drh. Chaidir, MM | Kepemimpin Kambing | KAMBING adalah hewan ternak yang berguna bagi manusia. Daging dan susunya dikonsumsi oleh manusia, kotorannya dijadikan pula pupuk tanaman. Di zaman kenabian dulu kala, jumlah ternak kambing yang dimiliki seseorang menjadi simbol status sosial ekonomi. Semakin banyak ternak kambingnya semakin orang
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kepemimpin Kambing

Oleh : drh.chaidir, MM

KAMBING adalah hewan ternak yang berguna bagi manusia. Daging dan susunya dikonsumsi oleh manusia, kotorannya dijadikan pula pupuk tanaman. Di zaman kenabian dulu kala, jumlah ternak kambing yang dimiliki seseorang menjadi simbol status sosial ekonomi. Semakin banyak ternak kambingnya semakin orang tersebut dihormati sebagai saudagar kambing.
Tapi ternak kambing ternyata mengirim pesan kepemimpinan; bahwa kerumunan kambing yang sedang mencari makan dipimpin oleh seekor kambing betina tertua, itu satu hal menarik, tapi yang lebih menarik lagi, bahwa ternak kambing ternyata akrab dengan kehidupan para nabi kita, terutama ketika para nabi tersebut tanpa diduga dan disadari, sedang menjalani "ujian" kesabaran dalam kehidupan biasa seperti orang lain pada umumnya sebelum dibisiki wahyu oleh Yang Maha Kuasa. Bahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, disebut, "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali telah menggembalakan kambing."
Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW, semua menggembala kambing ketika mereka masih muda belia dan belum berpredikat sebagai seorang Nabi. Bahkan Nabi Muhammad sudah menggembalakan kambing ketika usianya delapan tahun, di pedalaman Bani Saad. Nabi Muhammad juga pernah menggembalakan kambing milik seorang saudagar kaya di Mekkah.
Gerangan apa yang terjadi dengan kambing? Mengapa kepemimpinan nabi justru dikaitkan dengan kambing? Kenapa tidak dikaitkan dengan singa saja atau hewan padang pasir yang keras dan kasar, yaitu onta? Bukankah seseorang yang mampu menernakkan singa pasti diakui memiliki keberanian yang super sekali? Sebab menernakkan singa tentu membutuhkan keberanian yang dahsyat, membutuhkan stock berliter-liter hormone adrenalin yang setiap kali muncrat di ubun-ubun. Bukankah kehidupan padang pasir itu keras sehingga siapa yang berhasil menernakkan onta, mereka akan sukses memimpin sebuah organisasi yang suasananya keras tak bersahabat?
Ternak kambing ternyata memberi jawaban sederhana terhadap konsep kepemimpinan. Tak perlu logika seorang professor untuk memahami hubungan dialektika kambing dan kepemimpinan. Kambing adalah binatang ternak yang paling lemah ketika dihadapkan dengan binatang buas predator pemangsa atau dihadapkan dengan orang yang ingin menangkapnya. Kambing tidak punya sistem pertahanan yang baik. Tak ada senjata andalan untuk melumpuhkan musuh. Badannya tidak besar, tidak kokoh dan tak pula lincah. Tanduknya tidak runcing menakutkan. Keempat kakinya tidak berotot kuat. Kambing tidak punya kemampuan berlari kencang untuk menyelamatkan diri. Predator akan dengan mudah memangsanya.
Tapi kambing ternyata hewan yang "mada" alias bandel dan bodoh, hewan yang tak tahu diri; sudah tahu lemah dan tak bakal berdaya menghadapi serangan predator, kambing tak pula mudah diatur oleh penggembalanya. Mereka suka berjalan ke sana ke mari sesuka hatinya, hilir mudik, tak henti-henti, tak kenal lelah. Mereka tak terlalu hirau dengan kawan-kawan anggota dalam kelompoknya sehingga kawanan kambing sering bercerai-berai. Kebiasaan kambing yang sering merusak konsolidasi kelompoknya ini seringkali membahayakan diri mereka sendiri. Karena kambing yang agak terpencil dari kawanannya sering menjadi korban predator atau pencurian.
Tabiat kawanan kambing yang susah diatur, kawanannya yang berberai-berai, dan dihadapkan pula dengan iklim padang pasir yang tak bersahabat, pasti cepat menghilangkan kesabaran orang-orang yang tak sabar. Disinilah para calon nabi itu dilatih kesabarannya. Menjaga ternak yang merasa tidak perlu dijaga, sementara mereka sesungguhnya adalah ternak-ternak lemah yang perlu dijaga.
Menggembala kambing menurut beberapa ulama, pertama adalah melatih kesabaran dan sifat penyayang; kedua, mengajarkan sifat lemah lembut, dan kerendahan hati; ketiga, latihan mengemban amanah mengurusi anggota; keempat, menggembala kambing melatih ketenangan dan ketahanan fisik; kelima mengajarkan keberanian, mengatur dan mengendalikan urusan.
Kambing memang hewan yang lemah tak berdaya dan sering pula bercerai-berai, tapi menggembalakannya menjadi latihan kepemimpinan para nabi. Super sekali.

fabel - Koran Riau 8 Desember 2015
Tulisan ini sudah di baca 444 kali
sejak tanggal 08-12-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat