drh. Chaidir, MM | Mengajar Kambing Mengaum | KISAH apapun bisa terjadi dalam dongeng. Cerita kancil menipu buaya, atau ayam jantan dan rubah, musang berbulu ayam, atau kisah burung gagak melukis dengan indah bulu burung kuau, dan lain-lain adalah dongeng. Dongeng sering digunakan sebagai pengantar tidur anak-anak sekaligus membisikkan pesan-pe
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mengajar Kambing Mengaum

Oleh : drh.chaidir, MM

KISAH apapun bisa terjadi dalam dongeng. Cerita kancil menipu buaya, atau ayam jantan dan rubah, musang berbulu ayam, atau kisah burung gagak melukis dengan indah bulu burung kuau, dan lain-lain adalah dongeng. Dongeng sering digunakan sebagai pengantar tidur anak-anak sekaligus membisikkan pesan-pesan moral kepada sang anak. Dalam dongeng, binatang-binatang tersebut dilukiskan pandai bicara dan pintar berpikir layaknya manusia. Binatang dikisahkan berperilaku seperti manusia, ada yang bodoh, dungu, ada yang pintar, ada yang jujur, ada yang bijak dan ada pula yang licik dan penipu. Si bodoh sering ditipu si pintar, maka jangan jadi bodoh. Si jujur sering dikerjain oleh si licik, tapi pada akhirnya pasti si licik menerima karma sebagai balasannya.
Tapi dongeng juga bisa sebagai perumpamaan atau sindiran terhadap perilaku manusia. Kepemimpinan singa dan kambing misalnya, adalah sebuah metafora tentang kepemimpinan. Alkisah, segerombolan singa dipimpin oleh seekor kambing (impossible kan, tapi dalam dongeng sah-sah saja). Maka yang terjadi kemudian, semua singa dalam kerumunan tersebut menjadi lemah lembut dan mengembik seperti kambing. Singa-singa inipun belajar makan dedaunan, sesuatu yang tak pernah mereka lakukan sejak dunia terkembang. Singa-singa ini pun menjadi penakut seperti kambing ketika berhadapan dengan serigala.
Dalam kisah lain, segerombolan kambing dipimpin oleh seekor singa, maka semua kambing dalam kerumunan tersebut menjadi kuat dan gagah perkasa, dan mereka mengaum seperti singa. Biasalah, paternalistis. Perilaku pemimpin diikuti oleh anak buah. Kambing-kambing ini pun tidak lagi makan dedaunan, tapi makan daging. Kambing-kambing ini menjadi agresif seperrti singa. Maka Prof Rhenald Kasali, seorang pakar dan dosen manajemen UI membuat ungkapan menarik, "Seratus kambing yang dipimpin oleh seekor singa akan jauh lebih berbahaya daripada seratus singa yang dipimpin oleh seekor kambing". Almaaak.. Tapi ungkapan ini menjadi sensasional terutama bila diasosia
Padahal dalam kehidupan nyata, singa-singa ini adalah binatang buas gagah perkasa tak pilih tanding dan pemakan daging. Singa adalah predator (pemangsa), kambing adalah mangsa. Maka, tidak ada ceritanya seekor kambing memimpin kerumunan singa. Seribu ekor kambing pun tak akan mampu mengendalikan seekor singa. Kambing tersebut segagah apapun dia, walau seekor bandot yang bertanduk panjang sekali pun, sang bandot akan langsung ketakutan dan dengan mudah akan dimangsa oleh singa. Sebentar saja sang kambing akan dicabik-cabik, tak akan pernah ada kesempatan bagi sang bandot mengajari singa mengembik. Jangan bermimpi. Kambing tetaplah kambing, paling jadi Raja Kambing.
Vice versa (sebaliknya), kalau misalnya seribu kambing dipimpin oleh seekor singa, maka mungkin beberapa ekor sehari anggota kelompok kambing tersebut akan hilang satu persatu dimangsa sang boss; hilang siang atau hilang malam sama saja. Pagar makan tanaman sungguh-sungguh akan jadi kenyataan, tak hanya dalam kiasan. Singa akan kegemukan karena setiap hari memangsa kambing anak buahnya. Singa tak perlu mengajari kerumunan kambing tersebut mengaum. Untuk apa? Tak ada urgensinya kambing diajari mengaum, lagi pula kambing tak akan pernah bisa mengaum, mereka hanya mengembik. Kambing tak secerdas singa.
Ungkapan Prof Rhenald Kasali tersebut tentu menjadi sensasional terutama bila diasosiakan dalam gegap gempita pilkada serentak memilih kepala daerah tanggal 9 Desember 2015 beberapa hari lalu. Ada beberapa skenario perumpamaan. Pertama, adakah kepala daerah yang terpilih termasuk dalam kelompok singa atau kambing? Kedua, bagaimana pula kelompok masyarakat yang harus dipimpin oleh pemimpin itu, apakah mereka kerumunan singa atau kerumunan kambing?
Dari perumpamaan tersebut tentu ada empat variable. Pertama, masyarakatnya kambing pemimpinnya Raja Kambing; kedua, masyarakatnya kambing pemimpinnya Raja Singa; ketiga, masyarakatnya singa pemimpinnya Raja Kambing; keempat, masyarakatnya singa pemimpinnya Raja Singa. Hasil pilkada serentak sudah kita lihat. Perumpamaan manakah yang lebih mendekati? Kicuh.
Adakah pemimpin singa dan pemimpin kambing di luar dunia dongeng?
Kalau dongengnya dibikin lebih sensasional ala HC Andersen yang terjadi :
Kambing dipimpin Raja Kambing
Singa ya dipimpin Raja Singa

fabel - Koran Riau 15 Desember 2015
Tulisan ini sudah di baca 722 kali
sejak tanggal 15-12-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat