah."
"Trus?"
"Copernicus dihukum gantung oleh masyarakatnya yang bodoh karena menganggap apa yang disebut Copernicus bahwa bumilah yang mengelilingi matahari, bukan sebaliknya, sebagai ajaran sesat. Masyarakat marah."
"Lantas?" Si Mbah menguji.
"Lantas berapa ratus tahun kemudian terbukti, Copernicus benar." Ayam jantan muda kemudian melanjutkan, "kembali ke pokok persoalan, kenapa ayam jantan berkokok dini hari mendahului terbitnya fajar?" Tanyanya, kepo.
Mbah dokter pun bercerita bahwa bangsa mereka diberi anugerah oleh Yang Maha Pencipta sebuah kebiasaan unik. Ayam jantan gemar berkokok, terutama pada pagi hari, bahkan dimulai ketika masih dini hari. Kokok bagi bangsa ayam memiliki berbagai bermakna, bisa sebagai tanda pengawasan teritorial atau daerah jajahan, bisa pula juga untuk menunjukkan eksistensi. Kokok adalah cara bangsa ayam berkomunikasi interpersonal satu dengan lainnya.
Kebiasaan ayam jantan berkokok membangunkan tuannya di tengah subuh yang masih gelap gulita, dianggap sebagai kebiasaan naluriah, bahwa ayam pun beribadah. Kebiasaan ayam jantan berkokok di pagi hari juga dilaksanakan dengan disiplin yang tinggi, tepat waktu dan tepat hirarki. Ayam jantan seniorlah yang boleh berkokok pertama, diikuti ayam-ayam jantan berikutnya dalam satu kandang berdasarkan senioritas. Kenapa ayam jantan paling senior yang boleh berkokok pertama?
Sebab, ayam jantan paling seniorlah yang memiliki otoritas dalam kelompoknya boleh mengumumkan datangnya hari esok. Yang kalah senior harus patuh dan hormat. Undang-undang ayam jantan berkokok tersebut tidak bisa dibantah dan tidak bisa dilakukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi.
Bagi Mbah dokter perilaku ayam itu sebuah misteri. Dia hanya tahu, itu ciptaan Tuhan, habis perkara. Dia belum tahu bahwa misteri itu telah dijawab oleh Takashi Yoshimura dari Institute of Transformative Molecules Nagoya University, yang melakukan penelitian bahwa ayam jantan akan berkokok sesuai dengan hirarki dalam kawanannya.
Ayam jantan muda bangga sekali dengan bangsanya, semangat kebangsaannya bangkit. Kokok ayam jantan memang tidak bisa membangunkan matahari dari peraduannya, tapi kokok ayam jantang memproklamirkan datangnya hari esok. Hebat.


fabel - Koran Riau 29 Desember 2015
Tulisan ini sudah di baca 423 kali
sejak tanggal 29-12-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat