drh. Chaidir, MM | Sepantun Tupai | KEGADUHAN semakin liar. Desas-desus simpang siur semakin menjadi-jadi. Tak jelas lagi mana fakta dan mana opini, mana ujung mana pangkal, mana yang sunat mana yang wajib, semua capur aduk. Saling hujat saling ancam semakin merisaukan. Sak wasangka merajalela. Kritik dan fitnah talu bertalu. Pemimpin
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sepantun Tupai

Oleh : drh.chaidir, MM

KEGADUHAN semakin liar. Desas-desus simpang siur semakin menjadi-jadi. Tak jelas lagi mana fakta dan mana opini, mana ujung mana pangkal, mana yang sunat mana yang wajib, semua capur aduk. Saling hujat saling ancam semakin merisaukan. Sak wasangka merajalela. Kritik dan fitnah talu bertalu. Pemimpin baik saja dicurigai, apatah lagi dengan mega kasus seperti yang terjadi sekarang. Kepercayaan semakin runtuh kepada pemimpin. Pemimpin itu tongkat jangan pula tongkat membawa rubuh. Pemimpin itu pagar tanaman, tugasnya menjaga tanaman, jangan pula pagar makan tanaman.
Kini, siapa yang benar atau siapa yang salah, kian hari semakin antara ada dan tiada. Semakin diperjelas duduk masalahnya, semakin kabur. Masalah dan akar masalah semakin berkait kelindan. Siapa yang menjadi biang permasalahan ini sebenarnya? Semakin diidentifikasi wujud makhluknya, semakin tak berbentuk, bahkan semakin menakutkan. Informasi maju-mundur maju-maju mundur seperti lirik lagu Syahrini sering terdengar; sejam lalu yang bersangkutan terdengar mundur, tapi rupanya segera diralat. Istilah buka-tutup buka-tutup yang dipopulerkan oleh pemuda-pemuda kampung karena adanya pekerjaan pembangunan betonisasi jalan dipakai pula untuk urusan-urusan lain.
Istilah copot mencopot juga menjadi bahan tertawaan di kalangan anak-anak muda setelah sepasang kerbau ketahuan kumpul kebo karena mereka lupa mematikan HP pintarnya sehingga posisinya tersadap. Sekarang hampir semua kegiatan kumpul-kumpul dalam masyarakat tersebut dipersyaratkan, tidak hanya mematikan HP bahkan juga harus mencopot baterai HP. Bahkan ada usul supaya baterai yang sudah dicopot itu dikumpulkan dan semuanya dibuang ke comberan. Alasannya, supaya sekurang-kurangnya setengah jam setelah pertemuan para peserta pertemuan tak bisa saling berkomunikasi sampai mereka menemukan toko penjual baterai.
Itu semua dimaksudkan agar terhindar dari sadapan masyarakat cicak yang bisa menempel terbalik di loteng ruang pertemuan tanpa disadari. Maka sekarang menjadi kebiasaan baru, sebelum rapat dimulai, bukannya menundukkan kepala menghening cipta, tapi sejenak bersama-sama menengadahkan kepala sambil memelototi loteng, mana tahu ada cicak yang sudah menempel terbalik di sana.
Semua mendadak mengidap penyakit paranoid. Seekor pemuda kelinci yang sedari awal terlihat gelisah, akhirnya memberanikan diri mengajukan protes, dia interupsi.
"Menurutku, itu berlebihan pimpinan, tolol sekali kita, bukankah HP mati tak bisa merekam atau menyadap, kenapa harus copot baterai?" Ujarnya gusar.
"Diam!" Singa sang pemimpin rapat membentak. "Pokoknya copot, habis perkara."
Rapat itu sebenarnya ingin membahas sebuah masalah yang sangat serius, yang akhir-akhir ini menimbulkan kegaduhan di kalangan masyarakat binatang itu. Banyak kejadian-kejadian aneh yang sejak zaman nenek moyang mereka belum pernah terjadi, sekarang terjadi. Aneh bin ajaib. Apa yang mereka takutkan, seperti sering disindir oleh masyarakat manusia nun di sana, sekarang jadi kenyataan. "Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh ke tanah jua." Tupai piawai melompat, mereka tak pernah jatuh, itu sudah kodrat mereka. Yang mempersepsikan tupai itu sekali-sekali jatuh adalah bangsa manusia. Bangsa manusialah yang memandai-mandai bermain-main dengan persepsinya. Tapi sekarang tupai itu sering terjerembab, gagal lompat, sehingga konon menjadi bahan tertawaan di kalangan bangsa manusia. Hipotesis mereka benar, sepandai-pandai tupai melompat sekali-sekali jatuh kan?
Ini mega kasus, apalagi ada itik yang tak lagi mampu berenang. Bukankah ada pepatah, jangan mengajari itik berenang? Sekarang pepatah itu terpatahkan. Ada apa ini sebenarnya? Rapat bangsa binatang itu ingin menjawab beberapa fenomena. Mereka tidak mau ajaran nenek moyang mereka yang sudah menjadi nilai-nilai luhur bangsa binatang ternoda sehingga menjadi bahan tertawaan bangsa manusia.
Usut punya usut, diusut-usut, semua tragedi itu bermula ketika bangsa binatang harus ikut sekolah wajib bangsa binatang. Binatang-binatang mendirikan sekolah dan membuat kurikulum yang meliputi pelajaran berenang, terbang, berlari, dan memanjat. Diputuskan bahwa semua binatang harus mengambil mata pelajaran tersebut dan harus lulus setiap mata pelajaran. Latihan Spartan itulah yang menyebabkan kemampuan melompat tupai rusak karena harus belajar terbang. Itik pula, robek selaput kakinya karena terpaksa latihan berat lari cepat di darat.
Kesimpulan rapat, binatang harus tetap jadi binatang tak usah mencoba-coba jadi manusia. Biarlah manusia saja yang meniru-niru tupai, sepandai-pandainya manusia tupai itu melompat dia pasti jatuh ke tanah jua. Biar manusia yang bilang dia sepantun tupai, padahal tupai saja tak begitu. Singa sang pemimpin mengetok palu menutup rapat. Tok tok tok.

fabel - Koran Riau 24 November 2015
Tulisan ini sudah di baca 266 kali
sejak tanggal 24-11-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat